Myaluzz's Blog

Just another WordPress.com weblog

sistem reproduksi vertebrata (betina) September 12, 2012

Filed under: sains — mya @ 1:39 am

SISTEM REPRODUKSI

 

            Sistem reproduksi pada hewan vertebrata terbagi menjadi 3, yaitu: Ovipar ( bertelur ), ovovivipar ( bertelur melahirkan ), dan vivipar ( melahirkan ). Sedangkan cara fertilisasinya terbagi menjadi 2, yaitu: fertilisasi internal ( fertilisasi yang terjadi dalam tubuh hewan betina ) dan fertilisasi eksternal ( fertilisasi yang terjadi di luar tubuh ). Fertilisasi eksternal adalah penyatuan sperma dan ovum di luar tubuh hewan betina, yakni berlangsung dalam suatu media cair, misalnya air. Contohnya pada ikan (pisces) dan amfibi (katak). Sedangkan fertilisasi internal merupakan penyatuan sperma dan ovum yang terjadi di dalam tubuh hewan betina. Hal ini dapat terjadi karena adanya peristiwa kopulasi, yaitu masuknya alat kelamin jantan ke dalam alat kelamin betina. Fertilisasi internal terjadi pada hewan yang hidup di darat (terestrial), misalnya hewan dari kelompok reptil, aves dan Mamalia.

Hewan yang berkembangbiak dengan cara Ovipar (Bertelur), setelah sel gamet jantan dan betina melakukan fertilisasi, embrio akan berkembang dalam telur dan dilindungi oleh cangkang. Embrio mendapat makanan dari cadangan makanan yang ada di dalam telur. Telur dikeluarkan dari tubuh induk betina lalu dierami hingga menetas menjadi anak. Ovipar terjadi pada ikan, burung dan beberapa jenis reptil.

Hewan yang berkembangbiak dengan cara Vivipar (Beranak), setelah sel telur dan sel sperma melakukan fertilisasi, embrio berkembang dan mendapatkan makanan dari dalam uterus (rahim) induk betina. Setelah anak siap untuk dilahirkan, anak akan dikeluarkan melewati vagina induk betinanya. Contoh hewan vivipar adalah kelompok mamalia (hewan yang menyusui), misalnya kelinci dan kucing.

Sedangkan hewan yang berkembnagbiak dengan cara Ovovivipar (Bertelur dan Beranak), setelah sel telur dan sel sperma melakukan fertilisasi
embrio akan berkembang di dalam telur, tetapi telur tersebut masih tersimpan di dalam tubuh induk betina. Embrio mendapat makanan dari cadangan makanan yang berada di dalam telur. Setelah cukup umur, telur akan pecah di dalam tubuh induknya dan anak akan keluar dari vagina induk betinanya. Contoh hewan ovovivipar adalah kelompok reptil (kadal), beberapa jenis ikan pari, dan beberapa jenis ikan hiu.

SISTEM REPRODUKSI BETINA

 

A. Sistem Reproduksi Pisces

Pada umumnya, ikan merupakan hewan yang berkembangbiak dengan cara ovipar ( bertelur ), namun ada beberapa golongan ikan yang berkembangbiak dengan cara ovovivipar ( bertelur melahirkan ) dan vivipar ( melahirkan ). Ikan terbagi menjadi dua, ada ikan bertulang rawan ( Chondrichthyes ) dan ada ikan yang bertulang sejati. Ikan bertulang rawan, misalnya Hiu ( Charcharias sp. ) dan pari pada umumnya berkembangbiak dengan cara vivipar dan ovovivipar walaupun ada sebagian dari golongan ikan tersebut yang berkembangbiak dengan cara ovipar. Sedangkan ikan bertulang sejati, misalnya ikan mas berkembangbiak dengan cara bertelur. Begitu juga dengan cara pembuahannya, ikan bertulang rawan pada umumnya melakukan pembuahan secara internal, yaitu pembuahan yang terjadi di dalam tubuh, tepatnya di uterus hewan betina. Sedangkan ikan bertulang sejati, pembuahannya dilakukan secara eksternal atau di luar tubuh, jadi betina mengeluarkan sel telurnya dan jantan mengeluarkan sel spermanya yang kemudian sel sperma tersebut membuahi sel telur di lingkungan luar, bukan dalam uterus hewan betina.

  • Organ Reproduksi Ikan

Organ reproduksi pada ikan terbagi menjadi 2. Yaitu:

  1. Alat kelamin luar: Kloaka ( lubang pengeluaran sel telur )
  2. Alat kelamin dalam: Oviduk, ovarium.

Ovarium merupakan tempat dihasilkannya sel telur ( ovum ), Berbentuk longitudinal, letaknya internal dan berjumlah sepasang.

Tergantung pd bagian atas rongga tubuh dgn perantaraan mesovaria di

bawah atau di samping gelembung gas (jika ada). Ukuran dan perkembangannya dlm rongga tubuh bervariasi dgn tingkat kematangannya. Dalam keadaan matang gonad, ovarium dpt mencapai 70% dr berat tubuhnya.

Warna: keputih-putihan pd waktu muda dan menjadi kekuningan pd waktu

Matang. Pada ikan terdiri dari banyak telur. Setiap jenis ikan memiliki ukuran telur sendiri, ada yang besar dan ada yang kecil. Ukuran telur akan menentukan jumlah telur yang dimiliki oleh seekor induk. Ikan yang memiliki ukuran telur besar contohnya ikan Nila dan Arwana, akan memiliki jumlah telur yang lebih sedikit disbanding dengan ikan yang ukuran telurnya kecil seperti ikan Cupang dan Mas. Hal ini disebabkan oleh kapasitas yang dimiliki si induk untuk menampung telur. Ukuran telur ikan banyak ditentukan oleh ukuran kuning telurnya. Makin besar kuning telur makin besar pula peluang embrio untuk bertahan hidup. Sedangkan oviduk merupakan saluran pengeluaran sel-sel telur yang akan bermuara pada kloaka.

 

  • Cara Ikan Bereproduksi

Pada ikan yang pembuahannya secara eksternal, ikan betina tidak mengeluarkan telur yang bercangkang, namun mengeluarkan ovum yang tidak akan berkembang lebih lanjut apabila tidak dibuahi oleh sperma. Ovum tersebut dikeluarkan dari ovarium melalui oviduk dan dikeluarkan melalui kloaka. Saat akan bertelur, ikan betina mencari tempat yang rimbun oleh tumbuhan air atau diantara bebatuan di dalam air.

Bersamaan dengan itu, ikan jantan juga mengeluarkan sperma dar testis yang disalurkan melalui saluran urogenital (saluran kemih sekaligus saluran sperma) dan keluar melalui kloaka, sehingga terjadifertilisasi di dalam air (fertilisasi eksternal). Peristiwa ini terus berlangsung sampai ratusan ovum yang dibuahi melekat pada tumbuhan air atau pada celah-celah batu.
Telur-telur yang telah dibuahi tampak seperti bulatan-bulatan kecil berwarna putih. Telur-telur ini akan menetas dalam waktu 24 – 40 jam.

Anak ikan yang baru menetas akan mendapat makanan pertamanya dari sisa kuning telurnya, yang tampak seperti gumpalan di dalam perutnya yang masih jernih. Dari sedemikian banyaknya anak ikan, hanya beberapa saja yang dapat bertahan hidup.

Sedangkan pada ikan yang pembuahannya secara internal, seperti hiu dan pari. Sel telur tetap dihasilkan oleh ovarium kemudian menuju oviduk untuk dibuahi dan selanjutnya akan melekat pada uterus hewan betina.

  • Perkembangan Ikan

Awal perkembangan dimulai saat pembuahan (fertilisasi) sebuah sel telur oleh sel sperma yg membentuk zygot (sigot). Gametogenesis merupakan fase akhir perkembangan individu dan persiapan utk generasi berikutnya. Proses perkembangan yg berlangsung dari gametogenesis sampai dgn membentuk sigot disebut progenesis. Proses selanjutnya disebut embriogenesis (blastogene) yang mencakup pembelahan sel sigot (cleavage), blastulasi, gastrulasi, dan neurulasi. Proses selanjutnya adalah organogenesis , yaitu pembentukan alat-alat (organ) tubuh. Embriologi mencakup proses perkembangan setelah fertilisasi sampai dengan organogenesis sebelum menetas atau lahir Urutan periode perkembangan ikan

Embrio dini (early embrionic):

dimulai saat pembuahan telur oleh sperma dan berakhir saat organ-organ

terbentuk

Embrio transisi (larva):

mencakup transformasi sistem organ dan bentuk badan embrio dini menjadi mirip seperti yang dewasa.Bentuk tetap (definitif) terbentuk pada akhir atau menjelang akhir fase tersebut. Selama fase ini terbentuk 2 macam larva, yaitu: larva yg hidup bebas dan tdk hidup bebas. Larva hidup bebas mempunyai bagian (alat) pelindung embrio utk hidup di luar.

Pasca embrio:Terdiri dari fase-fase dewasa kelamin dan tua. Pada ikan muda sistem organ reproduksi telah terbentuk.Bentuk badan spt pada ikan dewasa dan memiliki ciri-ciri sekunder saat dewasa seksual dan sudah mampu berpijah

 

B. Sistem Reproduksi Amphibi

Amphibi meliputi katak dan kodok, merupakan hewan yang sistem reproduksinya dilakukan dengan cara ovipar atau bertelur, dengan pembuahan yang dilakukan secara eksternal atau di luar tubuh, artinya penyatuan gamet jantan dan gamet betina terjadi di luar tubuh. Pada pembuahan eksternal biasanya dibentuk ovum dalam jumlah besar, karena kemungkinan terjadinya fertilisasi lebih kecil dari pada pembuahan secara internal.

Pada katak betina menghasilkan ovum yang banyak, kalau kita membedah katak betina yang sedang bertelur, kita akan menjumpai bentukan berwarna hitam yang hampir memenuhi rongga perutnya, itu merupakan ovarium yang penuh berisi sel telur, jumlahnya mencapai ribuan.
Pada katak betina juga ditemukan semacam lekukan pada bagian leher, yang berfungsi sebagai tempat ”pegangan” bagi katak jantan ketika mengadakan fertilisasi. Hal ini diimbangi oleh katak jantan dengan adanya struktur khusus pada kaki depannya, yaitu berupan telapak yang lebih kasar. Fungsinya untuk memegang erat katak betina ketika terjadi fertilisasi.

  • Organ Reproduksi Katak

Organ reproduksi katak terbagi atas alat kelamin luar dan alat kelamin dalam, alat kelamin luarnya kloaka sedangkan alat kelamin dalamnya adalah oviduk dan ovarium yang fungsinya sama seperti oviduk dan ovarium yang terdapat pada ikan.

 

 

  • Cara katak bereproduksi

Kodok dan katak mengawali hidupnya sebagai telur yang diletakkan induknya di air, di sarang busa, atau di tempat-tempat basah lainnya. Beberapa jenis kodok pegunungan menyimpan telurnya di antara lumut-lumut yang basah di pepohonan. Sementara jenis kodok hutan yang lain menitipkan telurnya di punggung kodok jantan yang lembab, yang akan selalu menjaga dan membawanya hingga menetas bahkan hingga menjadi kodok kecil.Sekali bertelur katak bisa menghasilkan 5000-20000 telur, tergantung dari kualitas induk dan berlangsung sebanyak tiga kali dalam setahun.

Telur-telur kodok dan katak menetas menjadi berudu atau kecebong yang bertubuh mirip ikan gendut, bernafas dengan insang dan selama beberapa lama hidup di air. Perlahan-lahan akan tumbuh kaki belakang, yang kemudian diikuti dengan tumbuhnya kaki depan, menghilangnya ekor dan bergantinya insang dengan paru-paru. Setelah masanya, berudu ini akan melompat ke darat sebagai kodok atau katak kecil.

Kodok dan katak kawin pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada saat bulan mati atau pada ketika menjelang hujan. Pada saat itu kodok-kodok jantan akan berbunyi-bunyi untuk memanggil betinanya, dari tepian atau tengah perairan. Beberapa jenisnya, seperti kodok tegalan (Fejervarya limnocharis) dan kintel lekat alias belentung (Kaloula baleata), kerap membentuk ‘grup nyanyi’, di mana beberapa hewan jantan berkumpul berdekatan dan berbunyi bersahut-sahutan. Suara keras kodok dihasilkan oleh kantung suara yang terletak di sekitar lehernya, yang akan menggembung besar manakala digunakan.

Pembuahan pada kodok dilakukan di luar tubuh. Kodok jantan akan melekat di punggung betinanya dan memeluk erat ketiak si betina dari belakang. Sambil berenang di air, kaki belakang kodok jantan akan memijat perut kodok betina dan merangsang pengeluaran telur. Pada saat yang bersamaan kodok jantan akan melepaskan spermanya ke air, sehingga bisa membuahi telur-telur yang dikeluarkan si betina.

                 Pada saat bereproduksi katak dewasa akan mencari lingkungan yang berair. Disana mereka meletakkan telurnya untuk dibuahi secara eksternal. Telur tersebut berkembang menjadi larva dan mencari nutrisi yang dibutuhkan dari lingkungannya, kemudian berkembang menjadi dewasa dengan bentuk tubuh yang memungkinkannya hidup di darat, sebuah proses yang dikenal dengan metamorfosis. Tidak seperti telur reptil dan burung, telur katak tidak memiliki cangkang dan selaput embrio. Sebaliknya telur katak hanya dilindungi oleh kapsul mukoid yang sangat permeabel sehingga telur katak harus berkembang di lingkungan yang sangat lembab atau berair.

  • Metamorfosis Katak

Pada awalnya, katak betina dewasa akan bertelur, kemudian telur tersebut akan menetas setelah 10 hari. Setelah menetas, telur katak tersebut menetas menjadi Berudu.berudu hidup di air Setelah berumur 2 hari, Berudu mempunyai insang luar yang berbulu untuk bernapas. Setelah berumur 3 minggu insang berudu akan tertutup oleh kulit. Menjelang umur 8 minggu, kaki belakang berudu akan terbentuk kemudian membesar ketika kaki depan mulai muncul. Umur 12 minggu, kaki depannya mulai berbentuk,ingsang tak berfungsi lagi ekornya menjadi pendek serta bernapas dengan paru-paru.maka bentuk dari muka akan lebih jelas Setelah pertumbuhan anggota badannya sempurna, katak tersebut akan berubah menjadi katak dewasa dan kmbali berkembang biak.

Ada beberapa hal yang berbeda dari daur amfibi pada umumnya. Beberapa spesies salamander tidak perlu bermetamorfosis untuk menjadi dewasa sepenuhnya secara seksual, dan hanya akan bermetamorfosis dalam tekanan kondisi lingkungan tertentu. Banyak spesies kodok tropis meletakkan telurnya di darat, di mana kecebong bermetamorfosis di dalam telur. Ketika mereka menetas, mereka menjadi dewasa yang belum benar-benar matang, kadang-kadang masih memiliki ekor yang dalam beberapa hari kemudian diserap kembali.

 

C. Sistem Reproduksi Reptil

     Pada umumnya reptil merupakan hewan yang berkembangbiak dengan cara ovipar, namun beberapa golongan reptil seperti ular ada yang berkembangbiak dengan cara ovovivipar, tidak seperti melahirkan pada umumnya, ular tetap bertelur namun telur tersebut menetas si rahim kemudian berkembang baru setelah itu dilahirkan. Namun, reptil seperti golongan buaya, berkembangbiak dengan cara ovipar ( bertelur ). Fertilisasi hewan reptil dilakukan secara internal. Ovum yang dihasilkan oleh ovarium akan menuju oviduk untuk dibuahi sel sperma dari hewan jantan.

 

  • Organ Reproduksi
  1. Ovarium berjumlah sepasang, berbentuk oval dengan bagian permukaannya benjol-benjol. Letaknya tepat di bagian ventral kolumna vertebralis.
  2. Saluran reproduksi, oviduk panjang dan bergelung. Bagian anterior terbuka ke rongga selom sebagai ostium, sedang bagian posterior bermuara di kloaka. Dinding bersifat glanduler, bagian anterior menghasilkan albumin yang berfungsi untuk membungkus sel telur, kecuali pada ular dan kadal. Bagian posterior sebagai shell gland akan menghasilkan cangkang kapur.

 

  • Cara reptil bereproduksi

Kelompok reptil seperti kadal, ular dan kura-kura merupakan hewan-hewan yang fertilisasinya terjadi di dalam tubuh (fertilisasi internal). Umumnya reptil bersifat ovipar, namun ada juga reptil yang bersifat ovovivipar, seperti ular garter dan kadal. Telur ular garter atau kadal akan menetas di dalam tubuh induk betinanya. Namun makanannya diperoleh dari cadangan makanan yang ada dalam telur. Reptil betina menghasilkan ovum di dalam ovarium. Ovum kemudian bergerak di sepanjang oviduk menuju kloaka. Reptil jantan menghasilkan sperma di dalam testis. Sperma bergerak di sepanjang saluran yang langsung berhubungan dengan testis, yaitu epididimis. Dari epididimis sperma bergerak menuju vas deferens dan berakhir di hemipenis. Hemipenis merupakan dua penis yang dihubungkan oleh satu testis yang dapat dibolak-balik seperti jari-jari pada sarung tangan karet. Pada saat kelompok hewan reptil mengadakan kopulasi, hanya satu hemipenis saja yang dimasukkan ke dalam saluran kelamin betina.

Ovum reptil betina yang telah dibuahi sperma akan melalui oviduk dan pada saat melalui oviduk, ovum yang telah dibuahi akan dikelilingi oleh cangkang yang tahan air. Hal ini akan mengatasi persoalan setelah telur diletakkan dalam lingkungan basah. Pada kebanyakan jenis reptil, telur ditanam dalam tempat yang hangat dan ditinggalkan oleh induknya. Dalam telur terdapat persediaan kuning telur yang berlimpah.
Hewan reptil seperti kadal, iguana laut, beberapa ular dan kura-kura serta berbagai jenis buaya melewatkan sebagian besar hidupnya di dalam air. Namun mereka akan kembali ke daratan ketika meletakkan telurnya.

D. Sistem Reproduksi Aves

Kelompok burung merupakan hewan ovipar. Walaupun kelompok burung jantan tidak memiliki alat kelamin luar, fertilisasi tetap terjadi di dalam tubuh. Hal ini dilakukan dengan cara saling menempelkan kloaka.

  1. Sistem Genitalia Betina.
    1. Ovarium. Selain pada burung elang, ovarium aves yang berkembang hanya yang kiri, dan terletak di bagian dorsal rongga abdomen.
    2. Saluran reproduksi, oviduk yang berkembang hanya yang sebelah kiri, bentuknya panjang, bergulung, dilekatkan pada dinding tubuh oleh mesosilfing dan dibagi menjadi beberapa bagian; bagian anterior adalah infundibulumyang punya bagian terbuka yang mengarah ke rongga selom sebagai ostium yang dikelilingi oleh fimbre-fimbre. Di posteriornya adalah magnum yang akan mensekresikan albumin, selanjutnya istmus yang mensekresikan membrane sel telur dalam dan luar. Uterus atau shell gland untuk menghasilkan cangkang kapur.

 

  1. Proses Festilisasi

Pada burung betina hanya ada satu ovarium, yaitu ovarium kiri. Ovarium kanan tidak tumbuh sempurna dan tetap kecil yang disebut rudimenter. Ovarium dilekati oleh suatu corong penerima ovum yang dilanjutkan oleh oviduk. Ujung oviduk membesar menjadi uterus yang bermuara pada kloaka. Pada burung jantan terdapat sepasang testis yang berhimpit dengan ureter dan bermuara di kloaka.

Fertilisasi akan berlangsung di daerah ujung oviduk pada saat sperma masuk ke dalam oviduk. Ovum yang telah dibuahi akan bergerak mendekati kloaka. Saat perjalanan menuju kloaka di daerah oviduk, ovum yang telah dibuahi sperma akan dikelilingi oleh materi cangkang berupa zat kapur.
Telur dapat menetas apabila dierami oleh induknya. Suhu tubuh induk akan membantu pertumbuhan embrio menjadi anak burung. Anak burung menetas dengan memecah kulit telur dengan menggunakan paruhnya. Anak burung yang baru menetas masih tertutup matanya dan belum dapat mencari makan sendiri, serta perlu dibesarkan dalam sarang.

 

E. Sistem Reproduksi Mammalia

Semua mammalia berkembangbiak dengan cara vivipar dan melakukan pembuahan secara internal. Mammalia berasal dari kata mammae yang artinya kelenjar susu. Jadi, semua hewan mammalia memiliki kelenjar susu, kecuali paus dan lumba-lumba

  • Organ Reproduksi Mammalia

Dibedakan menjadi organ kelamin luar dan organ kelamin dalam.

Organ reproduksi luar terdiri dari :

  1. Vagina merupakan saluran yang menghubungkan organ uterus dengan tubuh bagian luar. Berfungsi sebagai organ kopulasi dan saluran persalinan keluarnya bayi sehingga sering disebut dengan liang peranakan. Di dalam vagina ditemukan selaput dara.
  2. Vulva merupakan suatu celah yang terdapat di bagian luar dan terbagi menjadi 2 bagian yaitu :
  • Labium mayor merupakan sepasang bibir besar yang terletak di bagian luas dan membatasi vulva.
  • Labium minor merupakan sepasang bibir kecil yang terletak di bagian dalam dan membatasi vulva

 

 

 

Organ reproduksi dalam terdiri dari :

  1. Ovarium merupakan organ utama pada wanita. Berjumlah sepasang dan terletak di dalam rongga perut pada daerah pinggang sebelah kiri dan kanan. Berfungsi untuk menghasilkan sel ovum dan hormon wanita seperti :
  • Estrogen yang berfungsi untuk mempertahankan sifat sekunder pada wanita, serta juga membantu dalam prosers pematangan sel ovum.
  • Progesterone yang berfungsi dalam memelihara masa kehamilan.
  1. Fimbriae merupakan serabut/silia lembut yang terdapat di bagian pangkal ovarium berdekatan dengan ujung saluran oviduct. Berfungsi untuk menangkap sel ovum yang telah matang yang dikeluarkan oleh ovarium.
  2. Infundibulum merupakan bagian ujung oviduct yang berbentuk corong/membesar dan berdekatan dengan fimbriae. Berfungsi menampung sel ovum yang telah ditangkap oleh fimbriae.
  3. Tuba fallopi merupakan saluran memanjang setelah infundibulum yang bertugas sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan bantuan silia pada dindingnya.
  4. Oviduct merupakan saluran panjang kelanjutan dari tuba fallopi. Berfungsi sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan bantuan silia pada dindingnya.
  5. Uterus merupakan organ yang berongga dan berotot. Berbentuk seperti buah pir dengan bagian bawah yang mengecil. Berfungsi sebagai tempat pertumbuhan embrio. Tipe uterus pada manusia adalah simpleks yaitu dengan satu ruangan yang hanya untuk satu janin. Uterus mempunyai 3 macam lapisan dinding yaitu :
  • Perimetrium yaitu lapisanyang terluar yang berfungsi sebagai pelindung uterus.
  • Miometrium yaitu lapisan yang kaya akan sel otot dan berfungsi untuk kontraksi dan relaksasi uterus dengan melebar dan kembali ke bentuk semula setiap bulannya.
  • Endometrium merupakan lapisan terdalam yang kaya akan sel darah merah. Bila tidak terjadi pembuahanmaka dinding endometrium inilah yang akan meluruh bersamaan dengan sel ovum matang.
  1. Cervix merupakan bagian dasar dari uterus yang bentuknya menyempit sehingga disebut juga sebagai leher rahim. Menghubungkan uterus dengan saluran vagina dan sebagai jalan keluarnya janin dari uterus menuju saluran vagina.
  2. Saluran vagina merupakan saluran lanjutan dari cervic dan sampai pada vagina.
  3. Klitoris merupakan tonjolan kecil yang terletak di depan vulva.
  • Gametogenesis ( Oogenesis )

Oogenesis merupakan proses pembentukan dan perkembangan sel ovum. Proses oogenensis dipengaruhi oleh beberapa hormon yaitu :

  1. Hormon FSH yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan sel-sel folikel sekitar sel ovum.
  2.  Hormon Estrogen yang berfungsi merangsang sekresi hormone LH.
  3. Hormon LH yang berfungsi merangsang terjadinya ovulasi (yaitu proses pematangan sel ovum).
  4. Hormon progesteron yang berfungsi untuk menghambat sekresi FSH dan LH

 

Selama 28 hari sekali sel ovum dikeluarkan oleh ovarium. Sel telur ini telah matang (mengalami peristiwa ovulasi). Selama hidupnya seorang wanita hanya dapat menghasilkan 400 buah sel ovum setelah masa menopause yaitu berhentinya seorang wanita untuk menghasilkan sel ovum yang matang Karena sudah tidak dihasilkannya hormon, sehingga berhentinya siklus menstruasi sekitar usia 45-50 tahun.

       Setelah ovulasi maka sel ovum akan mengalami 2 kemungkinan yaitu :

  1. Tidak terjadi fertilisasi maka sel ovum akan mengalami MENSTRUASI yaitu luruhnya sel ovum matang yang tidak dibuahi bersamaan dengan dinding endometrium yang robek. Terjadi secara periodic/sikus. Mempunyai kisaran waktu tiap siklus sekitar 28-35 hari setiap bulannya.

b.   Terjadi FERTILISASI yaitu peleburan antara sel sperma dengan sel ovum yang telah matang dan menghasilkan zygote. Zygote akan menempel/implantasi pada dinding uterus dan tumbuh berkembang menjadi embrio dan janin. Keadaan demikian disebut dengan masa kehamilan/gestasi/nidasi. Janin akan keluar dari uterus setelah berusia 40 minggu/288 hari/9 bulan 10 hari. Peristiwa ini disebut dengan kelahiran.

 

  • Siklus Reproduksi

Siklus reproduksi adalah perubahan siklus yang terjadi pada sistem reproduksi (ovarium, oviduk, uterus dan vagina) hewan betina dewasa yang tidak hamil, yang memperlihatkan hubungan antara satu dengan yang lainnya.
Siklus reproduksi pada mamalia primata disebut dengan siklus menstruasi, sedangkan siklus reproduksi pada non primata disebut dengan siklus estrus. Siklus estrus ditandai dengan adanya estrus (birahi). Pada saat estrus, hewan betin akan reseftif sebab di dalam ovarium sedang ovulasi dan uterusnya berada pada fase yang tepat untuk implantasi untuk fase berikutnya disebut dengan satu siklus estrus. Panjang siklus estrus pada tikus mencit adalah 4-5 hari, pada babi, sapi dan kuda 21 hari dan pada marmut 15 hari .

Pada mamalia khususnya pada manusia siklus reproduksi yang melibatkan berbagai organ yaitu uterus, ovarium, mame yang berlangsung dalam suatu waktu tertentu atau adanya sinkronisasi, maka hal ini dimungkinkan oleh adanya pengaturan/koordinasi yang disebut dengan hormon (hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin yang langsung dialirkan ke dalam peredaran darah dan mempengaruhi organ target).

  • Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi terdiri dari 4 fase yaitu :

  1. Fase Menstruasi yaitu peristiwa luruhnya sel ovum matang yang tidak dibuahi bersamaan dengan dinding endometrium yang robek. Dapat diakibatkan juga karena berhentinya sekresi hormone estrogen dan progresteron sehingga kandun gan hormon dalam darah menjadi tidak ada.
  2. Fase Proliferasi/fase Folikuler ditandai dengan menurunnya hormon progesteron sehingga memacu kelenjar hipofisis untuk mensekresikan FSH dan merangsang folikel dalam ovarium, serta dapat membuat hormone estrogen diproduksi kembali. Sel folikel berkembang menjadi folikel de Graaf yang masak dan menghasilkan hormone estrogern yang merangsangnya keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen dapat menghambat sekersei FSH tetapi dapat memperbaiki dinding endometrium yang robek.
  3. Fase Ovulasi/fase Luteal ditandai dengan sekresi LH yang memacu matangnya sel ovum pada hari ke-14 sesudah mentruasi 1. Sel ovum yang matang akan meninggalkan folikel dan folikel aka mengkerut dan berubah menjadi corpus luteum. Corpus luteum berfungsi untuk menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi untuk mempertebal dinding endometrium yang kaya akan pembuluh darah.
  4. Fase pasca ovulasi/fase Sekresi ditandai dengan Corpus luteum yang mengecil dan menghilang dan berubah menjadi Corpus albicans yang berfungsi untuk menghambat sekresi hormone estrogen dan progesteron sehingga hipofisis aktif mensekresikan FSH dan LH. Dengan terhentinya sekresi progesteron maka penebalan dinding endometrium akan terhenti sehingga menyebabkan endometrium mengering dan robek. Terjadilah fase pendarahan/menstruasi.

 

  • Siklus Estrus

Pada kebanyakan vertebrata dengan pengecualian primata, kemauan menerima hewan jantan terbatas selama masa yang disebut estrus atau berahi. Selama estrus, hewan-hewan betina, secara fisiologis dan psikologis dipersiapkan untuk menerima hewan-hewan jantan, dan perubahan-perubahan struktural terjadi di dalam organ-organ assesori seks betina. Hewan-hewan monoestrus menyelesaikan satu siklus estrus setiap tahun sedangkan hewan-hewan poliestrus menyelesaikan dua atau lebih siklus estrus setiap tahun apabila tidak diganggu oleh kehamilan

Siklus estrus dapat dibagi dalam beberapa tahap yaitu tahap diestrus, proestrus, estrus, dan metestrus. Tahap-tahap siklus dapat ditentukan dengan melihat gambaran sitologi apusan vagina. Pada saat estrus, vagina memperlihatkan sel-sel epitel yang menanduk. Apusan vagina biasanya dibuat pada hewan hewan laboratorium, umpanya mencit dan tikus, sebelum hewan jantan dan betina disatukan, penyatuan sebaiknya dilakukan pada saat estrus awal. Pada saat estrus, vulva hewan betina biasanya merah dan bengkak. Adanya sumbat vagina setelah penyatuan menandakan bahwa kopulasi telah berlangsung, dan hari itu ditentukan sebagai hari kehamilan yang ke nol.

Manivestasi psikologis birahi ditimbulkan oleh hormon seks betina, yakni estrogen yang dihasilkan oleh folikel-folikel ovarium. Berahi yang jelas dapat ditimbulkan pemberian estrogen, bahkan dapat diberikan pada betina yang dioverektomi. Perlu diingat bahwa meskipun berahi disebabkan oleh ovarium, tetapi dengan pengertian bebas dari aktifitas ovarium. Pada betina yang intak, estrogen dari luar dapat menimbulkan berahi pada hampir tiap saat selama periode siklus estrus, oleh sebab itu maka berahi dapat dipisahkan sama sekali dari peristiwa yang terpenting pada ovarium, yakni ovulasi. Pada terapi dengan menggunkan estrogen, adanya faktor ini dalam praktek kedokteran hewan sering dilupakan.

Dua jenis siklus yang berbeda ditemukan pada mamalia betina. Manusia dan banyak primata lain mampunyai siklus menstruasi (menstrual cycle), sementara mamalia lain mempunya siklus estrus (estrous cycle). Pada kedua kasus ini ovulasi terjadi pada suatu waktu dalam siklus ini setelah endometrium mulai menebal dan teraliri banyak darah, karena menyiapkan uterus untuk kemungkinan implantsi embrio. Satu perbedaan antara kedua siklus itu melibatkan nasib kedua lapisan uterus jika kehamilan tidak terjadi. Pada siklus mnestruasi endometrium akan meluruh dari uterus melalui serviks dan vagina dalam pendarahan yang disebut sebagai menstruasi. Pada siklus estrus endometrium diserap kembali oleh uterus, dan tidak terjadi pendarahan yang banyak.

  1. Perubahan-perubahan yang terjadi pada ovarium selama siklus estrus :
    Selama tidak ada aktifitas seksual (diestrus) terlihat terlihat folikel kecil-kecil (folicle primer).
  2. Sebelum estrus folikel_folikel ini akan menjkadi besar tetapi akhirnya hanya bsatu yang berisi ovum matang.
  3. Folikel yangh berisi ovum matang ini akan pecah, telur keluar (ovulasi), saat disebut waktu estrus.
  4. Kalau telur dibuahi, korpus luteum akan dipertahankan selama kehamilan dan siklus berhenti sampai bayi lahir dan selesai disusui.
  5. Kalau telur tidak dibuahi, korpus luteum akan berdegenerasi, folikel baru akan tumbuh lagi, siklus diulangi.

Pada manusia dan hewan primata lainnya mempunya siklus menstruasi, pada mamalia lain dikenal adanya siklus estrus (estrous cycle). Pada siklus estrus lapisan endometrium yang telah dipersiapkan untuk menerima konsepsi, akan diserap kembali oleh uterus bila tak terjadi pembuahan, sehingga tidak banyak terjadi pendarahan. Pada hewan betina periode seputar ovulasi, vagina mengalami perubahan yang memungkinkan terjadinya perkawinan, periode ini disebut dengan estrus.

Siklus menstruasi terjadi pada manusia dan primata. Sedang pada mamalia lain terjadi siklus estrus. Bedanya, pada siklus menstruasi, jika tidak terjadi pembuahan maka lapisan endometrium pada uterus akan luruh keluar tubuh, sedangkan pada siklus uterus jika tidak terjadi pembuahan, endometrium akan direabsorbsi oleh tubuh. Siklus estrus pada bebagai jenis hewan, berbeda-beda begitupun dengan jumlah siklus estrusnya dalam setahun berbeda pula.

Siklus estrus ini terjadi secara berkala. Bila dalam satu tahun hanya satu siklus disebut dengan monoestrus, misalnya menjangan satu kali dalam satu tahun pada mamalia kecuali primata terjadi berhai pada yang betina disebut estrus {heat), pada saat itu binatang betina siap untuk kawin. Terlihat keadaan betina gelisah.

Masa satu periode estrus ke estrus berikutnya disebut satu siklus estrus. Kalau terjadi perkawinan dan hamil, maka siklus estrus berhenti sampai bayi lahir. Bila tidak maka siklus jalan terus. Banyak hewan ketika berahi menjadi sangat aktif. Babi dan sapi pada saat berahi berjalan empat atau lima kali lebih banyak dibandingkan dengan sisa masa siklusnya. Aktifitas yang tinggi ini di sebabkan oleh estrogen. Tikus yang berada di dalam kandang berlari secara spontan jauh lebih banyak ketika berahi dibandingkan selama diestrus. Siklus estrus berhubungan erat dengan perubahan organ-organ reproduksi yang berlangsung pada hewan betina.

Hubungan antara siklus vagina , siklus estrus, dan siklus ovarium dalam kaitannya dengan siklus estrus yaitu :

a. Siklus vagina : Selama fase estrus atau birahi atau perkembngan folikel yang maksimal, serviks mensekresi lendir dalam jumlah terbesar dan tercair pada manusia terdapat pada saat ovulasi

b. Siklus uterus : Selama fase estrus atau birahi ukuran atau histologi uterus tidak pernah statis.

Perubahan yng sangat nyata terjadi di endomterium dan kelenjarnya. Selama fase folikuler dari siklus estrus, kelenjar uterus sederhana dan lurus dan sedikit cabang. Penampilan uterus ini menandkn untuk stimulasi estrogen. Selama fase luteal, yakni saat proegesteron beraksi terhadap uterus, endometrium beratambah tebal secara mencolok, diameter dan panjang kelenjar meningkat secara cepat menjadi percabangan dan berkelok-kelok.

c. Siklus ovarium: Puncak peristiwa siklus estrus adalah peristiwa pecahnya folikel dan terlepasnya ovum dari ovarium. Pada sapi 75 % mengalami ovulasi 12 sampai 14 jam setelah birahi berakhir, yang lain mengalami ovulasi lebih awal, yaitu 2,5 jam sebelum ovulasi berakhir. Pada wanita akan mengalami ovulasi kira-kira hari ke 14 dari siklus. Pada beberapa hewan, variasi saat ovulasi tidak jelas.

Hormon-hormon yang berperan dalam mengatur siklus reproduksi pada manusia dan pengaruhnya yaitu :

  1. FSH (folikel stimulating hormone) dan LH (luteinizing Hormone)
    Kedua hormon ini dinamakan gonadotropoin hormon yang diproduksi oleh hipofisis akibat rangsangan dari GNRH. LH akan merangsang terjadinya ovulasi dan FSH akan menyebabkan pematangan dari folikel dan pembentukan hormon estrogen. Dari folikel yang matang akan dikeluarkan ovum. Kemudian folikel ini akan menjadi korpus luteum dan dipertahankan untuk waktu tertentu oleh LH.
  2. b.      Estrogen

Estrogen dihasilkan oleh ovarium. Ada banyak jenis dari estrogen tapi yang paling penting untuk reproduksi adalah estradiol. Estrogen berguna untuk pembentukan ciri-ciri perkembangan seksual pada wanita yaitu pembentukan payudara, lekuk tubuh, rambut kemaluan,dll. Estrogen juga berguna pada siklus menstruasi dengan membentuk ketebalan endometrium, menjaga kualitas dan kuantitas cairan cerviks dan vagina sehingga sesuai untuk penetrasi sperma selain itu estrogen juga berfungsi untuk menghambat terbentuknya FSH dan membentuk LH.

  1. Progesterone
    Hormon ini diproduksi oleh korpus luteum. Progesterone mempertahankan ketebalan endometrium sehingga dapat menerima implantasi zygot. Kadar progesterone terus dipertahankan selama trimester awal kehamilan sampai plasenta dapat membentuk hormon HCG.
  2. Gonadotropin Releasing Hormone

GNRH merupakan hormon yang diproduksi oleh hipotalamus diotak. GNRH akan merangsang pelepasan FSH (folikl stimulating hormone) di hipofisis. Bila kadar estrogen tinggi, maka estrogen akan memberikan umpanbalik ke hipotalamus sehingga kadar GNRH akan menjadi rendah, begitupun sebaliknya.

klus reproduksi mammalia ovarium kembali ke level basal

  • Tahapan Fertilisasi

 

 

Tahapan waktu dalam fertilisasi :

1. Beberapa jam setelah fertilisasi zygote akan membelah secara mitosis menjadi 2 sel, 4, 8, 16 sel.

2. Pada hari ke-3 atau ke-4 terbentuk kelompok sel yang disebut morula. Morula akan berkembang menjadi blastula. Rongga blastosoel berisi cairan dari tuba fallopi dan membentuk blastosit. Lapisan dalam balstosit membentuk inner cell mass. Blastosit dilapisi oleh throhpoblast (lapisan terluar blastosit) yang berfungsi untuk menyerap makanan dan merupakan calon tembuni/plasenta/ari-ari. Blastosit akan bergerak menuju uterus dengan waktu 3-4 hari.

3. Pada hari ke-6 setelah fertilisasi throphoblast akan menempel pada dinding uterus/proses implantasi dan akan mengeluarkan hormone HCG (hormone Chorionik gonadotrophin). Hormon ini melindungi kehamilan dengan menstimulasi produksi hormone progesteron dan estrogen sehingga mencegah menstruasi.

4. Pada hari ke-12 setelah fertilisasi embrio telah kuat menempel pada dinding uterus.

5. Dilanjutkan dengan fase gastrula, yaitu hari ke-21 palsenta akan terus berkembang dari throphoblast. Mulai terbentuk 3 lapisan dinding embrio. Lapisan dinding embrio inilah yang akan berdiferensisai menjadi organ-organ tubuh. Organ tubuh akan berkembang semakin sempurna seiring bertambahnya usia kandungan.

 

Hormon-hormon yang berperan dalam proses kehamilan:

  1. Progesteron dan estrogen, merupakan hormon yang berperanan dalam masa kehamilan 3-4 bulan pertama masa kehamilan. Setelah itu fungsinya diambil alih oleh plasenta. Hormone estrogen makin banyak dihasilkan seiring dengan bertambahnya usia kandungan karena fungsinya yang merangsang kontraksi uterus. Sedangkan hormon progesterone semakin sedikit karena fungsinya yang menghambat kontraksi uterus.
  2. Prolaktin merupakan hormon yang disekresikan oleh plasenta dan berfungsi untuk memacu glandula mamae untuk memproduksi air susu. Serta untuk mengatur metabolisme tubuh ibu agar janin (fetus) tetap mendapatkan nutrisi.
  3. HCG (hormone chorionic gonadotrophin) merupakan hormone untuk mendeteksi adanya kehamilan. Bekerja padahari ke-8 hingga minggu ke-8 pada masa kehamilan. Hormon ini ditemukan pada urine wania pada uji kehamilan.
  4. Hormon oksitosin merupakan hormone yang berperan dalam kontraksi uterus menjelang persalianan.

 

  • Tipe Uterus Mamalia

Ada 4 macam tipe uterus:

  1. Dupleks; uterus kanan dan kiri terpisan dan bermuara secara terpisah ke vagina. Uterus ini dimiliki oleh golongan hewan pengerat seperti tikus.
  2. Bipartit; uterus kanan dan kiri bersatu yang bermuara ke vagina dengan satui lubang.
  3. Bikornuat; bagian uterus kana dan kiri labih banyak yang bersatu bermuara ke vagina dengan satu lubang. Uterus ini dimiliki oleh golongan hewan ungulata.
  4. Simpleks; semua uterus bersatu sehingga hanya memiliki badan uterus.

DAFTAR PUSTAKA

 

http://patology.wordpress.com/2009/05/23/sistem-reproduksi-pada-ikan-pisces/

http://iqbalali.com/2007/04/29/sistem-reproduksi/

http://decyntyapm-tgs-tik-kls98.yolasite.com/science.php

http://al-haromain-al-haromain.blogspot.com/2010/01/sistem-reproduksi-amphibi.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Kodok_dan_katak

http://id.wikipedia.org/wiki/Metamorfosis

http://biologiwadud.blogspot.com/2009/03/sistem-reproduksi-reproduksi-adalah.html

http://www.try4know.co.cc/2009/09/siklus-reproduksi.html

http://www.scribd.com/doc/54849040/3/A-Alat-Reproduksi-Manusia

http://yuntaq3.wordpress.com/2009/02/07/hormon-reproduksi-wanita/

 

 

 

 

Marasmus & Kwashiorkor Februari 22, 2011

Filed under: sains — mya @ 8:02 am

Marasmus Dan Kwashiorkor

Malnutrisi dapat terjadi oleh karena kekurangan gizi (undernutrisi) maupun karena kelebihan gizi (overnutrisi). Keduanya disebabkan oleh ketidakseimbangan antara kebutuhan tubuh dan asupan zat gizi esensial. Adapun contoh yang termasuk undernutrisi yaitu marasmus dan kwashiorkor.

1. Marasmus

Marasmus berasal dari kata Yunani yang berarti wasting merusak . Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein.

Marasmus umumnya merupakan penyakit pada bayi (12 bulan pertama), karena terlambat diberi makanan tambahan. Hal ini dapat terjadi karena penyapihan mendadak, formula pengganti ASI terlalu encer dan tidak higienis atau sering terkena infeksi. Marasmus berpengaruh dalam waku yang panjang terhadap mental dan fisik yang sukar diperbaiki. Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat atau karena kelainan metabolik dan malformasi kongenital.

  • Tanda dan Gejala

Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan kehilangan berat badan sampai berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang dari bantalan pipi, muka bayi dapat tetap tampak relatif normal selama beberaba waktu sebelum menjadi menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat kembung dan datar. Terjadi atropi otot dengan akibat hipotoni. Suhu biasanya normal, nadi mungkin melambat, kemudian lesu dan nafsu makan hilang. Biasanya terjadi konstipasi, tetapi dapat muncul apa yang disebut diare tipe kelaparan, dengan buang air besar sering, tinja berisi mucus dan sedikit.

  • Patofisiologi

Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selama puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi seteah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh.

2. Kwashiorkor

Kwashiorkor ialah suatu keadaan kekurangan gizi ( protein ). Walaupun sebab utama penyakit ini adalah defisiensi protein, tetapi karena bahan makanan yang dimakan kurang mengandung nutrisi lainnya ditambah dengan konsumsi setempat yang berlainan, maka akan terdapat perbedaan gambaran kwashiorkor di berbagai negara.

Selain oleh pengaruh negatif faktor sosial ekonomi, budaya yang berperan terhadap kejadian malnutrisi umumnya, keseimbangan nitrogen yang negatif dapat pula disebabkan oleh diare kronik, malabsorpsi protein, hilangnya protein melalui air kemih ( sindrom nefrotik ), infeksi menahun, luka bakar dan penyakit hati.

  • Patofisiologi

Pada defisiensi protein murni tidak terjadi katabolisme jaringan yang sangat berlebihan, karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kalori dalam dietnya. Kelainan yang mencolok adalah gangguan metabolik dan perubahan sel yang menyebabkan edema dan perlemakan hati. Karena kekurangan protein dalam diet, akan terjadi kekurangan berbagai asam amino esensial dalam serum yang diperlukan untuk sintesis dan metabolisme. Bila diet cukup mengandung karbohidrat, maka produksi insulin akan meningkat dan sebagian asam amino dalam serum yang jumlahnya sudah kurang tersebut akan disalurkan kejaringan otot. Makin berkurangnya asam amino dalam serum ini akan menyebabkan kurangnya produksi albumin oleh hepar, yang kemudian berakibat timbulnya edema. Perlemakan hati terjadi karena gangguan pembentukan beta- lipoprotein, sehingga transport lemak dari hati terganggu, dengan akibat adanya penimbunan lemak dalam hati.

  • Gejala Kwashiorkor
  • Pertumbuhan terganggu, BB dan TB kurang dibandingkan dengan yang sehat.
  • Pada sebagian penderita terdapat edema baik ringan dan berat
  • Gejala gastrointestinal seperti anoreksia dan diare
  • Rambut mudah dicabut, tampak kusam kering, halus jarang dan berubah warna
  • Kulit kering dengan menunjukan garis – garis kulit yang mendalam dan lebar, terjadi persisikan dan hiperpigmentasi
  • Terjadi pembesaran hati, hati yang teraba umumya kenyal, permukaannya licin dan tajam.
  • Anemia ringan selalu ditemukan pada penderita.
  • Kelainan kimia darah yang selalu ditemukan ialah kadar albumin serum yang rendah, disamping kadar globulin yang normal atau sedikit meninggi.

Ciri-ciri :

  • Rambut halus, jarang, dan pirang kemerahan kusam.
  • Kulit tampak kering (Xerosis) dan memberi kesan kasar dengan garis-garis permukaan yang jelas.
  • Didaerah tungkai dan sikut serta bokong terdapat kulit yang menunjukkan hyperpigmentasi dan kulit dapat mengelupas dalam lembar yang besar, meninggalkan dasar yang licin berwarna putih mengkilap.
  • Perut anak membuncit karena pembesaran hati.
  • Pada pemeriksaan mikroskopik terdapat perlemkan sel-sel hati.
 

Berat badan Ideal, Overweight/Obesitas

Filed under: sains — mya @ 7:54 am

Berat Badan Ideal

  • Sejarah cara menghitung berat badan ideal

Dari jaman dahulu sampai jaman sekarang rumus yang paling banyak digunakan untuk menghitung berat badan ideal adalah menggunakan rumus broca, seorang yang pada jamannya ahli pada bidang antropometri yaitu ilmu yang berkaitan dengan mengukur manusia, termasuk di dalamnya cara menghitung berat badan ideal.

Ada banyak cara untuk mendeteksi berat tubuh ideal. Namun, dunia kedokteran di Indonesia mempunyai rujukan sistem pengukuran berat badan ideal, yakni dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Cara menghitungnya diukur dari berat badan dalam satuan kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam satuan meter.

Contoh :

Seseorang memiliki berat badan 75 kilogram. Adapun tinggi badannya hanya 150 sentimeter atau 1,5 meter.

Perhitungannya:

Hasilnya 33,33. Dengan berat 75 kg, berarti telah mengalami obesitas berat.

Bila hasil yang diperoleh menunjukkan Angka antara 18,5 hingga 23 berarti berat badan Anda normal atau ideal. Adapun bila hasil menunjukkan angka 23 hingga 25, Anda sudah kegemukan. Angka 25 hingga 27 termasuk obesitas ringan, 27 hingga 30 disebut obesitas sedang, di atas 30 berarti obesitas berat.

Selain itu ada juga cara lain untuk menghitung berat badan ideal, yaitu dengan menggunakan rumus :

Rumus Berat Badan Ideal = (Tinggi Badan – 100) X 90%

Contohnya : Jika Anda mempunyai tinggai badan 150 cm, maka berat badan ideal Anda adalah (150 – 100) X 90% = 45 kg.

Dari nilai diatas, Anda dapat membandingkan hasilnya dengan acuan dibawah ini:

  • Kelebihan Berat Badan / Overweight = Hasilnya 10% s/d 20% lebih besar
  • Kegemukan / Obesitas / Obesity = Hasilnya lebih dari 20% dari yang seharusnya
  • Kurus = Hasilnya 10% kurang dari yang seharusnya

 

Idealnya Tinggi / Berat Badan

Tinggi Badan

(cm)

Berat Badan (kg)
Wanita Pria
150 43 – 45 49 – 51
154 47 – 49 51 – 53
159 50 – 55

55 – 60

164 52 – 60 60 – 68
169 55 – 65 64 – 75
174 57 – 70 68 – 82
180 60 – 74 73 – 89
184 62 – 78

77 – 96

 

Catatan :

1.       Untuk orang kurus

Orang yang kurus berarti, tidak memenuhi kalori yang di dibutuhkan oleh manusia atau kemungkinan mengidap penyakit tertentu, seperti, cacingan, penyakit aids, atau terlalu banyak mengkonsumsi, alcohol atau obat-obat terlarang.

2.      Untuk orang gemuk

Kegemukan bukanlah gambaran kemakmuran, dalam dunia medis, malah kegemukan dianggap sebagai penyakit. Gemuk (kelebihan berat badan) rentan dengan penyakit antara lain : Jantung, hypertensi, diabetes, asam urat, osteoporosis, asthama, kangker, dll

Ada juga cara yang lain menentukan seseorang mengalami obesitas atau tidak, yaitu dengan mengukur lingkar pinggang. Lingkar pinggang ini jadi tolak ukur karena seseorang yang mengalami kegemukan pasti diikuti penimbunan lemak di sekitar pinggang. Normalnya, ukuran lingkar pinggang wanita tak boleh lebih dari 80 cm, sedangkan pria tak melebihi 90 cm.

Mengukur obesitas dengan lingkar pinggang juga berguna untuk mengetahui sindrom metabolik, yaitu kemungkinan seseorang mengalami kondisi tertentu. Antara lain, kadar gula darah tinggi, kadar trighserida darah tinggi, hipertensi, dan serangan jantung.

 

  • Definisi Overweight Dan Obesitas

 

Definisi obesitas adalah kondisi dimana penumpukan lemak tubuh berada dalam jumlah yang berlebihan sehingga BB (berat badan) jauh di atas normal. Kondisi ini disebut sebagai penyakit kronik yang bisa diatasi. Obesitas juga berhubungan dengan penyakit-penyakit yang dapat menurunkan kualitas hidup. Obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang keluar.  Sementara itu overweight atau kelebihan berat badan adalah keadaan di mana berat badan (BB) seseorang melebihi BB normal.

Definisi obesitas menurut para dokter adalah sebagai berikut:

  • Suatu kondisi dimana lemak tubuh berada dalam jumlah yang berlebihan
  • Suatu penyakit kronik yang dapat diobati
  • Suatu penyakit epidemik
  • Suatu kondisi yang berhubungan dengan penyakit-penyakit lain dan dapat menurunkan kualitas hidup
  • Penanganan obesitas membutuhkan biaya perawatan yang sangat tinggi

Penyebab obesitas dibagi menjadi dua:

1. Metabolic Obesity

Disebabkan oleh faktor-faktor dalam tubuh misalnya factor genetis; contohnya orang tua yang gemuk lebih sering memiliki turunan gemuk.

Sel-sel lemak memperbanyak diri (hyperplasia)selama bayi dan remaja dan jumlahnya menjadi konstan setelah dewasa, diduga  jumlah sel lemak seseorang sudah dtentukan secara genetis asalkan ditunjang oleh gizi yang cukup.

Kebutuhan kalori atau rasa lapar jangka pendek seseorang ditentukan oleh kadar glukosa darah, bila kadarnya turun menimbulkan rasa lapar dan sebaliknya terjadi rasa kenyang. Tetapi kebutuhan kalori  jangka panjang (lapar dan ingin terus makan banyak) ditentukan kadar lemak dalam sel-sel lemak akan dituntut untuk makan lebih banyak untuk mengisi lemak pada sel-selnya dan terus menerus merasa lapar.

Dengan demikian seseorang yang sudah gemuk sejak kecil akan sulit sekali menurunkan berat badannya karena adanya tuntutan  yang lebih banyak dari sel-sel lemak akan lemak yang harus diisikan ke dalamnya. Juga seseorang yang sejak kecil  sudah gemuk bila berusaha dan berhasil menjadi kururs akan kehilangan beberapa jaringan ototnya.

Beberapa orang dengan kadar Thyroxin yang rendah (BMR rendah) juga lebih mudah menjadi gemuk.

2. Regulatory (external ) Obesity

Orang-orang ini tidak mempunyai factor-faktor metabolic yang mengakibatkan gemuk tetapi hanya mengkonsumsi lebih banyak kalori darpada yang dibutuhkan.

Contohnya adalah factor kejiwaan yang ingin makan terus bila dalam keadaan stress, senang akan makanan tertentu, dan factor-faktor social yang menganggap bayi gemuk itu sehat dan dewasa yang bonafit dan kurang olah raga.

Istilah “normal”, “overweight”, dan “obese” dapat berbeda-beda pada tiap negara dan budaya. Oleh karena itu WHO menetapkan suatu pengukuran atau klasifikasi obesitas yang tidak tergantung pada bias kebudayaan.

Metode yang paling banyak digunakan untuk mengukur tingkat obesitas adalah BMI (body mass index), yang didapat dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat dari tinggi badan (meter). BMI dapat digunakan untuk menentukan seberapa besar seseorang dapat terkena risiko penyakit tertentu. BMI telah diakui sebagai metoda yang paling praktis dalam menentukan tingkat overweight dan obesitas pada orang dewasa di bawah umur 70 tahun. Nilai BMI yang didapat tidak tergantung pada umur dan jenis kelamin.

Keterbatasan BMI adalah tidak dapat digunakan bagi:

  • Anak-anak yang dalam masa pertumbuhan
  • Wanita hamil
  • Orang yang sangat berotot, contohnya atlet

Nilai BMI normal Asia 18,5-22,9. Nilai 23-24,9 disebut kelebihan berat badan (overweight).  Seseorang dikatakan obesitas bila BMI-nya di atas 30 atau dengan kata lain orang tersebut memiliki kelebihan BB sebanyak 20 %.

 

Frosbite, Frostnip, Hypothermia

Filed under: sains — mya @ 6:32 am

  • Frosbite

Frostbite adalah membekunya sebagian organ tubuh yang terpapar oleh suhu dingin yang berlebihan. Frostbite umumnya terjadi pada suhu 0°C (32°F). Frostbite dikenal dengan radang dingin dimana jaringan sel didalam tubuh menjadi rusak karena terjadi pembekuan. Cuaca dingin membuat cairan sel membeku dan menjadi rusak karena pembekuan dan menyebabkan aliran menjadi tak lancar. Apabila terdapat bagian – bagian yang tak teraliri darah lebih dari 15 menit akan menimbulkan gangrene ( pembusukan ), sehingga harus di amputasi. Organ yang terkena biasanya adalah ujung-ujung jari kaki dan tangan, cuping telinga, cuping hidung, dan dagu. Tanda-tanda organ yang mengalami frostbite adalah kulitnya pucat dan keras dimana jika terkelupas akan tampak jaringan di bawahnya yang berwarna merah dan nyeri. Organ tersebut biasanya mati rasa.

Penyebab frostbite selain akibat paparan suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin, hal-hal tersebut diatas juga dapat timbul akibat kurangnya kekebalan tubuh, kelelahan, dehidrasi, kekurangan makanan, penggunaan alkohol, gangguan jantung serta penggunaan obat-obatan. Di bawah ini adalah jenis obat-obatan yang dapat menimbulkan gangguan seperti gangguan yang ditimbulkan akibat pajanan panas yang berlebihan, antara lain: Anti histamin (obat alergi), Anti kolinergik (obat batuk dan obat untuk masalah berkemih dan pencernaan), Obat jantung dan tekanan darah, Amfetamin (obat diet), Antikonvulsan (obat kejang).

Gejala Frostbite dibagi dalam 3 tingkatan

  • Stadium 1 : Kulit menjadi pucat, kemudian seperti terbakar dan selanjutnya mengelupas
  • Stadium 2 : Kulit menjadi melepuh
  • Stadium 3 : Kulit menjadi beku, pembuluh darah kulit tersumbat bekuan darah dan jaringan sekitar mati. Jika stadium 3 ini tidak ditangani segera , kerusakan jaringan menjadi lebih serius dan dapat menjadi gangren, kadang membutuhkan amputasi.

Pertolongan pertama yang dapat dilakukan antara lain:

  • Segera hindari pajanan lebih lanjut terhadap dingin, pindahlah ke area yang lebih hangat
  • Jika dimungkinkan, hangatkan organ yang terkena di dalam wadah yang berisi air hangat. Hangatkan secara perlahan sampai kulitnya berubah menjadi memerah (kurang lebih 45 menit)
  • Jangan pernah menggosok atau menggaruk daerah yang mengalami frostbite karena dapat menyebabkan cedera jaringan lebih lanjut
  • Jika tidak tersedia air hangat, balut daerah yang mengalami frostbite dengan kain atau jika tangan yang terkena, selipkan saja tangan di bawah ketiak atau di perut
  • Jika mati rasa tetap berlanjut selama proses penghangatan segera ke rumah sakit

Macam frostbite antara lain  :

1. Frosbite Permukaan

* Yang terkena hanya kulit dan sebagian lapisan bawahnya. Indikasi : Kulit terasa keras dan berwarna abu-abu putih ,terasa sakit dan lama kelamaan menghilang.

* Pertolongan : Mula-mula letakan bagian yang sakit pada anggotatubuh lain yang hangat (ketiak atau selangkangan). Jangan menggosok-gosok karena mudah menyebabkan kematian jaringan. Cairkan dengan merendam di air hangat . Jangan menyentuhkan bagian-bagian tersebut ke api, lampu atau bata panas ,karenaakan mengakibatkan kerusakan yang lebih parah. Berikan makanan & minuman hangat (non alcohol ).

 

2. Frosbite Dalam

* Yang terkena selain kulit,otot-otot bahkan tulang.  Indikasi : Seluruh bagian yang terkena menjadi keras dan kaku seperti papan, mati rasa.

 

* Pertolongan : Sulit bila sudah terbukti adanya frostbite dalam atau diduga adanya forbite dalam, usahakan untuk mencairkan. Lakukan Pencairan seperti pada frostbite permukaan jika sudah berada ditempat yang aman. Lakukan terus menerus dengan steril.

  • Frostnip

Frostnip adalah keadaan beku jaringan tubuh akibat terpapar udara dingin yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan. Bentuk paling ringan biasanya hanya mempengaruhi lapisan atas kulit dan cenderung pada organ yang jauh dari pusat tubuh, misal daun telinga, hidung, pipi, jari dan ibu jari, tangan dan kaki. Frosnip bisa terjadi pada suhu sekitar 15°C (59°F)

 

  • Gejala-gejala

-Mati rasa ( baal )

-Rasa kaku atau beku terutama daerah yang terpajan langsung dengan udara dingin

-Pucat, dingin, kram, kaku otot

 

  • Hypotermia

Hypotermia adalah suatu keadaan dimana kondisi tubuh tidak dapat menghasilkan panas disertai menurunnya suhu inti tubuh secara berangsur – angsur tetapi pasti dibawah 350C dan jika tidak ada pertolongan dapat menyebabkan cedera serius bahkan kematian. Bisa di mengerti apabila suhu sudah pada titik terendah, tubuh sangat menderita. Suhu normal manusia yang berkisar antara 37 derajat turun sampai 25 derajat. Hypothermia diawali dengan badan menggigil, depresi pada pernapasan dan tekanan jantung. Pada suhu yang lebih dingin akan terjadi kejang – kejang dan otak mulai beku dan taraf selanjutnya adalah sekarat atau kematian.

 

  • Hal tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya :

- Suhu yang ekstrim.

- Pakaian yang tidak cukup sehingga mengenakan pakaian basah.

- Kurangnya makanan yang mengandung kalori tinggi.

- Menggigil.

- Dingin, pucat, kulit kering.

- Bingung, sikap – sikap tidak masuk akal, lesu, ada kalanya ingin berkelahi.

- Jatuh kesadaran.

- Bernapas pelan dan pendek.

- Denyut nadi yang pelan dan melemah.

 

  • Penanganannya :

-          Cari perlindungan dari kondisi lingkungan yang dingin, misal membuat tenda.

-          Lepaskan semua pakaian yang basah.

-          Selimuti korban dengan selimut atau sleeping bag kering. Atau jika ada safety blangket yang diseliputi dengan aluminium.

-          Baringkan korban dan hindarkan kontak langsung dengan tanah.

-          Jangan biarkan penderita tertidur yang berakibat hilang kesadarannya.

-          Beri penderita makanan / minuman hangat dan mengandung hidrat arang. Jangan berikan minuman ber – alkohol.

-          Evakuasi secepatnya ke rumah sakit jika kondisi tidak membaik.

ü  Tindakan2 Pencegahan Penyakit Hipotermia :

  • Bila kita melakukan kegiatan luar ruangan (pendakian gunung khususnya) pada musim hujan atau di daerah dg curah hujan tinggi, maka membawa ponco/raincoat adalah suatu keharusan. Selain mbawa jas hujan, pakaian hangat (jaket tahan air dan tahan angin, kalo perlu) dan pakaian ganti yg berlebih dua tiga stel, serta kaus tangan dan kerpus/balaclava/topi ninja juga sangat penting. Perlengkapan yg tidak kalah pentingnya adalah sepatu pendakian yg baik dan dpt menutupi sampe mata kaki, jangan pake sendal gunung atau bahkan jangan pake sendal jepit. Naik gunung pada musim hujan bukan utk gagah2an aja.
  • Bawa makanan yg cepat dibakar menjadi kalori, spt gula jawa, enting2 kacang, coklat dll. Dalam perjalanan banyak “ngemil” utk mengganti energi yg hilang.
  • Bila angin bertiup kencang, maka segeralah memakai perlengkapan pakaian hangat, spt jaket, kerpus/balaclava dan kaus tangan. Kehilangan panas tubuh akibat faktor “wind cill” tidak terasa oleh kita, dan tahu2 aja kita jatuh sakit.
  • Bila hujan mulai turun bersegeralah memakai jas hujan, jangan menunggu hujan menjadi deras. Cuaca di gunung tdk dpt diduga. Hindari pakaian basah kena hujan.
  • Bila merasa dirinya lemah atau kurang kuat dalam tim, sebaiknya terus terang pada team leader atau anggota seperjalanan yg lebih pengalaman utk mengawasi dan membantu bila dirasa perlu.
 

Keseimbangan Nitrogen (mineral & vitamin)

Filed under: sains — mya @ 5:58 am

KESEIMBANGAN NITROGEN

Sejumlah nitrogen ( antara lain urea ) dalam urine merupakan indikator jumlah asam amino yang dioksidasi. Jika jumlah nitrogen urine sama dengan jumlah nitrogen protein yang terdapat dalam makanan, maka orang tersebut dalam keadaan keseimbangan nitrogen. Tetapi jika jumlah nitrogen dalam urine melebihi jumlah nitrogen dalam protein makanan maka disebut keseimbangan nitrogen makanan. Contohnya saat kelaparan dan produksi insulin menurun.

• Mineral

Mineral adalah bahan anoganik, bahan kimia yang didapat makhluk dari alam, yang asalnya ialah dari tanah. Ada yang larut dalam air lalu masuk tubuh lewat air minum atau air yang dipakai untuk mencuci sayur dan memasak. Mineral itu biasanya masuk tubuh dalam bentuk garam, dan lalu digunakan dalam bentuk elektrolit. Elektrolit ialah bentuk ion dari mineral itu, bermuatan listrik positif (+) atau negatif (-). Ada sebagian mineral itu dipakai sel sebagai poros atau inti suatu molekul, ada pula dipakai untuk menghubungkan suatu cabang ke batang suatu molekul. Banyak unsur dalam tanah itu masuk tubuh lewat salur pencernaan begitu saja, tanpa diabsorpsi dinding usus. Lalu keluar lagi bersama tinja. Jika mineral itu masuk tubuh lewat bukan lewat saluran makanan, tetapi lewat saluran napas, itu sering akan melekat dan mengendap di antara sel-sel alveolus. Jika mineral itu melekat pada silia saluran napas akan dicoba kayuhkan lagi ke luar tubuh lewat tekak dan keluar berupa dahak, ingus, atau masuk saluran cerna. Sayang silia hanya terdapat pada ranting tenggorokan, tidak ada pada alveolus (gelembung paru). Alveolus ialah tempat pengikatan oksigen oleh darah lalu diangkut ke semua sel. Ada di antara mineral itu berada dalam debu yang sangat halus atau berupa jelaga dalam asap knalpot kenderaan atau cerobong pabrik, yang dapat terhirup bersama gas pernapasan hingga mencapai alveolus. Karena itu setelah lengket di sana tidak bisa lagi dikeluarkan lewat tekak. sel-sel peronda pun, makrofaga, bekerja keras seperti tukang sapu jalan raya dan taman kota. Makrofaga itu bertindak sebagai penyedot debu. Di dalam sitoplasma makrofoga itu banyak terdapat lisosom yang bekerja untuk mencernakan bahan yang disedot. Tetapi sayang makrofoga itu hanya beraninya saja, mereka tak punya enzim untuk mengurai mineral dan jelaga. Maka lisosom di dalam sitoplasma makrofoga itu pun makin lama makin gembung lalu pecah. Makrofaganya sendiri pun mati. Bangkai makrofoga itu dimakan lagi oleh makrofoga lain yang masih hidup. Demikianlah terus berlangsung dalam paru. Mineral yang tidak bisa dicerna dan akan tetap berada dalam relung paru ialah pasir, kapur, dan serat abses. Di antara ketiga mineral itu sesungguhnya Ca (calsium, kalsium, zat kapur) penting sekali bagi tubuh, jika masuk lewat saluran cerna. Tetapi, dalam paru tidak bisa dicernakan atau dibuang. Mineral itu pun menumpuk sehingga pada suatu ketika mengganggu kesehatan (calicosis, silicosis, absbestosis). MINERAL yang masuk tubuh lewat makanan sebagian diabsorpsi oleh dinding usus. dan digunakan untuk berbagai kebutuhan hidup. Mineral yang digunakan oleh tubuh ialah : Fe (ferum, zat besi), Ca (calsium, zat kapur), Na (natrium), K (kalium), Cl (chlor), Mg (magnesium), P (phosphor), fosfor), S (sulfur, belerang), Zn (zink, seng) I (iodium), F (flor), Co (cobalt), dan St (srontium).

a. Fe: banyak terdapat dalam hati, telur, ikan, lokan, kacang-kacangan, sayur, dan sereal. Dalam lambung bereaksi dengan asam lambung HCL membentuk FeCL2. Sekitar 60 persen Fe yang diabsorpsi usus dipakai untuk membuat hemoglobin (Hb), 20 persen lainnya untuk membuat mioglobin otot, dan dalam enzim pernapasan, dan 20 persen lagi disalurkan kedalam hati, limpa, dan sumsum tulang. Dalam sumsum disimpan sebagai ferretin dan hemosiderin. Fe yang keluar dari penghancuran eritrosit tidak dibuang, tetapi disimpan berupa ferritin dan hemosiderin juga, lalu dipakai lagi ntuk membikin Hb baru. Sel mukosa usus mengandung apoferritin, lalu gabung dengan Fe yang kemudian diabsorpsi menjadi ferritin. Masuk darah, Fe gabung dengan protein darah globulin membentuk transferrin. Yang di absorpsi dari usus sedikit saja, sebagian besar Fe dalam makanan keluar tubuh lagi. Jadi secara biasa sesungguhnya tubuh tidak kekurangan unsur ini. Wanita yang sedang haid banyak Fe keluar tubuh, karena itu ia perlu cukup makanan yang mengandung unsur ini. Makanan sehari-hari yang bervariasi sudah cukup memelihara kesehatan tubuh. Jika defisiensi terjadi anemia atau kurang darah (maksudnya eritrosit). Suplemen unsur ini ialah berupa Fe-sulfat. Sehari-hari unsur ini jika kelebihan keluar lewat tinja, keringat, dan bulu atau rambut yang gugur.

b. Ca : Masuk tubuh lewat makanan dan minuman, seperti susu, keju, sayur, telur, mentega, kacang-kacangan, wortel, dan jeruk. Banyak pula terkandung dalam air putih biasa. Sulit diabsorpsi dari usus, hanya lebih kurang separuh dari yang dimakan dimanfatkan, selebihnya dibuang lewat tinja. Absorpsi dalam usus kurang jika tubuh kurang vitamin D. Dalam darah terdapat dalam plasma. Sebagian dalam bentuk ion, sebagian gabung dengan protein. Kadar Ca darah dikontrol tetap oleh hormon paratormon yang digetahkan kelenjar anak gondok. Ca kelebihan dalam jaringan dibuang selain lewat tinja, juga lewat kemih. Ca berguna untuk membentuk tulang dan gigi. Peranannya yang sangat penting ialah untuk memelihara kelancaran perangsangan saraf dan kerutan otot. Jika defisiensi tulang dan gigi jadi rapuh atau lunak, Rambatan perangsangan juga terganggu, menyebabkan otot suka semut-semutan lalu kejang-kejang. Pada wanita hamil dan menyusui, jika pasokan dari makanan kurang, tulang jadi lunak dan tipis, karena unsur ini banyak diabsorpsi untuk kebutuhan janin atau bayi. Dalam air susu ibu banyak sekali terkandung unsur ini, yaitu 1 gram per 1.000 ml. Unsur ini juga berperan dalam proses pembekuan darah dan pembekuan susu. Maka jika defisiensi menyebabkan pembekuan jadi lambat. Pada bayi air susu sulit bergumpal, sehingga sulit pula dicernakan.

c. P : Untuk memegang peran utama dalam membina struktur dan fisiologi tubuh makhluk. ATP, asam nukleat, membran, protein, dan berbagai enzim mengandung P dalam bentuk ikatan fosfat. Untuk melepaskan glukosa dari glikogen sebagai sumber energi dan untuk mengubah glukosa jadi glukogen yanag akan disimpan dalam hati dan otot, perlu gugus fosfat sebagai pelaksana reaksi. Unsur ini diabsorpsi tubuh dari usus berupa ion fosfat. Ion ini ada yang bergabung dengan bahan anorganik ada pula dengan organik. Bahan organik, misalnya, dalam kasein susu, fosfolipida, dan asam nukleat. Sumber P yang penting ialah susu, keju, telur, daging, ikan, sereal, dan sayur. Dalam sereal unsur ini berada dalam asam fitat, tetapi dalam bentuk ini sulit diabsorpsi. Lagi pula asam ini dapat menghalangi diabsorpsi Fe dan Ca. Gandum mengandung enzim fitase, yang merombak asam fitat menjadi inositol dan asam fosfat. Dalam bentuk garam anorganik unsur ini mudah diabsorpsi dari usus. Dalam darah sangat penting, ikut membina eritrosit dan plasma darah. Kelebihan P sebagian besar dibuang lewat kemih, sebagian kecil lewat tinja. P juga bertindak sebagai dapar dalam darah dan cairan tubuh. Kebutuhan sehari-hari meningkat pada wanita hamil dan menyusukan. Enzim fosfatase memecah fosfoglukosa jadi glukosa dan asam fosfat. Dalam tulang rawan penting untuk proses pembentukan tulang. Unsur ini juga perlu memelihara kelancaran fungsi ginjal menyaring ampas metabolisme untuk jadi kemih. Enzim fosfatase juga penting digetah kelenjar prostat ke dalam air mani. Pada darah pasien kanker prostat kadar enzim ini tinggi, karena itu dapat dipakai sebagai diagnosa apakah prostat seorang pria sudah mengangker atau belum. Tulang mengandung sekitar 60 persen garam anorganik P dan 40 persen garam organik, terutama dalam bentuk osein. Selain itu dalam tulang ada berbagai unsur mineral lain, yaitu Ca, Mg, Na, K, Str, dan Fe. Mineral dalam tulang berupa apatit, garam Ca-fosfat, dan kapur (CaCO3). Gigi juga banyak mengandung P. Lapisan email dan dentin mengandung Ca-fosfat berkadar tinggi, tetapi lebih rendah kadar CaCO3 dibanding tulang. Mineral tulang, termasuk garam fosfat, terus menerus mengalami perombakan-penumpukan, sesuai dengan kebutuhan dalam metabolisme tubuh.

d. Mg: Sebagian besar terkandung dalam tulang. Juga berperan untuk kelancaran pekerjaan berbagai enzim. Banyak terdapat dalam makanan berupa sayur dan buah. Jika sumber dari hewan, banyak terdapat dalam susu, ikan, dan daging.

e. I: Penting untuk membikin hormon tiroksin yang dihasilkan oleh kelenjar gondok. Sumber terutama ikan laut, kerang, dan agar. Anak, ibu hamil dan sedang menyusukan perlu lebih banyak unsur ini dari pada orang dewasa biasa. Rakyat kita kini diharuskan pemerintah dipasok oleh unsur lewat garam dapur. Jika defisiensi timbul penyakit gondok dan pertumbuhan anak terhambat atau terganggu.

f. F: Terdapat dalam jaring lunak, tulang dan gigi. Unsur ini banyak terkandung dalam air minum. Jika minum air yang mengandung banyak F berlebihan maka gigi jadi rusak dan berwarna cokelat. Namun jika masuk tubuh secara biasa, artinya dalam kadar normal, unsur ini perlu untuk pertumbuhan dan pemeliharaan gigi.

g. Na: Biasa didapat tubuh dari makanan laut, dalam senyawa dengan Cl (khlor) berupa garam dapur (NaCl). Orang butuh pasokan garam dapur secara teratur tiap hari, dan ini sudah dirasakan oleh penduduk dunia sejak zaman purba.

h. K: Bekerja sama dengan Na mengatur keseimbangan kadar air sel, dan bersama Na berguna pula untuk mengatur kelancaran keluar-masuk zat makanan dari/ke dalam sel.

i. N: Berguna untuk membentuk protein, ATP, dan asam nukleat. Tak ada ketiga unsur ini maka tak terbentuk sel, berarti tak ada kehidupan. Unsur ini banyak terkandung dalam sayur, buah, umbi, dan biji. Biasanya masuk tubuh dalam bentuk nitrat (NO3-). Di udara banyak terkandung unsur ini dalam bentuk N2. Oleh kilat dan petir, dan oleh bantuan bakteri, N2 di udara diubah jadi NO3-, barulah bisa diisap oleh akar tumbuhan, lalu dipakai untuk menyintesa protein, asam nukleat, vitamin, dan beberapa bahan organik lain. Manusia biasa memberi tumbuhan pupuk yang mengandung banyak nitrat yang dibikin di pabrik, disebut pupuk nitrat. Kelebihan atau jika tergabung dalam ampas metabolisme, unsur ini dibuang dalam bentuk amoniak (NH3), asam urat, dan urea.

j. Co :  penting untuk membuat vitamin B12 (cobalamin). Cu perlu untuk pembikinan pigmen Hb. Meski unsur ini tidak ikut membina Hb tetapi untuk pembikinannya unsur ini mutlak harus ada. Darah hewan rendah berwarna biru, karena pigmen pernapasannya mengandung Cu, sebagai ganti Fe pada hewan tinggi yang membuat darah berwarna merah.

k. Zn : untuk kelancaran produksi mani. Jika kadar unsur ini kurang dalam tubuh satu indikasi keinfertilan seorang pria.

l. S : banyak bertindak untuk menjembatani berbagai cabang dengan untaian asam-asam amino suatu molekul protein. Molekul imunoglobulin yang berbentuk seperti huruf Y itu, adalah contoh protein yang memiliki jembatan yang dibina atas unsur S.

• Vitamin

Vitamin (bahasa Inggris: vital amine, vitamin) adalah sekelompok senyawa organik amina berbobot molekul kecil yang memiliki fungsi vital dalam metabolisme setiap organisme, yang tidak dapat dihasilkan oleh tubuh. Nama ini berasal dari gabungan kata bahasa Latin vita yang artinya “hidup” dan amina (amine) yang mengacu pada suatu gugus organik yang memiliki atom nitrogen (N), karena pada awalnya vitamin dianggap demikian. Kelak diketahui bahwa banyak vitamin yang sama sekali tidak memiliki atom N. Dipandang dari sisi enzimologi (ilmu tentang enzim), vitamin adalah kofaktor dalam reaksi kimia yang dikatalisasi oleh enzim. Pada dasarnya, senyawa vitamin ini digunakan tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara normal. Terdapat 13 jenis vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Vitamin tersebut antara lain vitamin A, C, D, E, K, dan B (tiamin, riboflavin, niasin, asam pantotenat, biotin, vitamin B6, vitamin B12, dan folat). Walau memiliki peranan yang sangat penting, tubuh hanya dapat memproduksi vitamin D dan vitamin K dalam bentuk provitamin yang tidak aktif. Oleh karena itu, tubuh memerlukan asupan vitamin yang berasal dari makanan yang kita konsumsi. Buah-buahan dan sayuran terkenal memiliki kandungan vitamin yang tinggi dan hal tersebut sangatlah baik untuk tubuh. Asupan vitamin lain dapat diperoleh melalui suplemen makanan. Vitamin memiliki peranan spesifik di dalam tubuh dan dapat pula memberikan manfaat kesehatan. Bila kadar senyawa ini tidak mencukupi, tubuh dapat mengalami suatu penyakit. Tubuh hanya memerlukan vitamin dalam jumlah sedikit, tetapi jika kebutuhan ini diabaikan maka metabolisme di dalam tubuh kita akan terganggu karena fungsinya tidak dapat digantikan oleh senyawa lain. Gangguan kesehatan ini dikenal dengan istilah avitaminosis. Contohnya adalah bila kita kekurangan vitamin A maka kita akan mengalami kerabunan. Di samping itu, asupan vitamin juga tidak boleh berlebihan karena dapat menyebabkan gangguan metabolisme pada tubuh.

• Berbagai vitamin Secara garis besar, vitamin dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar, yaitu vitamin yang larut dalam air dan vitamin yang larut dalam lemak. Hanya terdapat 2 vitamin yang larut dalam air, yaitu B dan C, sedangkan vitamin lainnya, yaitu vitamin A, D, E, dan K bersifat larut dalam lemak. Vitamin yang larut dalam lemak akan disimpan di dalam jaringan adiposa (lemak) dan di dalam hati. Vitamin ini kemudian akan dikeluarkan dan diedarkan ke seluruh tubuh saat dibutuhkan. Beberapa jenis vitamin hanya dapat disimpan beberapa hari saja di dalam tubuh, sedangkan jenis vitamin lain dapat bertahan hingga 6 bulan lamanya di dalam tubuh. Vitamin-vitamin ini disimpan dalam jaringan lemak agar sulit diekskresikan sehingga bila dikonsumsi dalam jumlah banyak dapat menimbulkan keracunan yang disebut Hypervitaminosis. Berbeda dengan vitamin yang larut dalam lemak, jenis vitamin larut dalam air hanya dapat disimpan dalam jumlah sedikit dan biasanya akan segera hilang bersama aliran makanan. Saat suatu bahan pangan dicerna oleh tubuh, vitamin yang terlepas akan masuk ke dalam aliran darah dan beredar ke seluruh bagian tubuh. Apabila tidak dibutuhkan, vitamin ini akan segera dibuang tubuh bersama urin. Oleh karena hal inilah, tubuh membutuhkan asupan vitamin larut air secara terus-menerus. Vitamin ini berfungsi sebagai koenzim untuk memperlancar metabolisme.

  • Vitamin A

Vitamin A, yang juga dikenal dengan nama retinol, merupakan vitamin yang berperan dalam pembentukkan indra penglihatan yang baik, terutama di malam hari, dan sebagai salah satu komponen penyusun pigmen mata di retina. Selain itu, vitamin ini juga berperan penting dalam menjaga kesehatan kulit dan imunitas tubuh. Vitamin ini bersifat mudah rusak oleh paparan panas, cahaya matahari, dan udara. Sumber makanan yang banyak mengandung vitamin A, antara lain susu, ikan, sayur-sayuran (terutama yang berwarna hijau dan kuning), dan juga buah-buahan (terutama yang berwarna merah dan kuning, seperti cabai merah, wortel, pisang, dan pepaya). Apabila terjadi defisiensi vitamin A, penderita akan mengalami rabun senja dan katarak. Selain itu, penderita defisiensi vitamin A ini juga dapat mengalami infeksi saluran pernafasan, menurunnya daya tahan tubuh, dan kondisi kulit yang kurang sehat. Kelebihan asupan vitamin A dapat menyebabkan keracunan pada tubuh. Penyakit yang dapat ditimbulkan antara lain pusing-pusing, kerontokan rambut, kulit kering bersisik, dan pingsan. Selain itu, bila sudah dalam kondisi akut, kelebihan vitamin A di dalam tubuh juga dapat menyebabkan kerabunan, terhambatnya pertumbuhan tubuh, pembengkakan hati, dan iritasi kulit. Sayur-sayuran hijau dan kacang-kacangan sebagai sumber vitamin A dan vitamin B yang tinggi.

  • Vitamin B

Secara umum, golongan vitamin B berperan penting dalam metabolisme di dalam tubuh, terutama dalam hal pelepasan energi saat beraktivitas. Hal ini terkait dengan peranannya di dalam tubuh, yaitu sebagai senyawa koenzim yang dapat meningkatkan laju reaksi metabolisme tubuh terhadap berbagai jenis sumber energi. Beberapa jenis vitamin yang tergolong dalam kelompok vitamin B ini juga berperan dalam pembentukan sel darah merah (eritrosit). Sumber utama vitamin B berasal dari susu, gandum, ikan, dan sayur-sayuran hijau.

Vitamin B1

Vitamin B1, yang dikenal juga dengan nama tiamin, merupakan salah satu jenis vitamin yang memiliki peranan penting dalam menjaga kesehatan kulit dan membantu mengkonversi karbohidrat menjadi energi yang diperlukan tubuh untuk rutinitas sehari-hari. Di samping itu, vitamin B1 juga membantu proses metabolisme protein dan lemak. Bila terjadi defisiensi vitamin B1, kulit akan mengalami berbagai gangguan, seperti kulit kering dan bersisik. Tubuh juga dapat mengalami beri-beri, gangguan saluran pencernaan, jantung, dan sistem saraf. Untuk mencegah hal tersebut, kita perlu banyak mengkonsumsi banyak gandum, nasi, daging, susu, telur, dan tanaman kacang-kacangan. Bahan makanan inilah yang telah terbukti banyak mengandung vitamin B1.

Vitamin B2

Vitamin B2 (riboflavin) banyak berperan penting dalam metabolisme di tubuh manusia. Di dalam tubuh, vitamin B2 berperan sebagai salah satu kompenen koenzim flavin mononukleotida (flavin mononucleotide, FMN) dan flavin adenine dinukleotida (adenine dinucleotide, FAD). Kedua enzim ini berperan penting dalam regenerasi energi bagi tubuh melalui proses respirasi. Vitamin ini juga berperan dalam pembentukan molekul steroid, sel darah merah, dan glikogen, serta menyokong pertumbuhan berbagai organ tubuh, seperti kulit, rambut, dan kuku. Sumber vitamin B2 banyak ditemukan pada sayur-sayuran segar, kacang kedelai, kuning telur, dan susu. Defisiensinya dapat menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh, kulit kering bersisik, mulut kering, bibir pecah-pecah, dan sariawan.

Vitamin B3

Vitamin B3 juga dikenal dengan istilah niasin. Vitamin ini berperan penting dalam metabolisme karbohidrat untuk menghasilkan energi, metabolisme lemak, dan protein. Di dalam tubuh, vitamin B3 memiliki peranan besar dalam menjaga kadar gula darah, tekanan darah tinggi, penyembuhan migrain, dan vertigo. Berbagai jenis senyawa racun dapat dinetralisir dengan bantuan vitamin ini. Vitamin B3 termasuk salah satu jenis vitamin yang banyak ditemukan pada makanan hewani, seperti ragi, hati, ginjal, daging unggas, dan ikan. Akan tetapi, terdapat beberapa sumber pangan lainnya yang juga mengandung vitamin ini dalam kadar tinggi, antara lain gandum dan kentang manis. Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan tubuh mengalami kekejangan, keram otot, gangguan sistem pencernaan, muntah-muntah, dan mual.

Vitamin B5

Vitamin B5 (asam pantotenat) banyak terlibat dalam reaksi enzimatik di dalam tubuh. Hal ini menyebabkan vitamin B5 berperan besar dalam berbagai jenis metabolisme, seperti dalam reaksi pemecahan nutrisi makanan, terutama lemak. Peranan lain vitamin ini adalah menjaga komunikasi yang baik antara sistem saraf pusat dan otak dan memproduksi senyawa asam lemak, sterol, neurotransmiter, dan hormon tubuh. Vitamin B5 dapat ditemukan dalam berbagai jenis variasi makanan hewani, mulai dari daging, susu, ginjal, dan hati hingga makanan nabati, seperti sayuran hijau dan kacang hijau. Seperti halnya vitamin B1 dan B2, defisiensi vitamin B5 dapat menyebabkan kulit pecah-pecah dan bersisik. Selain itu, gangguan lain yang akan diderita adalah keram otot serta kesulitan untuk tidur.

Vitamin B6

Vitamin B6, atau dikenal juga dengan istilah piridoksin, merupakan vitamin yang esensial bagi pertumbuhan tubuh. Vitamin ini berperan sebagai salah satu senyawa koenzim A yang digunakan tubuh untuk menghasilkan energi melalui jalur sintesis asam lemak, seperti spingolipid dan fosfolipid. Selain itu, vitamin ini juga berperan dalam metabolisme nutrisi dan memproduksi antibodi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap antigen atau senyawa asing yang berbahaya bagi tubuh. Vitamin ini merupakan salah satu jenis vitamin yang mudah didapatkan karena vitamin ini banyak terdapat di dalam beras, jagung, kacang-kacangan, daging, dan ikan. Kekurangan vitamin dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kulit pecah-pecah, keram otot, dan insomnia.

Vitamin B12

Vitamin B12 atau sianokobalamin merupakan jenis vitamin yang hanya khusus diproduksi oleh hewan dan tidak ditemukan pada tanaman. Oleh karena itu, vegetarian sering kali mengalami gangguan kesehatan tubuh akibat kekurangan vitamin ini. Vitamin ini banyak berperan dalam metabolisme energi di dalam tubuh. Vitamin B12 juga termasuk dalam salah satu jenis vitamin yang berperan dalam pemeliharaan kesehatan sel saraf, pembentukkan molekul DNA dan RNA, pembentukkan platelet darah. Telur, hati, dan daging merupakan sumber makanan yang baik untuk memenuhi kebutuhan vitamin B12. Kekurangan vitamin ini akan menyebabkan anemia (kekurangan darah), mudah lelah lesu, dan iritasi kulit.

  • Vitamin C

Buah jeruk, terkenal atas kandungan vitamin C-nya yang tinggi. Vitamin C (asam askorbat) banyak memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh kita. Di dalam tubuh, vitamin C juga berperan sebagai senyawa pembentuk kolagen yang merupakan protein penting penyusun jaringan kulit, sendi, tulang, dan jaringan penyokong lainnya. Vitamin C merupakan senyawa antioksidan alami yang dapat menangkal berbagai radikal bebas dari polusi di sekitar lingkungan kita. Terkait dengan sifatnya yang mampu menangkal radikal bebas, vitamin C dapat membantu menurunkan laju mutasi dalam tubuh sehingga risiko timbulnya berbagai penyakit degenaratif, seperti kanker, dapat diturunkan. Selain itu, vitamin C berperan dalam menjaga bentuk dan struktur dari berbagai jaringan di dalam tubuh, seperti otot. Vitamin ini juga berperan dalam penutupan luka saat terjadi pendarahan dan memberikan perlindungan lebih dari infeksi mikroorganisme patogen. Melalui mekanisme inilah vitamin C berperan dalam menjaga kebugaran tubuh dan membantu mencegah berbagai jenis penyakit. Defisiensi vitamin C juga dapat menyebabkan gusi berdarah dan nyeri pada persendian. Akumulasi vitamin C yang berlebihan di dalam tubuh dapat menyebabkan batu ginjal, gangguan saluran pencernaan, dan rusaknya sel darah merah.

  • Vitamin D

Vitamin D juga merupakan salah satu jenis vitamin yang banyak ditemukan pada makanan hewani, antara lain ikan, telur, susu, serta produk olahannya, seperti keju. Bagian tubuh yang paling banyak dipengaruhi oleh vitamin ini adalah tulang. Vitamin D ini dapat membantu metabolisme kalsium dan mineralisasi tulang. Sel kulit akan segera memproduksi vitamin D saat terkena cahaya matahari (sinar ultraviolet). Bila kadar vitamin D rendah maka tubuh akan mengalami pertumbuhan kaki yang tidak normal, dimana betis kaki akan membentuk huruf O dan X. Di samping itu, gigi akan mudah mengalami kerusakan dan otot pun akan mengalami kekejangan. Penyakit lainnya adalah osteomalasia, yaitu hilangnya unsur kalsium dan fosfor secara berlebihan di dalam tulang. Penyakit ini biasanya ditemukan pada remaja, sedangkan pada manula, penyakit yang dapat ditimbulkan adalah osteoporosis, yaitu kerapuhan tulang akibatnya berkurangnya kepadatan tulang. Kelebihan vitamin D dapat menyebabkan tubuh mengalami diare, berkurangnya berat badan, muntah-muntah, dan dehidrasi berlebihan.

  • Vitamin E

Struktur molekul vitamin E Vitamin E berperan dalam menjaga kesehatan berbagai jaringan di dalam tubuh, mulai dari jaringan kulit, mata, sel darah merah hingga hati. Selain itu, vitamin ini juga dapat melindungi paru-paru manusia dari polusi udara. Nilai kesehatan ini terkait dengan kerja vitamin E di dalam tubuh sebagai senyawa antioksidan alami. Vitamin E banyak ditemukan pada ikan, ayam, kuning telur, ragi, dan minyak tumbuh-tumbuhan. Walaupun hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit, kekurangan vitamin E dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang fatal bagi tubuh, antara lain kemandulan baik bagi pria maupun wanita. Selain itu, saraf dan otot akan mengalami gangguan yang berkepanjangan

  • Vitamin K

Vitamin K banyak berperan dalam pembentukan sistem peredaran darah yang baik dan penutupan luka. Defisiensi vitamin ini akan berakibat pada pendarahan di dalam tubuh dan kesulitan pembekuan darah saat terjadi luka atau pendarahan. Selain itu, vitamin K juga berperan sebagai kofaktor enzim untuk mengkatalis reaksi karboksilasi asam amino asam glutamat. Oleh karena itu, kita perlu banyak mengkonsumsi susu, kuning telur, dan sayuran segar yang merupakan sumber vitamin K yang baik bagi pemenuhan kebutuhan di dalam tubuh.

 

klasifikasi aves dan mamalia-berdasar ekologinya Juli 15, 2010

Filed under: sains — mya @ 7:21 am

  1. I. Klasifikasi Aves dan Mamalia

1.1 Klasifikasi Aves

Klasifikasi Ekologis (berdasarkan kebiasaan dan tempat hidupnya)

  1. Burung yang hidup di tanah (terrestrial), dengan ciri adaptasi kaki untuk berjalan.

Ordo : Strutioniformes

-          Terrestrial (hidup di daratan)

-          Pada kaki (belakang) hanya ada 2 jari

Contoh : Stenthio camelus

  1. Burung Akuatik, dengan ciri khas pada kaki yang berselaput, bulu berminyak dan bentuk paruh yang khas yang disesuaikan dengan jenis makanannya.

Ordo : Sphenisciformes

-          Tungkai muka berbentuk sirip yang berguna untuk berenang

-          Tidak dapat terbang

-          Bulu kecil menyerupai sisik menutupi seluruh tubuh

-          Tidak ada apteria, tidak ada remiges

Contoh : Aptenodytes forsteri

III. Burung yang banyak diburu, umumnya berbulu indah atau daging dan telurnya enak dimakan.

Ordo : Passeriformes

-          Tiga jari kaki (belakang) menunjuk ke muka, satu jari menunjuk ke belakang , berguna untuk bertengger

-          Dengan bulu-bulu hias di bawah sayap

Contoh : Paradisea minor, burung cendrawasih

Ordo : Columbiformes

-          Paruh pendek dan langsing pada pangkalnya

-          Ingluvies besar

Contoh : Columba livia, burung merpati

IV.Burung Petengger (Arboreal)

Ordo : Passeriformes

-          Tiga jari kaki (belakang) menunjuk ke muka, satu jari menunjuk ke belakang; berguna untuk bertengger

-          Kebanyakan dapat berkicau dengan indah

-          Mereka yang memakan biji-bijian mempunyai paruh yang berbentuk conus

-          Mereka yang memakan insecta, mempunyai paruh yang runcing

Contoh : Mirafra javanica, branjangan

V. Burung Berkicau

Ordo : Charadriiformes

-          Di antara jari-jari kaki (belakang) kebanyakan ada selaput berenang

-          Tungkai belakang agak panjang

-          Sayap kuat

-          Ada yang mempunyai tiga jari kaki (belakang)

-          Paruh panjang

-          Lidah tebal dan berbentuk silinder

Contoh : Cacatua triton, kakatua

1.2 Klasifikasi Mamalia

I. Subclassis Prototheria

Ordo : Monotremata

-          Diketemukan di Australia, Tasmania, Papua Nugini, dan Irian Jaya

-          Pada tubuh terdapat spina dan rambut

-          Moncong memanjang dan berbentuk silinder dengan mulut yang kecil, tidak ada gigi

-          Lidah panjang, semut dan anai yang merupakan makanannya dapat melekat di lidah

-          Glandula mammae ada sepasang dan bermuara di dinding perut

Contoh : Tachyglossus spec.

II. Infraclass Metatheria

Ordo : Marsupialia

-          Rumus gigi : I 3/3 C 0/0 PM 5/5

-          Betina memiliki marsupium, kandungan di dinding perut yang menutupi papilla mammae

-          Tidak terjadi plasenta

-          Fertilisasi ovum intern : perkembangan ovum di dalam uterus, tetapi sebelum perkembangan selesai, fetus keluar dan masuk marsupium, dengan mulut ia melekat pada satu papilla mammae dan tetap demikian sampai perkembangannya selesai

Contoh : Macropus spec, kanguru

III. Infraclass Eutheria

Ordo : Chiropterari

  • Fertilisasi ovum intern, perkembangan terus berlangsung di dalam uterus, terjadi chorion dan plasenta
  • Membri anterius memanjang, begitu pula jari tangan kedua sampai dengan kelima, di antara jari-jari itu ada lipatan kulit yang dipakai untuk terbang dengan menggerakkannya seperti sayap pada burung
  • Gigi-gigi runcing

Cotoh : Rhinolophus affinis, kelelawar

Ordo : Primates

  • jari-jari dengan kuku
  • Arboreal atau terrestrial, dan diurnal
  • Ada sepasang glandula mammae yang terletak pectoral (pada dinding ventral thorax)
  • Rumus gigi : I 2/2 C 1/1 P 2/2 M 3/3
  • Nares menunjuk ke bawah, jarak antara kedua nares kecil
  • Sering dengan kandung pipi
  • Ada ekor, tidak untuk memegang
  • Kulit pada bokong mengalami cornifikasi yang tebal disebut belulang duduk
  • Moncong agak menonjol dan menyerupai moncong anjing

Contoh : Presbytis pyrrhus, lutung

Ordo : Carnivora

  • Ada linea jari, semuanya dengan cakar
  • radius, ulna, tibia, fibula lengkap terpisah
  • Dentes incisivi kecil, biasanya 3 buah pada tiap belah rahang
  • Dentes canini ada, langsing dan panjang
  • Plasenta zonalis, plasenta melingkari chorion

—  Familia : Canidae

v  Rumus gigi : I 3/3 C 1/1 P 4/4 M 2/3

v  Biasanya ada 5 pasang glandula mammae yang terletak pectoral, abdominal, dan inguinal (dekat lipat paha)

Contoh : Canis familiaris, anjing

Jenis-Jenis kaki pada mamalia

  • Plantigrad ( Homo sapiens )
  • Digigrad ( Felis )
  • Unguligrad ( Equus )

laporan zover ragunan

 

burung hantu “serak jawa” Juni 30, 2010

Filed under: sains — mya @ 10:16 am

BAB II

KERANGKA TEORI

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Burung Hantu

Burung hantu dalam bahasa inggrisnya disebut owl adalah kelompok burung yang merupakan anggota ordo Strigiformes. Burung ini termasuk golongan burung buas (karnivora, pemakan daging) dan merupakan hewan malam (nokturnal) yang berkaki dua. Seluruhnya, terdapat sekitar 222 spesies yang telah diketahui, yang menyebar di seluruh dunia kecuali Antartika, sebagian besar Greenland, dan beberapa pulau-pulau terpencil.

Burung hantu dikenal karena matanya besar dan menghadap ke depan mukanya rata seperti manusia, tak seperti umumnya jenis burung lain yang matanya menghadap ke samping. Penglihatannya sangat tajam sehingga burung hantu bisa melihat mangsanya dari jarak yang sangat jauh. Ini membantunya mencari makanan dalam kegelapan. Bersama paruh yang bengkok tajam mirip kait berguna untuk mengoyak daging seperti paruh elang dan susunan bulu di kepala yang membentuk lingkaran wajah, tampilan “wajah” burung hantu ini demikian mengesankan dan terkadang menyeramkan. Apalagi leher burung ini demikian lentur sehingga wajahnya dapat berputar 180 derajat ke belakang. Burung hantu jantan dan betina sekilas terlihat serupa, hanya burung hantu betina biasanya 25 persen lebih besar dari si jantan.

Umumnya burung hantu berbulu burik, kecoklatan atau abu-abu dengan bercak-bercak hitam dan putih. Dipadukan dengan perilakunya yang kerap mematung dan tidak banyak bergerak, menjadikan burung ini tidak mudah kelihatan; begitu pun ketika tidur di siang hari di bawah lindungan daun-daun. Burung hantu juga mempunyai bulu-bulu jambul yang lembut serta memiliki bulu-bulu sayap yang halus untuk membantunya terbang hampir tanpa suara dan bisa mengejutkan mangsanya. Seringkali mangsanya tidak bisa menghindar dari sergapan burung hantu. Ekor burung hantu umumnya pendek, namun sayapnya besar dan lebar. Rentang sayapnya mencapai sekitar tiga kali panjang tubuhnya.

Kebiasaan

Kebanyakan jenis burung hantu berburu di malam hari, meski sebagiannya berburu ketika hari remang-remang di waktu subuh dan sore (krepuskular) dan ada pula beberapa yang berburu di siang hari. Burung hantu berburu aneka binatang seperti serangga, kodok, tikus, dan lain-lain.

Sarang terutama dibuat di lubang-lubang pohon, atau di antara pelepah daun bangsa palem. Beberapa memanfaatkan ruang-ruang pada bangunan, seperti di bawah atap atau lubang-lubang yang kosong. Bergantung pada jenisnya, bertelur antara satu hingga empat butir, kebanyakan berwarna putih atau putih berbercak. Telurnya mempunyai cangkang yang keras dan dierami di dalam sarang yang diasuh oleh induk betina. Burung hantu sangat membatasi daerah teritorinya. Jika ada penyusup masuk, apalagi sampai ke tempat penyimpanan makanan, maka burung hantu bisa langsung membunuhnya.

Burung hantu tidak pernah membuat sarangnya sendiri. Mereka lebih sering memakai sarang yang sudah jadi, karena mereka malas membuatnya sendiri. Meskipun begitu, burung hantu tetap bertanggung jawab memberi makan anak-anaknya, dengan membawa pulang hasil perburuannya.

Keistimewaan

Salah satu indra terbaik pada burung adalah matanya. Burung dapat melihat benda di kejauhan lebih baik daripada manusia dan juga mempunyai sudut pandangan lebih luas. Dengan mengetahui apa-apa yang membahayakan di depannya, mereka secara tepat menentukan kecepatan dan arah terbangnya. Mata burung terkunci pada rongga matanya sehingga mereka tidak bisa menggerakkan bola matanya seperti manusia. Mereka dapat memperluas cakupan pandangannya dengan memutar kepala serta lehernya dengan cepat. Burung hantu mempunyai mata yang sangat lebar menghadap ke depan, sehingga memungkinkan mengukur jarak dengan tepat. Beberapa sel khusus di matanya sangat peka terhadap cahaya yang redup.  Paruh yang kuat dan tajam; kaki yang cekatan dan mampu mencengkeram dengan kuat; dan kemampuan terbang tanpa berisik Berkat keistimewaan ini burung hantu dapat melihat dan berburu dengan baik di malam hari.

Telinga burung hantu sangat peka terhadap suara. Mereka mempunyai pendengaran yang lebih baik daripada manusia. Ada semacam bulu-bulu seperti sikat pada dua sisi muka burung hantu yang menangkap gelombang suara dan meneruskannya ke dalam telinga. Bulu-bulu tersebut juga memisahkan satu telinga dari yang lainnya sehingga suara yang datang dari arah kanan akan lebih jelas terdengar pada telinga kanan. Terlebih lagi, posisi telinga di kepalanya tidaklah sejajar. Telinga yang satu lebih tinggi letaknya dari satu lainnya. Dengan demikian, burung hantu mampu menentukan arah suara yang datang dari berbagai penjuru. Karenanya, walaupun ia tidak melihat makhluk yang bersuara itu, ia dapat mengetahui letaknya secara tepat. Ini sangat menguntungkan sekali pada musim salju ketika mencari mangsa menjadi sangat sulit.

Ragam Jenis

Ordo Strigiformes terdiri dari dua suku (familia), yakni suku burung serak atau burung-hantu gudang (Tytonidae) dan suku burung hantu sejati (Strigidae). Banyak dari jenis-jenis burung hantu ini yang merupakan jenis endemik (menyebar terbatas di satu pulau atau satu region saja) di Indonesia, terutama dari marga Tyto, Otus, dan Ninox.

Tytonidae

Strigidae

2.1.2 Burung Hantu Serak Jawa ( Tyto alba )

Serak jawa berukuran besar (34cm), mudah dikenali sebagai burung hantu putih. Wajah berbentuk jantung, warna putih dengan tepi coklat. Mata menghadap kedepan, merupakan ciri yang mudah dikenali. Bulu lembut, berwarna tersamar, bagian atas berwarna kelabu terang dengan sejumlah garis gelap dan bercak pucat tersebar pada bulu. Ada tanda mengkilat pada sayap dan punggung. Bagian bawah berwarna putih dengan sedikit bercak hitam, atau tidak ada. Bulu pada kaki jarang-jarang. Kepala besar, kekar dan membulat. Iris mata berwana hitam. Paruh tajam, menghadap kebawah, warna keputihan. Kaki warna putih kekuningan sampai kecoklatan. Jantan-betina hampir sama dalam ukuran dan warna meski betina seringkali lebih besar 25%. Betina dan hewan muda umumnya punya bercak lebih rapat.

2.1.3 Klasifikasi Burung Hantu Serak Jawa

Kerajaan          : Animalia

Filum               : Chordata

Sub Filum        : Vertebrata

Kelas               : Aves

Ordo                : Strigiformes

Famili              : Tytonidae

Sub Famili       : Tytoninae

Genus              : Tyto

Spesies            : Tyto alba

Burung hantu tersebar hampir di seluruh bagian dunia. Di Indonesia sendiri, selain T.alba yang berasal dari Famili Tytonidae, juga terdapat beberapa genus dari Famili Strigidae, seperti:Otus,Bubo, danNinox

Walaupun telah dikenal jauh sebelumnya, T. alba baru dideskripsikan secara resmi pada tahun 1769 oleh seorang naturalis berkebangsaan Italia bernama Giovanni Scopoli. Nama spesies alba dipilih berdasarkan warna bulu badannya yang putih. Nama lain dari T.alba antara lain adalah: burung hantu muka monyet, burung hantu kerdil, burung hantu emas, burung hantu perak, burung hantu malam, burung hantu tikus, burung hantu pemekik, burung hantu jerami dan burung hantu cantik.

2.1.4 Morfologi, Anatomi dan Fisiologi

2.1.4.1 Morfologi ( Ciri Umum )

Badan bagian atas berwarna abu-abu terang dengan garis-garis gelap dan bintik-bintik pucat yang tersebar pada bulu-bulunya. Pada sayap dan punggung terdapat bintik-bintik lusuh. Badan bagian bawah berwarna putih dengan beberapa bintik-bintik hitam (terkadang tidak ada). Bulu-bulu pada kaki bagian bawah biasanya jarang (tipis). Bentuk muka menyerupai jantung berwarna putih dengan tepi berwarna kecoklatan dan pada tepi lingkar mata terdapat bintik- bintik berwarna coklat. Iris mata berwarna hitam. Kaki berwarna putih kekuning-kuningan sampai kecoklatan Ukuran tubuh jantan dan betina biasanya hampir serupa. Betina dan anakan lebih banyak memiliki bintik-bintik gelap.

- Ukuran tubuh

Ukuran tubuh antara jantan dan betina hampir serupa, namun demikian biasanya betina memiliki ukuran tubuh sedikit lebih besar daripada jantan.

Ukuran tubuh betina:                                      Ukuran tubuh jantan:

- Panjang badan: 34 – 40 cm                           – Panjang badan: 32 – 38 cm

- Rentang sayap: ± 110 cm                             – Rentang sayap: ± 107 cm

- Berat badan: ± 570 gr                                   – Berat badan: ± 470 gr

2.1.4.2  Anatomi (Ciri khusus)

struktur bulu                            paruh burung                           kaki/cakar

a. Struktur Bulu

Burung Hantu memiliki sedikit bulu bawah, tapi punya kait pada bagian bulu kontur dekat dengan kulit. Kebanyakan bulu Burung Hantu memiliki desain khusus. Disekitar wajah terdapat bulu cakram wajah yang kaku (ruff), bulu mahkota, bulu penutup telinga, dan juga bulu sekitar paruh. Kaki memiliki tendril yang berbulu, yang berguna sebagai penutup, membantu burung bereaksi terhadap obyek yang ditangkap, misal mangsa.

Bristle pada burung hantu diyakini dapat membantu dalam mendeteksi posisi sarang tempat bertengger dan juga benda yang menghalangi. Fungsi bristle didukung oleh adanya getaran  dan tekanan reseptor dekat folikel bulu. (Sukiya, 2003). Bristle adalah bulu kecil dengan ceruk kaku dengan kait pada bagian
dasar atau tidak ada sama sekali. Bristle umumnya berada pada sekitar
dasar paruh, mata, dan kelopak.

Adaptasi paling unik dari bulu Burung Hantu adalah ujung bulu primer sayap, yang seperti sisir. Pada kondisi penerbangan normal, udara bergejolak dipermukaan sayap, menciptakan turbulensi, dan menimbulkan suara. Dengan model sayapnya, ujung bulu sayap bentuk sisir, mematahkan turbulensi menjadi mikroturbulen. Hal ini efektif untuk meredam suara gejolak udara dipermukaan sayap dan memungkinkan burung untuk terbang tanpa suara.

b. Karakter Warna dan Pola Bulu

Secara umum, pola dan warna kriptik Burung Hantu memungkinkan untuk menyatu dengan keadaaan sekitarnya, untuk bersembunyi dari potensi bahaya. Hal ini khususnya penting bagi burung nokturnal, karena mereka perlu tetap bersembunyi saat bertengger di siang hari.

Saat terancam, seekor burung seringkali menunjukkan pose melindungi, dengan mata tertutup, bulu telinga terangkat, dan bulu yang merapat. Bulu telinga tidak ada kaitannya dengan pendengaran, hanya berupa bulu tampilan saja, digunakan untuk menunjukkan suasan hati, seperti takut, marah dan terkejut. Ini juga membantu berkamuflase.

c. Paruh

T.alba memiliki paruh yang besar dan berbentuk melengkung dengan ujung yang runcing dan tajam. Paruh yang kokoh seperti ini berfungsi untuk membunuh mangsa, membawa mangsa pada saat terbang, dan merobek-robek tubuh mangsa sebelum ditelan atau disuapkan kepada anakannya. Paruh tertutupi bulu, sehingga terkadang terlihat kecil. Pada saat dibuka untuk menelan mangsa, paruh akan terlihat sangat besar, cukup untuk menelan seekor mamalia kecil secara langsung.

d. Alat Gerak (Kaki dan jari)

T. alba memiliki kaki-kaki yang panjang dan besar serta dilengkapi dengan empat jari dan kuku yang kokoh. Keadaan ini membuat T.alba memiliki kemampuan yang baik dalam mencengkeram mangsa. Kokohnya cengkeraman cukup untuk membuat mangsa tidak berdaya (bahkan mati) pada saat ditangkap. Susunan jari-jari saat terbang biasanya adalah tiga mengarah ke depan dan satu ke belakang. Susunan ini sewaktu- waktu dapat diubah di mana tiga jari diarahkan ke belakang dan satu ke depan, dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan dalam menangkap mangsa. Saat hinggap, atau mencengkeram mangsa, bagian ujung jari tiap kaki akan melengkung kearah samping. Saat menyerang mangsa, cakarnya direntangkan lebar untuk memperbesar peluang keberhasilan serangan. Bagian bawah kaki ditutupi oleh permukaan kasar yang membantu menahan mangsa atau bertengger. Tyto alba juga memiliki gurat-gurat dibagian bawah jari tengah untuk membantu menahan mangsa dan juga untuk grooming.
Pada beberapa jenis Burung Hantu, diketahui bahwa kaki ikut membantu menjaga suhu tubuh. Kelebihan suhu tubuh dipancarkan melalui dasar kaki, yang memiliki pembuluh darah ekstra.

2.1.4.3 Fisiologi (Ciri Khusus)

Terbang dan memangsa                           bulu telinga                              memutar 1800

a. Kemampuan terbang

Strategi perburuan dari T. alba sangat berbeda dengan jenis-jenis burung predator yang lain. Burung-burung predator lain, mengandalkan kecepatan dan kejutan untuk mendatangi dan menangkap mangsa. Dalam perburuan mangsa, T. alba sangat bergantung pada cara terbangnya yang tanpa suara dan pada pendengarannya yang sangat tajam. Suara yang timbul akibat pergerakan sayap, diredam oleh semacam lapisan yang tampak seperti beludru pada permukaan bulu-bulu sayapnya. Selain itu, tepi sayap T. alba memiliki jumbai-jumbai yang sangat halus yang juga berfungsi untuk meredam bunyi kepakan sayap. Cara terbang yang tanpa suara ini menyebabkan mangsa tidak mampu mendengar pergerakan T. alba dan juga membantu pendengaran T. alba sendiri.

b. Indera penglihatan

Mata T. alba sangat peka sehingga dapat melihat pada kegelapan. Untuk mendeteksi lokasi mangsa, mata dan pendengaran T. alba bekerja bersama-sama dalam suatu harmoni yang serasi. Bola mata T. alba diketahui memiliki kedudukan tetap pada tempatnya, menghadap ke depan dan memberikan penglihatan yang bersifat binokuler dan stereoskopik. Kedudukan mata yang tetap memiliki kelemahan, terutama dalam hal mendeteksi lingkungan sekitar. Untuk menanggulangi hal ini, T. alba memiliki leher yang sangat fleksibel sehingga kepalanya dapat diputar 270 derajat dalam empat arah: ke arah kiri, kanan, atas dan bawah.

Mata T. alba memiliki adaptasi yang baik untuk melihat pada intensitas cahaya yang sangat rendah. Hal ini ditandai dengan ukuran pupil yang sangat besar dan retina yang tersusun dari sel-sel yang sangat sensitif, yang memberikan efek penglihatan monokromatik. Kemampuan melihat dalam gelap ini dikatakan sekitar 3 – 4 kali kemampuan manusia. Bola mata T. alba dilengkapi dengan lapisan membran penutup yang dapat dibuka dan ditutup. Gerakan buka-tutup dari membran tersebut berfungsi untuk membersihkan bola mata dari debu dan kotoran yang menempel pada permukaan mata.

c. Indera pendengaran

T. alba memiliki susunan letak lubang telinga yang cukup unik, karena tidak simetris dimana letak pada kepala antara satu dengan yang lainnya tidak sama tinggi dan dengan sudut yang berbeda pula. Lubang-lubang telinga tersebut diselubungi oleh suatu lapisan fleksibel yang tersusun dari bulu-bulu pendek seperti bulu-bulu yang menyelimuti lingkar mukanya. Lapisan tersebut berfungsi sebagai keping pemantul (reflektor) suara. Kelengkapan pendengaran seperti itu membuat T. alba memiliki pendengaran yang peka dan bersifat mengarah (direksional) terhadap sumber bunyi, sehingga T. alba mampu mendeteksi lokasi mangsa (dalam arah dan jarak) secara tepat walau dalam keadaan gelap gulita sekalipun.

Pada T.alba columella di bagian tengah telinga, berfungsi mengirimkan getaran dari membrane tympani ke bagian telinga dalam, koklea ada meskipun tidak berbentuk spiral sempurna (Sukiya, 2003).

d. Perilaku makan

T. alba memiliki kebiasaan makan yang unik. Tergantung ukuran mangsa yang tertangkap, T. alba dapat menelan utuh mangsanya atau membaginya dalam ukuran yang lebih kecil sebelum ditelan. Daging dan bagian yang lunak dari tubuh mangsa akan dicerna, sementara bulu-bulu dan tulang belulang tidak dicerna dan kemudian secara berkala dimuntahkan kembali dalam bentuk pellet.

2.1.5 Reproduksi

Beberapa peneliti menyatakan bahwa Tyto alba dapat bersifat poligami. Dijumpai seekor jantan dapat memiliki lebih dari satu pasangan, dengan jarak antar sarang kurang dari 100 meter. Selama percumbuan, jantan berputar sekitar pohon dekat sarang, sambil menyuarakan deritan dan koaran. Kebanyakan Tyto alba bersarang di lubang pohon sampai ketinggian 20 meter. Mereka juga dapat bersarang pada bangunan tua, gua, dan ceruk sumur.

Burung hantu dapat berkembang biak sepanjang tahun, tergantung kecukupan suplai makanan. Jika kondisi lingkungan memungkinkan, sepasang T.alba dapat berbiak dua kali dalam setahun. Pada daerah temperata dan sub Artik, perkembangbiakan (perkawinan dan peletakan telur) terjadi pada musim semi. Populasi tikus yang tinggi di suatu daerah dapat memacu perkembangbiakan populasi T. alba secara dramatis.

Dalam satu musim kawin individu betina T. alba dapat menghasilkan telur sebanyak 3– 6 butir (terkadang dapat mencapai 12 butir) dalam interval 2 hari. Telur berwarna putih dan

berbentuk bulat oval. Panjang telur 38 – 46 mm dengan lebar 30 – 35 mm. Telur dierami segera setelah telur pertama diletakkan dengan lama pengeraman 30 – 34 hari. Karena peletakan telur berlangsung dalam interval beberapa hari, maka penetasannya pun tidak bersamaan. Hal ini menyebabkan terjadinya gradasi ukuran tubuh anakan yang baru menetas. Anakan dengan ukuran tubuh terbesar biasanya memperoleh suplai makanan yang lebih banyak dari induknya. Akibatnya, jarang sekali ditemukan seluruh anakan yang menetas dalam satu sarang pada periode yang sama akan bertahan hidup, kecuali sumber makanan di sekitar sarang sangat banyak. Umumnya, anakan yang paling kecil (yang menetas terakhir) akan mati atau bahkan dibunuh oleh anakan yang lebih besar (lebih tua). Kelihatannya, hal ini merupakan strategi bertahan hidup yang ganjil, namun justru menjamin kelangsungan hidup suatu keluarga T. alba secara keseluruhan. Apapun kondisi ketersediaan makan yang ada di sekitar sarang, beberapa anakan akan bertahan hidup dan menghasilkan keturunan di masa yang akan datang. Jika semua anakan diberi jumlah makanan yang sama, resiko kematian anakan akan semakin besar terutama pada masa paceklik makanan.

Anakan T. alba berbulu putih dan diasuh oleh induknya selama sekitar 2 minggu dan disapih setelah 50 – 55 hari. Setelah itu, anakan tetap berada di sarang induknya selama lebih kurang satu minggu untuk belajar berburu, kemudian menyebar di areal sekitar sarang induknya itu. T. alba muda dapat berbiak setelah berumur sekitar 10 bulan.

2.1.6 Sarang dan Teritorial

Pada sudut pandang yang sempit, Burung Hantu tidak membangun sarang seperti burung penyanyi. Mereka merupakan pemakai sarang oportunis, menggunakan sarang yang sudah ada atau mengambil alih sarang yang ditinggalkan burung lain. Burung Hantu umumnya bersifat teritorial, suatu kenyataan yang nampak pada saat musim berbiak. Mereka dengan sekuat tenaga mempertahankan sarang dan teritori makan yang sangat jelas, dari individu lain atau jenis burung lain, yang menjadi pesaing untuk sumberdaya yang sama. Jika burung bersifat menyebar, sifat teritorial berakhir sampai musim berbiak. Pada Tyto alba, sifat teritorialnya kurang begitu kuat. Apabila jumlah makanan berlimpah, maka dapat dijumpai adanya koloni sarang pada area yang sama.

2.1.7 Mekanisme Berburu dan Mangsa

Tyto alba merupakan spesialis dalam berburu mamalia tanah kecil, dan kebanyakan mangsanya berupa hewan pengerat kecil. T. alba mengkhususkan diri untuk memangsa mamalia kecil yang hidup di permukaan tanah. Makanan utama adalah hewan pengerat (rodentia) kecil. Di Australia, makanan pokok T. alba adalah mencit (Mus musculus), sedangkan di Amerika dan Eropa adalah tikus ladang, cecurut, mencit dan tikus rumah. Mangsa lain adalah kelinci, kelelawar, katak, kadal, beberapa jenis burung lain dan serangga. Jenis-jenis mangsa tersebut biasanya didapatkan pada areal terbuka, terutama pada padang rumput. Tyto alba berbiak secara cepat sebagai respon terhadap ledakan populasi tikus. T. alba seringkali terlihat bertengger pada tempat-tempat yang agak tinggi untuk mengintai mangsanya.

Pada dasarnya kebutuhan konsumsi sekitar 1/3 dari berat tubuh. Namun saat burung memelihara anak, konsumsinya akan berkurang karena harus berbagi dengan anak. Untuk burung berumur 2-4 minggu, rata-rata konsumsinya sekitar 2-4 ekor tikus per malam. Untuk umur 3-5 minggu, mengkonsumsi sekitar 5-10 ekor per malam. Di Amerika, sepasang induk dengan lima anak, dapat mengkonsumsi sekitar 3000 ekor hewan pengerat dalam satu musim berbiak.
Tyto alba dewasa berburu sesaat setelah senja, dan perburuan berikutnya sekitar 2 jam menjelang fajar. Namun jika mereka sedang membesarkan anak, mereka akan aktif berburu sepanjang malam. Sangat jarang sekali dijumpai Tyto alba berburu pada siang hari. Jika ada kejadian perburuan di siang hari, bisa diduga burung tersebut sedang mengalami kelaparan.

Burung Hantu dapat mengadaptasi kemampuan berburu bergantung pada tipe mangsa. Serangga dan burung kecil dapat disergap di udara, kadang setelah diusir dari tajuk pohon atau semak oleh Burung Hantu. Sekali tertangkap, mangsa kecil dibawa dengan paruh, atau segera dimakan. Mangsa besar dibawa dengan cakar.

Burung Hantu dapat menyimpan kelebihan makanan di suatu tempat saat kondisi mangsa melimpah. Tempat menyimpan dapat berupa sarang, lubang pohon, atau cabang batang.

Mangsa biasanya ditemukan dengan cara membagi pandangan atas dan bawah, terutama pada padang rumput terbuka. Tyto alba sangat mengandalkan terbang tanpa suara dan pendengaran yang sangat kuat untuk menemukan mangsa. Suara sayap Tyto alba teredam oleh tumpukan beludru pada permukaan bulunya. Sebagai tambahan, ujung bulu sayap memiliki sisir halus yang meredam suara kepakan sayap.

2.2 Perilaku Umum

  1. a. Suara


Suara yang sering dikeluarkan oleh T. alba adalah cicitan serak (parau). Panggilan kawin (cumbuan) dari individu jantan berupa cicitan yang melengking dan berulang-ulang. Pada saat kembali ke sarang, individu dewasa terkadang mengeluarkan suara parau seperti suara katak. Jika dikejutkan, T. alba mengeluarkan desisan, cicitan dan suara gemeretak keras yang dilakukan dengan cara menggerak-gerakkan lidahnya.

b. Membersihkan Tubuh

Semua burung secara rutin membersihkan bulunya (preening – grooming) untuk membersihkan dari debu, kotoran dan parasit. Burung Hantu menggunakan paruh dan cakarnya untuk melakukan hal ini. Kait bulu terbang memiliki kait-kait kecil yang saling mengunci, membuat bulu menjadi satu permukaan kontinyu. Kait kecil ini seringkali terlepas saat kondisi terbang. Burung menggunakan paruhnya untuk menyusun ulang kait yang terlepas dan mengembalikan bulu pada kondisi terbaik. Ada kelenjar kecil yang disebut uropygial, terletak didekat ekor, yang menghasilkan cairan berminyak. Kelenjar ini dirangsang oleh paruh, yang juga digunakan untuk mentansfer cairan ke bulu untuk dijadikan lapisan pelindung.

  1. c. Bahasa Tubuh

Burung Hantu mempunyai bahasa tubuh yang sangat ekspresif. Kebanyakan jenis akan memutar-mutar kepalanya jika penasaran dengan sesuatu. Hal ini merupakan bukti tentang kemampuan mereka dalam kemampuan memandang 3 dimensi. Saat kondisinya santai, bulu-bulunya menjadi kendur dan mengembang. Jika seekor burung menjadi gelisah, maka akan nampak lebih langsing, bulu-bulunya ditarik merapat ketubuh, dan yang mempunyai bulu telinga akan ditegakkan. Saat melindungi anak atau dirinya sendiri, burung ini akan menunjukkan pose menyerang atau bertahan, dengan bulu dikembangkan untuk memperbesar penampakan ukuran. Kepala direndahkan, dan sayap dibentangkan kearah bawah. Beberapa jenis menjadi agresif saat bersarang dan dapat menyerang manusia.

2. 3 Habitat dan Penyebaran

-  Habitat

Serak jawa (Tyto Alba) yang umum didapati di wilayah berpohon, sampai dengan ketinggian 1.600 m dpl. Di tepi hutan, perkebunan, pekarangan, hingga taman-taman di kota besar. Sering bertengger rendah di tajuk pohon atau perdu, berbunyi-bunyi dengan memilukan, atau bersahutan dengan pasangannya. Sewaktu-waktu terjun menyambar mangsanya di permukaan tanah atau vegetasi yang lebih rendah. Sering pula berburu bersama dengan anak-anaknya. Aktif pada malam hari. Namun demikian, terkadang aktif pada senja hari dan dini hari, bahkan sesekali bisa dijumpai sedang terbang pada siang hari. Pada siang hari, T.alba biasanya berdiam diri pada lubang-lubang pohon, gua, sumur, bangunan-bangunan tua atau pada tajuk pepohonan yang berdaun lebat.

Beberapa jenis, khususnya Tyto, mampu menempati tempat buatan manusia yang mirip dengan lubang pohon. Sarang Gagak dan burung pemangsa lain yang sudah ditinggalkan, juga merupakan tempat pilihan. Hanya sedikit atau tidak ada usaha sama sekali untuk memperbagus konstruksi pembuat sarang sebelumnya. Celah batuan juga digunakan oleh beberapa jenis burung.

- Distribusi populasi

T.alba merupakan jenis burung yang tersebar hampir di seluruh bagian dunia (kosmopolitan). Populasi burung ini dapat ditemukan di seluruh benua (kecuali Antartika), termasuk di seluruh wilayah Australia dan Tasmania. T. alba juga dapat ditemukan di sebagian besar wilayah Inggris Raya dan sebagian besar Eropa daratan, sebagian besar wilayah Asia Selatan, Tenggara dan Barat, sebagian besar benua Afrika dan sebagian besar wilayah Amerika Utara. Di Amerika Selatan, T. alba dapat ditemukan di daerah padang rumput dan di kepulauan Oceania, seperti kepulauan Galapagos.

2.4. Manfaat

burung hantu sangat membantu untuk membasmi tikus serta menjadi indikator kesehatan hutan.

pemangsa dan sangat membantu manusia dalam membasmi hama pengerat seperti tikus.

BAB III

KESIMPULAN

Burung hantu termasuk kelas aves yang dapat terbang dan mempunyai keunikan. Serak jawa (Tyto alba) adalah salah satu dari jenis burung hantu yang mudah dikenali sebagai burung hantu putih. Mata menghadap kedepan, Kepala besar, kekar dan membulat. Iris mata berwana hitam. Paruh tajam, menghadap kebawah, warna keputihan.

Tyto alba mempunyai ciri khusus berupa;

-          Kemampuan terbang, cara terbang tanpa suara menyebabkan mangsa tidak mampu mendengar pergerakan T. Alba.

-          Indera penglihatan, memiliki adaptasi yang baik untuk melihat pada intensitas cahaya yang sangat rendah.

-          Indera pendengaran, memiliki susunan letak lubang telinga yang tidak simetris diselubungi lapisan fleksibel yang tersusun dari bulu-bulu pendek yang berfungsi sebagai keping pemantul suara yang peka dan bersifat mengarah terhadap sumber bunyi, sehingga mampu mendeteksi lokasi mangsa (dalam arah dan jarak) secara tepat walau dalam keadaan gelap gulita sekalipun.

-          Paruh, memiliki paruh yang besar dan berbentuk melengkung dengan ujung yang runcing dan tajam berfungsi untuk membunuh mangsa, membawa mangsa pada saat terbang, dan merobek-robek tubuh mangsa.

-          Kaki dan jari, memiliki kaki-kaki yang panjang dan besar serta dilengkapi dengan empat jari dan kuku yang kokoh, memiliki kemampuan yang baik dalam mencengkeram mangsa.

Adapun manfaat dari burung hantu dapat dijadikan sebagai pembasmi hama tikus yang dapat membantu para petani.

DAFTAR PUSTAKA

Sukiya. 2003. Biologi Vertebrata.Universitas Negeri Yogyakarta : JICA

http://id.wikipedia.org/wiki/Burung_hantu

http://akarrumput21.blogspot.com/2010_03_14_archive.html

http://sainsilmualam.blogspot.com/2010/04/makalah-biologi.html

http://serakjawa.blogspot.com/

http://www.scribd.com/doc/19562139/BURUNG-HANTU

 

kodok (kodok sawah) Mei 29, 2010

Filed under: sains — mya @ 7:46 am

BAB II

KERANGKA TEORI

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Kodok dan Katak

Kodok (bahasa Inggris: frog) dan katak alias bangkong (b. Inggris: toad) adalah hewan amfibia yang paling dikenal orang di Indonesia. Kedua macam hewan ini bentuknya mirip. Adapun perbedaan antara keduanya adalah:

Kodok bertubuh pendek, gempal atau kurus, berpunggung agak bungkuk, berkaki empat dan tak berekor (anura: a tidak, ura ekor). Kodok umumnya berkulit halus, lembab, dengan kaki belakang yang panjang.

Sebaliknya katak atau bangkong berkulit kasar berbintil-bintil sampai berbingkul-bingkul, kerapkali kering, dan kaki belakangnya pendek, sehingga kebanyakan kurang pandai melompat jauh. Pada beberapa jenis katak, sisi tubuhnya terdapat lipatan kulit berkelenjar mulai dari belakang mata sampai di atas pangkal paha yang disebut lipatan dorsolateral. Katak mempunyai mata berukuran besar, dengan pupil mata horisontal dan vertikal. Pada beberapa jenis katak, pupil matanya berbentuk berlian atau segi empat yang khas bagi masing-masing kelompok. Pada kebanyakan jenis, binatang betina lebih besar daripada yang jantan. Ukuran katak dan kodok di Indonesia bervariasi dari yang terkecil hanya 10 mm, dengan berat hanya satu atau dua gram sampai jenis yang mencapai 280 mm dengan berat lebih dari 1500 gram (Iskandar, 1998).

2.1.2 Kodok sawah

Kodok sawah ialah sejenis katak yang banyak hidup di sawah-sawah, rawa, parit dan selokan, sampai ke rawa-rawa bakau. Nama ilmiahnya Fejervarya cancrivora, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai marsh frog, rice-field frog atau crab-eating frog; nama yang terakhir diberikan karena kegemaran kodok ini memangsa ketam sawah (Lat. cancer ketam, vorare makan, memangsa). Orang Jawa menyebutnya sebagai kodok ijo, karena banyak juga di antaranya yang berwarna kehijauan. Nama daerah yang lain di antaranya adalah kodok cina (Betawi.) dan bangkong dingdang (Sunda.). Hewan jantan dewasa sekitar 60 mm dan betina dewasa sekitar 70-80 mm; namun yang terbesar bisa sampai dengan 120 mm SVL (snout to vent length, dari moncong ke anus). Spesimen yang kecil agak sukar dibedakan dari kodok tegalan (F. limnocharis).

2.1.3 Klasifikasi Kodok Sawah

Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Amphibia
Ordo: Anura
Famili: Ranidae
Genus: Fejervarya
Bolkay, 1915
Spesies: F. cancrivora

Kodok sawah dimasukkan ke dalam ordo Anura. Nama anura mempunyai arti tidak memiliki ekor (anura: a tidak, ura ekor). Seperti namanya, anggota ordo ini mempunyai ciri umum tidak mempunyai ekor, kepala bersatu dengan badan, tidak mempunyai leher dan tungkai berkembang baik. Tungkai belakang lebih besar daripada tungkai depan. Hal ini mendukung pergerakannya yaitu dengan melompat. (Duellman and Trueb, 1986).

Family Ranidae ini sering disebut juga katak sejati. Bentuk tubuhnya relatif ramping. Tungkai relatif panjang dan diantara jari-jarinya terdapat selaput untuk membantu berenang. Kulitnya halus, licin dan ada beberapa yang berbintil. Gelang bahu bertipe firmisternal. Pada kepala tidak ada pematang seperti pada Bufo. Mulutnya lebar dan terdapat gigi seperti parut di bagian maxillanya. Sacral diapophysis gilig. Fertilisasi secara eksternal dan bersifat ovipar. Famili ini terdiri dari 36 genus. Adapun contoh spesiesnya adalah: Rana chalconota, Rana hosii, Rana erythraea, Rana nicobariensis, Fejervarya cancrivora, Fejervarya limnocharis, Limnonectes kuhli, Occidozyga sumatrana. ( Eprilurahman, 2007 ).

2.1.4 Fisiologi, Morfologi dan Anatomi

2.1.4.1 Ciri Umum

Katak adalah bilateral simetris, dengan bagian sisi kiri dan kanan equal. Bagian tengah disebut medial, samping/lateral, badan muka depan adalah ujung anterior, bagian belakang disebut ujung posterior, bagian punggung atau dorsal, sedang bagian muka ventral. Bagian badan terdiri atas kepala/ caput, kerongkongan/ cervik, dada/ thorax atau pectoral, perut atau abdomen, pantat pelvis serta bagian kaudal pendek (Kastowo, 1982: 32).

Kaki katak terdiri atas sepasang kaki depan dan sepasang kaki belakang. Kaki depan terdiri atas lengan atas (brancium), lengan bawah (antebrancium), tangan (manus), dan jari-jari (digiti). Pada kaki belakang terdiri atas paha (femur), betis (crus), kaki (pes) dan jari-jari (digiti) (Radiopoetro, 1996: 474).

Dari segi anatomi, katak mempunyai jantung yang terdiri dari tiga ruang yang berbeda dari makhluk hidup darat yang terdiri dari 4 ruang dan makhluk hidup air seperti ikan yang hanya terdiri dari 2 ruang. Katak dan kodok pada umumnya mempunyai organ-organ yang sangat khusus untuk menunjang kehidupannya. Diantaranya adanya pulmo untuk kehidupan di darat, kulit berlendir dan kaki berselaput untuk memudahkan berenang di air, 2 lubang hidung yang berhubungan langsung dengan cavum oris yang digunakan untuk bernapas ketika katak dan kodok ini berada di dalam air.

Kepala dan badan lebar bersatu, ada dua pasang kaki atau anggota, tak ada leher dan ekor. Bagian dalam ditutupi dengat kulit basah halus lunak. Kepala mempunyai mulut yang lebar untuk mengambil makanan, 2 lubang hidung/ nares externa yang kecil dekat ujung hidung yang berfungsi dalam pernapasan, 2 mata yang besar spherik, dibelakangnya 2 lubang pipih tertutup oleh membrane tympani yang berfungsi sebagai telinga untuk menerima gelombang suara. Tiap mata mempunyai kelopak mata atas dan bawah, serta di dalamnya mempunyai selaput mata bening membrane nictitans untuk menutupi mata apabila berada di dalam air. Di bagian ujung belakang badan dijumpai anus, lubang kecil untuk membuang sisa-sisa makanan yang tak dicerna, urine dan sel-sel kelamin/ telur atau sperma dari alat reproduksi (Kastowo, 1982: 32 )

2.1.4.2 Ciri Khusus

a. Kulit dan Kelenjar Kulit

Kulit amphibi sangat penting dalam respirasi dan proteksi. Kulit yang tipis fleksibel membagi bagian luar badan untuk melindungi organisme terhadap penyakit, berfungsi dalam pernapasan, penyerapan air, sebab katak tidak pernah minum. Di lengkapi dengan kelenjar mukosa yang menyebabkan kulit terjaga kelembabannya, bagi spesies yang hidup di air, mukus memberikan minyak pelumas bagi tubuh. Sebagian besar memiliki kelenjar granular dan kelenjar mukus. Keduanya mirip, akan tetapi hasil produksinya berbeda. Kelanjar granular memproduksi zat abnoxious atau racun untuk melindungi diri dari musuh. Keduanya dikelompokkan sebagai kelenjar alveolar (kelenjar yang tidak mempunyai saluran pengeluaran, tetapi produknya di keluarkan lewat dinding selnya sendiri secara alami). Kelenjar racun dapat menimbukan iritasi pada kulit (Sukiya, 2005: 47).

b. Warna Tubuh

Amphibi mempunyai beragam warna dari hijau terang, orange dan emas, ada pula yang berwarna merah dan hijau namun jarang ditemukan. Warna tubuh ini bisa disebabkan oleh karena pigmen atau secara struktural atau dihasilkan oleh keduanya. Pigmen pada amfibi terletak pada kromatofora di kulit. Sel pigmen ini biasa dinamakan menurut jenis pigmen yang dikandung. Melanofora mengandung pigmen coklat dan hitam dan lipofora mengandung pigmen merah, kuning dan orange. Amfibi juga mempunyai pigmen yang disebut guanofora, mengandung kristal guanin yang dapat memproduksi efek putih terang.

c. Alat Gerak (appendages)

Secara umum katak jumlah jari tungkai depan biasanya empat jari dan tungkai belakang lima jari. Pada tungkai belakang memanjang yang berpotensi untuk melompat. Kadang-kadang dijumpai jari tambahan sebagai prehaluk pada sisi ventral kaki. Prehaluk ini pada Spadefoot (katak penggali tanah) berupa tulang-tulang keras yang digunakan untuk menggali tanah sebagai tempat bersembunyi (Radiopoetro, 1996: 474).

Ciri Khusus pada Katak Sawah

-          Bentuk Tubuh

Jenis kodok ini dikenal sebagai kodok hijau atau kodok sawah. Ciri utamanya adalah bentuk timpanium bulat utuh tanpa ada lapisan kulit yang menutupi. Diameter timpanium sekitar separuh diameter mata. Selaput renang pada jari tangan tidak ada, sedangkan pada jari kaki hanya menjangkau ¾ dari panjang jari tengah (jari paling panjang). Pada punggung terdapat banyak guratan yang  menonjol dan memanjang.

-          Warna Tubuh

Punggung umumnya berwarna lumpur kecoklatan, dengan bercak-bercak gelap tidak simetris berwarna gelap. Warna punggung sangat bervariasi dari warna hijau muda sampai hijau tua atau coklat muda sampai coklat tua. Garis terang terpanjang punggung kadang ada kadang tidak, karena hanya merupakan variasi individu. Terkadang terdapat warna hijau lumut terang pada spesimen-spesimen yang besar. Sisi tubuh dan lipatan paha dengan bercak-bercak hitam. Tangan dan kaki kerap bercoreng-coreng. Bibir berbelang hitam.

-          Alat Gerak

Terdapat lipatan-lipatan kulit tipis memanjang di atas punggung, serupa jalur bintil atau pematang. Kaki dengan selaput renang yang penuh sampai ke ujung jari, kecuali pada jari kaki keempat. Bintil metatarsal tunggal, terdapat di sisi dalam (pangkal jari pertama) kaki, memanjang bentuknya. Kodok yang bertubuh kecil sampai agak besar, gempal, dengan kaki yang kuat dan paha yang berotot besar.

2.1.4.3 Reproduksi

Pada saat bereproduksi katak dewasa akan mencari lingkungan yang berair. Disana mereka meletakkan telurnya untuk dibuahi secara eksternal. Telur tersebut berkembang menjadi larva dan mencari nutrisi yang dibutuhkan dari lingkungannya, kemudian berkembang menjadi dewasa dengan bentuk tubuh yang memungkinkannya hidup di darat, sebuah proses yang dikenal dengan metamorfosis. Tidak seperti telur reptil dan burung, telur katak tidak memiliki cangkang dan selaput embrio. Sebaliknya telur katak hanya dilindungi oleh kapsul mukoid yang sangat permeabel sehingga telur katak harus berkembang di lingkungan yang sangat lembab atau berair. Sekali bertelur katak bisa menghasilkan 5000-20000 telur, tergantung dari kualitas induk dan berlangsung sebanyak tiga kali dalam setahun.

Telur-telur kodok dan katak menetas menjadi berudu atau kecebong, yang bertubuh mirip ikan gendut, bernafas dengan insang dan selama beberapa lama hidup di air. Perlahan-lahan akan tumbuh kaki belakang, yang kemudian diikuti dengan tumbuhnya kaki depan, menghilangnya ekor dan bergantinya insang dengan paru-paru. Setelah masanya, berudu ini akan melompat ke darat sebagai kodok atau katak kecil.

Kodok dan katak kawin pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada saat bulan mati atau pada ketika menjelang hujan. Pada saat itu kodok-kodok jantan akan berbunyi-bunyi untuk memanggil betinanya, dari tepian atau tengah perairan. Suara keras kodok dihasilkan oleh kantung suara yang terletak di sekitar lehernya, yang akan menggembung besar manakala digunakan.

Telur kodok

Dua ekor berudu

Kodok tegalan dewasa

Proses perkawinan secara eksternal dilakukan di dalam perairan yang tenang dan dangkal. Di musim kawin, ditemukan fenomena unik yang disebut dengan amplexus, yaitu katak jantan yang berukuran lebih kecil menempel di punggung betina dan mendekap erat tubuh betina yang lebih besar. Sambil berenang di air, kaki belakang kodok jantan akan memijat perut kodok betina dan merangsang pengeluaran telur. Perilaku tersebut bermaksud untuk menekan tubuh betina agar mengeluarkan sel telurnya sehingga bisa dibuahi jantannya. Pada saat yang bersamaan kodok jantan akan melepaskan spermanya ke air, sehingga bisa membuahi telur-telur yang dikeluarkan si betina. Amplexus bisa terjadi antara satu betina dengan 2 sampai 4 pejantan di bagian dorsalnya dan sering terjadi persaingan antar pejantan pada musim kawin. Siapa yang paling lama bertahan dengan amplexusnya, dia yang mendapatkan betinanya. (Duellman and Trueb, 1986).

2.1.5 Makanan

Kodok memangsa berbagai jenis serangga yang ditemuinya. Kodok kerap ditemui berkerumun di bawah cahaya lampu jalan atau taman, menangkapi serangga-serangga yang tertarik oleh cahaya lampu tersebut. Semua amfibi adalah karnivora. Makanannya terutama terdiri dari Arthropoda, cacing dan larva serangga, terutama untuk jenis kecil. Jenis yang lebih besar dapat memakan binantang yang lebih kecil, seperti ikan kecil, udang, kerang, katak kecil atau katak muda, dan bahkan kadal kecil. Namun kebanyakan berudu katak adalah herbivora, kecuali berudu Kaloula dan Kalophrynus sama sekali tidak makan, dan sepenuhnya mendapat makanan dari kuning telur yang tersedia. Berudu Occidozyga bersifat karnivora, terutama memakan larva serangga dan cacing tanah. Berudu biasanya makan di dasar perairan dan beberapa jenis mencari makan di permukaan air.

2.1.6 Mekanisme Pertahanan

Amfibi tidak mempunyai alat fisik untuk mempertahankan diri. Pada beberapa jenis katak mempunyai geligi seperti taring di bagian depan rahang atas sebagai alat pertahanan diri dengan cara menggigit musuhnya. Katak dan kodok juga mempunyai kaki belakang yang lebih panjang daripada kaki depan, yang berfungsi untuk melompat dan menghindar dari bahaya.

Alat lain yang efektif sebagai pertahanan diri adalah kulit yang beracun. Banyak jenis Bufonidae dan Ranidae mampunyai kelenjar racun yang tersebar di permukaan kulit dan tonjolan-tonjolan, misalnya Dendrobates pumilio. Beberapa jenis dari suku Microhylidae mempunyai kulit yang sangat lengket sehingga predator menjauhinya dan bahkan ada yang menghasilkan semacam lendir pekat yang lengket, sehingga mulut pemangsanya akan melekat erat dan susah dibuka.

2. 2 Habitat dan Penyebaran Kodok Sawah

Kodok yang sering dijumpai di daerah berawa, khususnya dekat lingkungan buatan manusia: kebun yang becek, sawah, saluran air; namun agak jarang di aliran sungai. Juga merupakan satu-satunya jenis amfibia modern yang mampu hidup di daerah yang berair payau dan hutan bakau.

Kebanyakan aktif di waktu gelap dan pagi hari, di siang hari kodok ini berlindung di balik rerumputan atau celah di pematang atau tebing saluran air; dan tiba-tiba melompat ke air apabila hendak terpijak. Pada malam hari, terutama sehabis hujan turun, kodok jantan berbunyi-bunyi memanggil betinanya dari tepi air: …dododododok.. dododok, dengan ritme cepat. Namun alih-alih berbunyi bersama, kodok-kodok jantan ini saling menyendiri.

Kodok hijau dapat hidup di hutan primer hingga area persawahan. Di hutan primer jenis ini sedikit dijumpai, akan tetapi berlimpah di persawahan karena sawah merupakan habitat buatan manusia yang sangat disukainya (Inger & Lian, 1996). Kodok hijau akan sangat berlimpah pada saat umur padi masih muda, karena ketersediaan air masih banyak dan menggenangi semua permukaan tanah petak persawahan. Kelimpahannya akan menurun sejalan dengan menyusutnya persediaan air dan menuainya tanaman padi. Persawahan merupakan habitat kodok hijau berkembang biak, mencari makan dan tumbuh dewasa, jadi seluruh siklus hidupnya berlangsung di tempat ini. Kodok ini dapat dijumpai pada ketinggian tempat antara 0-1500  meter dari permukaan laut (dpl) (Kurniati, 2000, kurniati, 2003, Liem, 1973). Pada umumnya mereka dijumpai melimpah di  areal persawahan yang terletak pada dataran rendah ( 0-300 meter dpl ). Dari kelompok suku Ranidae, hanya F.cancrivora yang dapat beradaptasi dengan air payau.

Penyebaran kodok hijau cukup luas, mulai dari pantai selatan Cina, India, Asia Tenggara termasuk Filipina ( IUCN, 2006 )  dan  ditemukan sebagai jenis pendatang di Papua ( Monzier, 2006).

2.3. Manfaat

-          Sebagai bahan makanan

Daging kodok adalah sumber protein hewani yang tinggi kandungan gizinya. Limbah kodok yang tidak dipakai sebagai bahan makanan manusia dapat dipakai untuk ransum binatang ternak, seperti itik dan ayam.

Kulit kodok yang telah terlepas dari badannya bisa diproses menjadi kerupuk kulit kodok.

Kodok sawah juga sering dicari orang untuk diambil pahanya yang gemuk, untuk dijadikan masakan swike (swie kee, ayam air) yang lezat di restoran tionghoa. Sudah sejak lama kodok dikenal manusia sebagai salah satu makanan lezat. Di rumah-rumah makan Tionghoa, masakan kodok terkenal dengan nama swie kee. Disebut ‘ayam air’ (swie: air, kee: ayam) demikian karena paha kodok yang gurih dan berdaging putih mengingatkan pada paha ayam. Selain itu, di beberapa tempat di Jawa Timur, telur-telur kodok tertentu juga dimasak dan dihidangkan dalam rupa pepes telur kodok.

-          Merangsang pembuahan buatan

Kepala kodok yang sudah terpisah dapat diambil kelenjar hipofisanya dan dimanfaatkan untuk merangsang kodok dalam pembuahan buatan. Daging kodok dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit.

-          Indikator pencemaran lingkungan

Katak berperan sangat penting sebagai indikator pencemaran lingkungan. Tingkat pencemaran lingkungan pada suatu daerah dapat dilihat dari jumlah populasi katak yang dapat ditemukan di daerah tersebut. Latar belakang penggunaan katak sebagai indikator lingkungan karena katak merupakan salah satu mahluk purba yang telah ada sejah ribuan tahun lalu. Jadi katak tetap exist dengan perubahan iklim bumi.

-          Sebagai pengasil devisa negara

Indonesia adalah negara pengekspor terbesar daging paha kodok. Mulai dari jenis penghuni sawah (Fejervarya spp) hingga penghuni perairan berarus deras (Limnonectes spp) yang umumnya berukuran besar (macrodon).

Selain itu, kodok juga sebagai komoditas ekspor bahan baku sarung tangan—dari jenis kodok berkulit kasar (Bufo spp) yang dagingnya mengandung racun. Aktivitas ekspor tersebut menghasilkan devisa negara.

BAB III

KESIMPULAN

Kodok dan katak termasuk kedalam kelas amphibia yang merupakan hewan vertebrata pertama yang hidup di darat dan peralihan dari perairan ke daratan. Sebagian besar siklus kehidupan pertamanya dihabiskan di dalam air dari bentuk larva kecebong yang bernafas dengan insang luar dan mengalami metamorphosis anak katak dan bernafas dengan paru-paru ketika dewasa.

Katak dan kodok mempunyai ciri khusus berupa;

-          Kulit dan kelenjar, kulit dan kelenjar ini penting dalam respirasi dan proteksi. Pada beberapa kodok atau katak kulit ini dapat mengeluarkan kelenjar racun.

-          Warna tubuh, terdapat variasi warna pada berbagai macam amfibi, hal ini dipengaruhi oleh pigmen yang terdapat pada kromatofora kulit. Warna ini juga dapat digunakan sebagai proteksi.

-          Alat gerak, Pada tungkai belakang memanjang yang berpotensi untuk melompat.

-          Pada kodok sawah, terdapat ciri utama yaitu bentuk timpanium bulat utuh tanpa ada lapisan kulit yang menutupi.

Katak sawah mempunyai ciri punggung umumnya berwarna lumpur kecoklatan, dengan bercak-bercak tidak simetris berwarna gelap. Sisi tubuh dan lipatan paha dengan bercak-bercak hitam. Tangan dan kaki kerap bercoreng-coreng. Bibir berbelang hitam.

Mempunyai keistimewaan, merupakan satu-satunya jenis amfibia modern yang mampu hidup di daerah yang berair payau dan hutan bakau.

Adapun manfaat dari kodok dan katak dapat digunakan sebagai bahan makanan baik oleh manusia maupun hewan, dapat digunakan pula untuk merangsang pembuahan buatan untuk katak betina dan dapat meningkatkan devisa negara.

DAFTAR PUSTAKA

Sukiya. 2003. Biologi Vertebrata.Universitas Negeri Yogyakarta : JICA

http://id.wikipedia.org/wiki/Kodok_dan_katak

http://id.wikipedia.org/wiki/Kodok_sawah

http://www.iptek.net.id/ind/warintek

http://muhammad-ariefrahman.blogspot.com

http://didik-abd.blogspot.com

http://ksh.biologi.ugm.ac.id

http://teknologitinggi.wordpress.com/2008/12/17

 

ikan pari (pari manta)

Filed under: sains — mya @ 7:33 am

BAB II

KERANGKA TEORI

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Ikan Pari

Ikan pari (rays) termasuk dalam ikan bertulang rawan dan grup Cartilaginous (Last and Stevens,1994). Ikan pari mempunyai bentuk tubuh gepeng melebar (depressed) dimana sepasang sirip dada (pectoral, fins)-nya melebar dan menyatu dengan sisi kiri-kanan kepalanya, sehingga tampak atas atau tampak bawahnya terlihat bundar atau oval. Ikan pari umumnya mempunyai ekor yang sangat berkembang (memanjang) menyerupai cemeti. Pada beberapa spesies, ekor ikan pari dilengkapi duri penyengat sehingga disebut ‘sting-rays’, mata ikan pari umumnya terletak di kepala bagian samping. Posisi dan bentuk mulutnya adalah terminal (terminal mouth) dan umumnya bersifat predator. Ikan ini bernapas melalui celah insang (gill openings atau gill slits) yang berjumlah 5-6 pasang. Posisi celah insang adalah dekat mulut di bagian bawah (ventral). Ikan pari jantan dilengkapi sepasang alat kelamin yang disebut “clasper” letaknya di pangkal ekor. Ikan pari betina umumnya berbiak secara melahirkan anak (vivipar) dengan jumlah anak antara 5-6 ekor. Gambar 1, menyajikan ilustrasi ikan pari dengan bagian-bagiannya.

Gambar 1 : Bentuk Ikan Pari dan Bagian-Bagiannya

Ukuran ikan pari dewasa bervariasi dari ukuran yang relatif kecil, yaitu lebar 5 cm dengan panjang 10 cm (famili NARKIDAE) hingga berukuran sangat besar yaitu lebar 610 cm dengan panjang 700 cm (pari Manta, famili MOBULIDAE). Jumlah jenis ikan pari yang mendiami perairan di seluruh dunia belum ada informasi yang tepat. Adapun yang pernah teridentifikasi secara akurat di Indonesia sesuai hasil penelitian Sainsbury et,al.(1985) dan Tarp and Ifailola (1982) yang dilakukan di Samudera Hindia sebanyak 16 spesies. Penelitian lain yang di lakukan di Laut Cina Selatan oleh Isa et.al. (1998) mencatat sebanyak 4 spesies. Distribusi geografis ikan pari adalah sangat luas, ikan pari ditemukan diperairan tropis, subtropis dan perairan di antartika yang dingin.

2.1.2 Pari  Manta

Ikan pari manta (Manta birostris) adalah salah satu spesies ikan pari terbesar di dunia. Lebar tubuhnya dari ujung sirip dada ke ujung sirip lainnya mencapai hampir 7 meter (kemungkinan lebih karena ada laporan yang mengatakan bahwa ada manta yang lebar tubuhnya mencapai 9,1 meter). Bobot terberat manta sendiri yang pernah diukur mencapai 3 ton.

Manta dapat ditemukan di lautan tropis di seluruh dunia – kurang lebih antara 35O lintang utara hingga 35O lintang selatan. Persebarannya yang luas dan penampilannya yang unik menyebabkan ikan ini memiliki banyak nama mulai dari “manta Pasifik”, “manta Atlantik”, “devil fish”, hingga “sea devil”. Di Indonesia sendiri, pari manta memiliki aneka nama lokal seperti cawang kalung, plampangan, serta pari kerbau (mungkin karena bagian tubuh mirip tanduk di kepalanya sehingga ia dianggap mirip dengan kerbau).

Pari manta belakangan dikategorikan sebagai “dekat dengan ancaman” (near threatened) oleh IUCN karena walaupun jumlahnya belum masuk kategori terancam punah, namun di masa depan diperkirakan populasinya akan menyusut hingga akhirnya terancam punah. Populasi pari manta dianggap dekat dengan bahaya karena tingginya kegiatan perikanan dan kondisi laut yang semakin terpolusi, namun rasio kelahiran mereka rendah.

2.1.3    Klasifikasi

Manta birostris

Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Chondrichthyes
Ordo: Rajiformes
Famili: Myliobatidae
Upafamili: Mobulinae
Genus: Manta
Spesies: M. birostris

Manta dimasukkan ke dalam famili Myliobatidae yang terdiri dari 40 spesies pari berbeda. Famili dari ikan pari ini juga dikenal sebagai “pari elang” (eagle ray) karena mereka tidak hidup di dasar laut dan berenang bebas sehingga saat dilihat mereka sekilas seperti elang yang “terbang” di dalam laut. Famili Myliobatidae ini dibagi dalam 4 subfamili dan pari manta dimasukkan ke dalam subfamili Mobulinae yang juga diisi oleh ikan pari dari genus Mobula yang memiliki penampilan mirip pari manta namun ukurannya lebih kecil. Nama “manta” sendiri berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “selimut”.

Ada 3 spesies yang sebelumnya dianggap merupakan bagian dari genus Manta:

  1. Manta birostris (pari manta Atlantik),
  2. Manta hamiltoni (pari manta Pasifik), dan
  3. Manta raya (pari manta Pangeran Alfred).

Ketiga pari manta itu sendiri sangat mirip satu sama lain. Belakangan, setelah dilakukan penelitian terhadap contoh gen mereka, ketiga spesies itu dimasukkan dalam satu spesies yang sama: spesies Manta birostris. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa setidaknya ada 2 spesies manta: yang satu berukuran besar dan suka bermigrasi, sementara yang satunya lagi berukuran lebih kecil dan lebih suka menetap.

2.1.4 Fisiologi dan Anatomi

Manta memiliki fisik yang secara umum mirip dengan kebanyakan ikan pari dengan sirip dada yang lebar serta ekor kecil seperti cambuk. Sirip dadanya yang lebar membuat tubuhnya terlihat pipih. Manta bergerak memakai sirip dadanya dengan cara mengombakkannya dari bagian dekat kepala hingga ke belakang tubuh sehingga saat dilihat, pari manta seolah-olah sedang terbang di dalam laut.

Ekor manta sendiri lebih pendek dibandingkan dengan ekor ikan pari kebanyakan dan tidak bersengat.

Kulit manta juga diselubungi lapisan lendir yang jauh lebih tebal dibandingkan ikan pari kebanyakan. Lapisan lendir ini diduga ada hubungannya untuk melindungi kulitnya yang rentan.

Manta juga memiliki ukuran otak yang lebih besar dibandingkan ikan pari lain dan hiu kerabatnya sehingga mereka dianggap lebih cerdas dibandingkan kerabatnya yang lain.

Di dalam mulutnya juga terdapat 300 gigi kecil berbentuk pasak dan nyaris tersembunyi di bawah kulit. Gigi ini tidak digunakan untuk makan, namun mungkin gigi ini berguna saat manta melakukan perkawinan.

Manta juga memiliki lima pasang celah insang di bagian bawah tubuhnya untuk mengeluarkan air yang masuk melalui mulutnya. Di bagian dalam celah insangnya terdapat tapis insang atau piringan penyaring (filter plate) yang berfungsi untuk memerangkap plankton yang masuk bersama dengan air laut.

2.1.5. Ciri Umum Ikan Pari

Ikan pari merupakan salah satu jenis ikan yang termasuk kelas Elasmobranchii.

Ciri-ciri Taksonomi & morfologi ikan pari:

  • Hidup di dasar laut
  • Ikan ini dikenal sebagai ikan batoid (sekelompok ikan bertulang rawan yang mempunyai ekor seperti cambuk)
  • Memiliki celah insang yang terletak disisi ventral kepala
  • Sirip dada ikan ini melebar menyerupai sayap, dengan sisi bagian depan bergabung dengan kepala
  • Bagian tubuh sangat pipih
  • Bentuk ekor seperti cambuk pada beberapa spesies, dengan sebuah atau lebih duri tajam di bagian ventral dan dorsal (Anonim, 1988).

2.1.6. Ciri Khusus pada Ikan Pari

Sisik à ada berbagai macam sisik

Sisik adalah bagian tubuh luar dan merupakan ciri sangat penting baik untuk I ikan tulang keras maupun ikan tulang rawan. Sisik, umumnya sebagai pelindung dan penutup tubuh. Sisik placoid, hanya ada pada ikan bertulang rawan, terdapat lapisan dentin. Bentuk sisik seperti bunga mawar dengan dasar yang bulat/bujur sangkar, bagian yang menonjol seperti duri keluar dari epidermis. Contoh: Ikan pari dan hiu. Sisik plakoid pada ikan hiu dan ikan pari sangat berbeda dalam bentuk dan susunannya. Ikan pari, giginya berubah secara berkala menjadi lebih besar, piringan dasar tergabung menjadi satu sehingga mampu memecah cangkang moluska, gigi ini merupakan derivate dari sisik.

Sisik tipe ktenoid pada dasarnya sama seperti sikloid mengenai struktur dan susunannya, tetapi berbeda pada bagian belakangnya yaitu berbentuk seperti sisir. Beberapa spesies mungkin mereduksi menjadi satu tonjolan atau spina (duri). Sisik ktenoid ditemukan menjadi duri sirip dorsal pada ikan pari.

Alat Gerak (appendages) dan Lokomosi

Kelompok ikan sejenis ikan pari, sirip pektoralnya sangat membesar dan menempel sepanjang tubuh mulai dari belakang kepala sampai di depan sirip pelvik. Bahkan pada ikan electric ray sirip tersebut menyatu pada ujungnya sebagai alat untuk memancarkan cahaya. Ikan pari umumnya memiliki dua sirip median dorsal yang letaknya jauh dari ekor, tetapi tidak ada pada ikan pari berduri (sting ray). Sirip anal jelas tidak ada. Meski sirip ekor tidak ditemukan pada kebanyakan ikan pari, tetapi berkembang baik pada ikan pari elektrik. Bagian dalam dari sirip pelvik ikan hiu jantan dan ikan pari jantan berubah menjadi klasper sebagai alat untuk memindahkan sperma kepada hewan betina.

Ikan pari duri (ray-finned) siripnya disokong oleh duri lembut yang mudah terlihat, selamanya tidak tertutup oleh kulit keras seperti elasmobranchii.

Ikan pari berenang dengan gerakan menggelombang sirip pectoral yang lebar. Warna punggung dari ikan pari mirip dengan warna dasar sekitar dan beberpa jenis mempunayi duri beracun atau organ elektrik yang juga merupakan alat pelindung diri.

Ikan berbisa dan beracun

Luka yang disebabkan oleh ikan berbisa umumnya karena injeksi racun ke dalam tubuh korban dengan menggunakan duri yang sangat pendek. Ikan beracun, dapat meneyebabkan sakit atau kematian bila daging atau sebagian organ tubuhnya dimakan hewan pemangsa. Beberapa ikan hiu dan pari, spina dorsal berhubungan dengan kelenjar bisa yang sangat beracun. Kelenjar racun ikan pari (Dasyatis), yaitu pada duri ekor yang bengkok & dalam (jaringan vasodentine).

Ikan bioluminesen

Bioluminesen adalah pancaran sinar oleh organisme, sebagai hasil oksidasi dari berbagai substrat dalam memproduksi enzim. Susunan substratnya lusiferin, dan enzim yang sangat sensitive sebagai katalisator oksidasi, disebut lusiferase.

Bioluminesen diproduksi oleh bakteri, jamur ataupun binatang invertebrate. Diantara hewan bertulang, hanya ikan yang mampu memproduksi sinar. Organ luminesen ditemukan pada ikan pari berlistrik dan beberapa ikan tulang keras khsusnya ikan yang tinggal di laut dalam.

Adanya organ yang memproduksi  sinar ini dapat digunakan untuk menaksir kadalaman laut, dimana ikan tersebut tinggal. Ini dimaksudkan juga bahwa ikan tersebut memproduksi sinar untuk mendapatkan makanan, mengacaukan musuh, menerangi lingkungan ataupun menarik perhatian lawan jenisnya. Semua ini masih dugaan, akan tetapi pada prinsipnya berfungsi untuk mendapatkan “penghargaan” antar indivdu dalam satu jenis.

Ikan memproduksi bioluminesen dengan 2 cara, yaitu oleh pori-pori yang bercahaya ataupun organ bersimbiose dengan bakteri pengahasil sinar. Intensitas bioluminesen mungkin bertambah atau berkurang. Cara lain dalam memproduksi sinar bergantung pada ekspansi dan kontraksi kromatofora pada permukaan kulit.

Organ Listrik

Mengapa ikan listrik tidak menyengat dirinya sendiri, hal tersebut sulit untuk dipahami meskipun ada dua penjelasan, yaitu bahwa system saraf ikan selalu diseliputi oleh lemak dan arus listrik mengalir selalu tegak lurus.

Ciri Khas Ikan Pari Manta

ü  Tanduk (khas pari manta)

Ciri khas manta adalah sepasang “tanduk” di dekat mulutnya. “Tanduk” ini sebenarnya adalah sepasang sirip sefala (kepala) yang membantu memasukkan air laut yang mengandung plankton makanannya dan bisa ditekuk ke dalam mulut.

ü  Warna Tubuh

Manta memiliki warna yang bervariasi, mulai dari hitam, biru keabu-abuan, cokelat, hingga nyaris putih. Pola warna pada tubuh manta juga bervariasi di mana pada pari manta yang ditemukan di Pasifik timur bagian bawah tubuhnya berwarna dominan hitam, sementara pada jenis pari manta yang ditemukan di Pasifik barat, warna bagian bawah tubuhnya pucat. Belum diketahui apa fungsi dan penyebab dari pewarnaan bervariasi ini, namun warnanya yang bervariasi memudahkan para ilmuwan untuk membedakan manta dari wilayah yang satu dengan wilayah lainnya.

ü  Melompat dari Air

Manta terkenal karena ia bisa melompat keluar dari air dan karena ukuran tubuhnya yang besar, ia selalu menarik perhatian saat sedang melakukan lompatan. Ada beberapa teori mengenai sebab mereka melompat dari air. Mereka mungkin melakukan itu untuk melarikan diri dari pemangsanya atau untuk melepas parasit yang menempel pada tubuhnya. Teori lainnya, manta menggunakan itu untuk berkomunikasi satu sama lain. Manta juga diperkirakan melompat keluar air untuk menunjukkan kekuatannya saat sedang mencari pasangan.

Hal unik lain seputar pewarnaan manta adalah mereka memiliki semacam pola di bagian bahu serta bawah tubuhnya dan pola-pola ini berbeda pada setiap individu manta sehingga dianggap mirip dengan sidik jari pada manusia.

2.1.7 Makanan

Manta dikenal sebagai salah satu ikan besar yang memakan plankton (filter feeder). Ia makan dengan cara membuka mulutnya sambil berenang sehingga plankton yang berada dalam air masuk ke dalam mulutnya. Ia juga bisa menggunakan sepasang sirip kepalanya yang mirip tanduk itu untuk mengarahkan plankton agar masuk ke mulutnya. Dengan cara ini ia dianggap berburu secara pasif karena ia tidak mengejar mangsanya untuk makan. Manta juga diketahui memakan hewan-hewan kecil seperti udang dan anak ikan.

2.1.8 Reproduksi

Di musim kawin, sejumlah besar manta akan berkumpul untuk mencari pasangan kawin. Beberapa manta jantan bisa saling bersaing untuk mendapatkan manta betina pasangannya. Manta jantan yang berhasil mendapatkan manta betina akan berpegangan pada sirip pasangannya menggunakan giginya dan merapatkan perutnya, lalu memulai perkawinan dengan cara memasukkan alat kelaminnya ke dalam lubang kelamin betina. Perkawinan berlangsung selama kurang lebih 90 detik.

Pari manta adalah ovovivipar di mana telur menetas saat masih berada di dalam tubuh induknya. Seekor manta betina bisa membawa 2 bayi manta sekaligus dalam tubuhnya. Periode “kehamilan” manta sendiri belum diketahui secara pasti, namun kemungkinan bisa berlangsung antara 9-12 bulan. Bayi manta yang baru menetas lalu keluar dari tubuh induknya dengan kondisi sirip yang masih terlipat. Bayi manta mulai aktif segera setelah ia mengembangkan siripnya dan bisa langsung mulai berenang. Seekor bayi manta yang baru lahir diketahui bisa berukuran selebar 1,2 meter dan seberat 45 kg. Bayi manta bisa tumbuh sangat cepat karena dalam waktu satu tahun, lebar tubuh mereka sudah mencapai hampir 2 kali lebarnya saat pertama kali lahir. Usia maksimal pari manta sendiri yang diketahui mencapai 20 tahun.

2.1.9 Interaksi dengan hewan Lain

Ikan remora yang menempel pada perut manta

Ikan-ikan kecil diketahui sering berada di dekat manta. Salah satu spesies ikan laut yang paling sering diketahui suka berada di dekat manta adalah ikan remora (Echeneida sp.). Ikan ini biasa ditemukan menempel pada bagian bawah tubuh manta memakai semacam penghisap pada bagian atas tubuhnya. Remora mendapat keuntungan dengan menempel pada manta karena ia terlindung dari pemangsanya dan ia memperoleh “makanan gratis” berupa parasit yang menempel pada kulit manta.

2.1.10 Pemangsa

Hewan laut yang diketahui sebagai pemangsa utama pari manta adalah ikan-ikan hiu semisal hiu macan (Galeocerdo cuvier). Manta tidak memiliki alat pertahanan semisal gigi tajam atau sengat sehingga ia mengandalkan kemampuan berenangnya untuk melarikan diri dari musuhnya (termasuk mungkin dengan melompat keluar dari air). Manta juga diketahui bisa memakai sirip dadanya untuk memukul penyerangnya.

2.1.11 Jenis-jenis ikan pari

Di Indonesia dikenal beberapa jenis ikan pari, diantaranya:

  • Pari Burung (Rhinoptera javanica)
  • Pari Kelapa (Trygon sephen)
  • Pari Kembang (Amphostistius kuhlii)
  • Pari Kampret (Gymnura micrura)
  • Pari Totol (Himantura varnak)
  • Pari Kekeh (Rhinobatus djiddensis)
  • Pari Ayam (Dasyatis sephen) (Anonim, 1979; Anonim 1989).

2.1.12 Jenis-Jenis Ikan Pari (Rays)

  • 1. Pari Mondol-White Spotted Whipray (Himantura Gerardi)
  • 2. Pari Minyak – Blue Spotted Maskray (Dasyati Kuhlii)
  • 3. Pari Cingir – Whiptail Stingray (Himantura Bleekeri)
  • 4. Pari Keprak / Pari Kupu-Kupu – Zonetail Butterfly Rays (Aetoplatea Zonura)
  • 5. Pari Mutiara – Jenkins Whipray (Himantura Jenkinsii)
  • 6. Pari Hidung Runcing -Sharpnose (Dasyatis Zugei)

  • 7. Pari Macan – Leopart Whipray (Himantura Undulata)
  • 8. Maugean Skate
  • 9. Giant Shovelnose Ray (Rhinobatos typus)
  • 10. Pari Hiu – Shark Ray (Rhina ancylostoma)
  • 11. White Spotted Shovelnose Ray (Rhynchobatus djiddensis)

  • 12. Spotted Shovel Nose Ray (Aptychotrema sp)
  • 13. Yellow Shovel Nose Ray (Aptychotremata sp)
  • 14. Brown Stingaree (Urolophus westraliensis)
  • 15. Blotched Stingaree (Urolophus mitosis)
  • 16. Banded Numbfish (Narcine westraliensis)

  • 17. Ornate Numbfish (Narcine sp)
  • 18. Numbfish (Hypnos monopterygium
  • 19. Eyed Skate (Raja sp)
  • 20. Western Round Skate (Irolita sp)
  • 21. Brown Stingray (Dasyatis annolatus)

  • 22. Brown Reticulad Stingray (Dasyatis teylandi)
  • 23. Blue Spotted Stingray (Dasyatis kuhlii)
  • 24. Black Stingray (Dasyatis thetidis)
  • 25. Cowtail Stingray (Pastinachus sephen)

  • 26. Black Blotched Stingray (Taeniura meyeni)
  • 27. BLue Spotted Fantail Stingray (Taeniura iymma)
  • 28. Black Spotted Stingray (Himantura toshi)
  • 29. Manta Ray (Manta birostris)
  • 30. Patchwork Stingaree (Urolophus flavomosaicus)
  • 31. Rat Tailed Ray (Gymnura australis)

  • 32. Pari Burung Elang – Barbless Eagle Ray (Aetomyleus nichofii)
  • 33. Pari Burung Elang – Spotted Eagle Ray (Aetobatus narinari)
  • 34. Pari Harimau

  • 35. Pari Raksasa
  • 36. Pari Mirip Manusia

2.2 Penyebaran dan kemelimpahan ikan pari

Ikan pari (famili Dasyatidae) mempunyai variasi habitat yang sangat luas dengan pola sebaran yang unik (Cartamil et al., 2003). Daerah sebaran ikan pari adalah perairan pantai dan kadang masuk ke daerah pasang surut dan biasanya ditemukan:

  • Di perairan laut tropis (Tam et al., 2003)
  • Di perairan tropis Asia Tenggara (Thailand,Indonesia,Papua Nugini)
  • Amerika Selatan (Sungai Amazon)

Tetapi terdapat sejumlah spesies ikan pari bermigrasi dari perairan laut ke perairan tawar (Yuen et al., 2003).

Di perairan laut, ikan pari mempunyai peran ekologis yang sangat penting, terutama sebagai predator bentos (Gray et al., 1997). Namun beberapa aspek biologi (misalnya: reproduksi, diet dan fisiologi) ikan pari belum dikaji secara menyeluruh (Snelson et al., 1988; Gilliam and Sullivan, 1993; Sisneros and Tricas, 2000).

Di perairan Indonesia, ikan pari tertangkap hampir sepanjang tahun (Anonim, 1979). Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian (1995), bahwa produksi tangkapan ikan pari pada tahun 1993 sebesar lebih kurang 35.686 ton (Statistika Perikanan Indonesia, 1995).

2.3 Manfaat ikan pari

Manfaat ikan pari adalah:

  • untuk diambil dagingnya, sbgai bahan makanan
  • untuk diambil kulitnya
  • untuk diambil tulangnya, sebagai sumber penghasil gelatin

Meskipun ikan pari tertangkap dalam jumlah yang cukup besar, namun pemanfaatannya masih sangat terbatas sedangkan bagian lainnya terbuang sebagai limbah (Anonim, 1989; Saleh et al., 1995).

BAB III

KESIMPULAN

Ikan pari termasuk ke dalam ikan bertulang rawan, mempunyai bentuk tubuh gepeng melebar menyatu dengan sisi kiri-kanan kepalanya. Umumnya mempunyai ekor menyerupai cemeti. Mata ikan pari umumnya terletak di kepala bagian samping.

Secara fisiologi dan anatomi,

-          Alat gerak pari bergerak memakai sirip dadanya dengan cara mengombakkannya dari bagian dekat kepala hingga ke belakang tubuh, berenang dengan gerakan menggelombang sirip pectoral yang lebar.

-          Sisik ikan pari terdapat 2 macam, yaitu sisik plakoid dan ktenoid. Sisik ktenoid pada beberapa spesies mereduksi menjadi satu tonjolan atau duri yaitu duri sirip dorsal pada ikan pari.

-          Pada beberapa spesies, terdapat ikan pari yang berbisa dan beracun. Racun tersebut terdapat pada spina dorsal berhubungan dengan kelenjar bisa yang sangat beracun. Serta terdapat ikan pari yang ekornya dilengkapi duri penyengat sehingga disebut ‘sting-rays’,

-          Pada pari manta, terdapat ciri khas yaitu  sepasang “tanduk” di dekat mulutnya yang sebenarnya adalah sepasang sirip kepala untuk membantu memasukkan air laut yang mengandung plankton makanannya dan bisa ditekuk ke dalam mulut.

-          Warna tubuh manta memiliki warna yang bervariasi, mulai dari hitam, biru keabu-abuan, cokelat, hingga nyaris putih.

Manfaat dari ikan pari dapat digunakan kulit, daging dan tulangnya.

DAFTAR PUSTAKA

Sukiya. 2003. Biologi Vertebrata.Universitas Negeri Yogyakarta : JICA

http://id.wikipedia.org

http://banyulaut.blogspot.com/2010/03/sistem-itegumen-pada-ikan.html

http://biologikini.wordpress.com

 

laporan mikrobiologi Februari 9, 2010

Filed under: sains — mya @ 7:41 am

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam bidang mikrobiologi, dipelajari mengenai mikroba yang meliputi bakteri, fungi atau mikroorganisme lainnya, baik dalam morfologi dan penampakan koloninya. Karena itu, untuk melihat dengan jelas penampakan mikroba tersebut, terlebih dahulu kita membuat biakan atau piaraan organisme. Sebelumnya, bahan serta peralatan harus dalam keadaan steril, artinya pada bahan dan peralatan yang ingin dipergunakan tidak terdapat mikroba lain yang tidak diharapkan. Proses dari kegiatan steril disebut sterilisasi.

Sementara itu, untuk menumbuhkan mikroorganisme yang sudah dibiakkan (murni) digunakan media. Media merupakan campuran dari beberapa zat-zat makanan untuk pertumbuhan mikroba dan berfungsi sebagai nutrisi bagi mikroba tersebut. Media dibedakan berdasarkan fase (sifat fisik media), yaitu media padat, media setengah padat, media cair, dan berdasarkan komposisinya, yaitu media sintesis, media semi sintesis, dan media non sintesis. Dari media tersebut, maka kita dapat mengetahui sifat dan bentuk (koloni) dari mikroba.

Pada penelitian ini saya akan membuat piaraan mikroba dengan menggunakan media padat, yaitu agar-agar sebagai tempat pertumbuhan mikroba dan media apel serta kentang untuk mengetahui pertumbuhan organisme dari beberapa macam tanah. Setelah itu mengidentifikasi sifat dan koloni mikroba yang terdapat pada biakan.

1.2 Tujuan

  1. Mengetahui dan mengamati pertumbuhan mikroorganisme pada media apel dan kentang dari berbagai karakteristik tanah.
  2. Mempelajari teknik / cara dari proses sterilisasi pada alat dan bahan.
  3. Mempelajari dan mengetahui cara pembuatan media padat Potato Sucrose Agar (PSA).
  4. Memepelajari teknik / cara penanaman mikroba
  5. Mengamati sifat pertumbuhan dan bentuk koloni mikroba pada berbagai media.

BAB II

KAJIAN TEORI

  1. I. Pembiakkan Mikroba

Mikrobiologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuk, sifat, dan kehidupan jasad hidup mikroba (jasad renik, mikrobia, mikroorganisme). Untuk mempelajari mikroorganisme yang mempunyai ukuran kecil ini diperlukan adanya suatu pengamatan. Pengamatan itu dapat dilakukan dengan pemiaraan (kultur/biakan) mikroorganisme yang berfungsi memudahkan pengamatan.

Ada beberapa istilah dalam pembiakkan mikroorganisme:

Biakan murni

Biakan murni bakteri adalah biakan yang terdiri atas satu spesies bakteri yang ditumbuhkan dalam medium buatan. Medium buatan tersebut berfungsi sebagai medium pertumbuhan.

Piaraan campuran, Piaraan murni

Supaya kita mendapatkan satu spesies saja dalam satu piaraan, maka perlulah diadakan suatu piaraan murni (pure culture). Piaraan murni dapat diperoleh dari piaraan campuran (mixed culture) dengan cara sebagai berikut.

Kalau kita pertama kali mengadakan piaraan, biasanya yang kita peroleh itu suatu piaraan campuran. Misal, kita ambil bahan (sampel) dari udara, dari tanah, dari kotoran; kalau bahan itu kita sebarkan pada medium steril, akan tumbuhlah beraneka koloni yang masing-masing mempunyi sifat-sifat yang khas. Jika kita mengambil bahan dari salah satu koloni tersebut, kemudian bahan itu kita tanam pada medium baru yang steril, maka bahan itu akan tumbuh menjadi koloni yang murni, asalkan pekerjaan pemindahan itu dilakukan dengan cermat menurut teknik aseptik, yaitu menggunakan alat-alat yang steril dan aturan-aturan laboratorium tertentu. Piaraan yang kita peroleh dengan jalan demikian kita sebut piaraan pertama (primary culture), dan sifatnya murni. Piaraan semacam ini dapat disimpan, tetapi tiap-tiap waktu tertentu harus diadakan peremajaan dengan memindahkannya ke medium baru. Piaraan-piaraan yang diperoleh dari piaraan pertama disebut piaraan turunan (sub-culture).Tiap-tiap laboratorium perlu menyimpan beberapa jenis piaraan murni. Negara-negara yang sudah maju mesti mempunyai koleksi pelbagai piaraan murni; piaraan simpanan itu disebut juga “stock culture”.

  1. II. Sterilisasi

Bahan ataupun peralatan yang dipergunakan di dalam mikrobiologi, harus dalam keadaan steril. Artinya, pada bahan atau  peralatan tersebut tidak terdapat mikroba yang tidak diharapkan kehadirannya, baik akan mengganggu / merusak media ataupun mengganggu kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan. Sterilisasi yaitu proses atau kegiatan membebaskan/pemusnahan bakteri dengan cara membunuh mikroorganisme suatu bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan.

Beberapa cara untuk mensterilkan medium

a. Dalam abad 18 orang mensterilkan medium cukup dengan mendidihkan medium tersebut selama beberapa jam. Dengan jalan ini maka matilah semua benih kehidupan. Cara yang demikian ini dilakukan oleh Spallanzani (1729 – 1799) untuk membuktikan tidak mungkinnya abiogenesis.

b. Tyndallisasi. Metode ini berupa mendidihkan medium dengan uap untuk beberapa menit saja. Sehabis didiamkan satu hari – selama itu spora-spora sempat tumbuh menjadi bakteri vegetatif – maka medium tersebut dididihkan lagi selama beberapa menit. Akhirnya pada hari ketiga, medium tersebut dididihkan sekali lagi. Dengan jalan demikian ini diperolehlah medium yang steril, dan lagi pula, zat-zat organik yang terkandung di dalamnya tidak mengalami banyak perubahan seperti halnya pada (a).

c. Dengan autoklaf, yaitu alat serupa tangki minyak yang dapat diisi dengan uap. Medium yang akan disterilkan ditempatkan di dalam autoklaf ini selama 15 sampai 20 menit; hal ini bergantung kepada banyak sedikitnya barang yang perlu disterilkan. Medium yang akan disterilkan itu lebih baik ditempatkan dalam beberapa botol yang agak kecil daripada dikumpul dalam satu botol yang besar. Setelah pintu autoklaf ditutup rapat, barulah kran pada pipa uap dibuka, dan temperatur akan terus menerus naik sampai 121o C. Biasanya autoklaf sudah diatur demikian rupa, sehingga pada suhu tersebut, tekanan ada sebesar 15 lbs (pounds) per inch persegi yang berarti 1 atmosfer per 1 cm2. Perhitungan waktu 15 atau 20 menit itu dimulai semenjak termometer pada autoklaf menunjuk 121oC. Setelah cukup waktu, maka kran uap ditutup, dan dengan demikian akan kita saksikan, bahwa suhu mulai turun sedikit demi sedikit, demikian pula manometer. Autoklaf tidak boleh dibuka sekonyong-konyong. Jika diperbuat demikian, maka isi botol yang ada di dalam autoklaf akan meluap ke mana-mana. Baiklah kita menunggu sampai manometer menunjukkan 0, barulah autoklaf kita buka. Pendinginan dilakukan sedikit demi sedikit. Jika medium mengandung vitamin, gelatin atau bangsa gula, maka setelah sterilisasi sependek-pendeknya dalam autoklaf, medium tersebut haruslah segera didinginkan sesudahnya dikeluarkan dari autoklaf. Perbuatan ini perlu untuk menghindarkan terurainya zat-zat tersebut. Medium yang sudah steril dapat disimpan dalam almari es..

d. Dengan penyaringan (filtrasi). Medium disaring dengan saringan porselin atau dengan tanah diatom. Dengan jalan ini, maka zat-zat organik tidak akan mengalami penguraian sama sekali. Hanya sayang, virus tak dapat terpisah dengan penyaringan, medium masih perlu dipanasi dalam autoklaf, meskipun tidak selama 15 menit dengan temperatur 121o C. Penyaringan dapat dilakukan juga dengan saringan yang dibuat dari asbes. Saringan ini lebih murah dan lebih mudah penggunaannya daripada saringan porselin. Saringan asbes dapat dibuang setelah dipakai, sedangkan saringan porselin terlalu mahal untuk dibuang, dan terlalu sulit untuk dibersihkan.

Pensterilan gelas-gelas

Gelas, botol, pipa, pipet yang sudah bersih tidak disterilkan di dalam autoklaf, karena barang-barang tersebut akan tetap basah sehabis sterilisasi. Alat-alat dari gelas dimasukkan di dalam oven kering selama 2 – 3 jam pada temperatur 160o – 170o C; hal ini bergantung kepada banyak sedikitnya muatan yang dimasukkan dalam oven. Kapas masih dapat bertahan dalam oven kering selama waktu dan pada temperatur seperti tersebut di atas. Alat-alat yang belum bersih dan belum kering tidak boleh dimasukkan dalam oven kering. Pensterilan alat-alat dapat pula dilakukan dengan gas etilen oksida. Hal ini harus dikerjakan dengan hati-hati, karena ada bahaya letusan.

Macam-macam sterilisasi

Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi.

1. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik. Sistem kerja filter, seperti pada saringan lain adalah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat (dalam hal ini adalah mikroba).

2. Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran.

  • Pemanasan

a. Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L, dll.

b. Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll.

c. Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi.

d. Uap air panas bertekanan : menggunakan autoklaf

  • Penyinaran dengan UV

Sinar Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses sterilisasi, misalnya untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior Safety Cabinet dengan disinari lampu UV. Pemanasan dengan menggunakan sinar gelombang pendek lain seperti sinar-x, sinar gamma dll.

3. Sterilisaisi secara kimiawi, biasanya menggunakan senyawa desinfektan antara lain alkohol, larutan formalin, larutan AMC (campuarn asam klorida dengan garam Hg) dsb.

III. Media (Medium)

Untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroba, diperlukan suatu substrat yang disebut media.sedang media itu sendiri sebelum dipergunakan harus dalam keadaan steril, artinya tidak ditumbuhi oleh mikroba lain.

Media-media yang dapat digunakan dalam uji mikrobiologi ini antara lain:

  1. PCA (Plate Count Agar): Digunakan sebagai media pertumbuhan bakteri
  2. PDA (Potato Dextrose Agar): Digunakan sebagai media pertumbuhan khamir dan kapang
  3. Pepton: sebagai bahan pengencer

Pengertian dan Fungsi

Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media pertumbuhan dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya.

Macam-Macam Media Pertumbuhan

1. Medium berdasarkan sifat fisik (bentuk)

  • Medium padat yaitu media yang mengandung agar 15% sehingga setelah dingin media menjadi padat. Umumnya dipergunakan untuk bakteri, ragi, jamur dan kadang mikroalge.
  • Medium setengah padat yaitu media yang mengandung agar 0,3-0,4% sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair. Media semi solid dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media tetapi tidak mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Biasanya untuk mikroba yang banyak memerlukan kandungan air dan hidup anaerobik.
  • Medium cair yaitu media yang tidak mengandung agar/tidak ditambah zat pemadat, contohnya adalah NB (Nutrient Broth), LB (Lactose Broth). Biasa dipergunakan untuk kiroglae dan bakteri seperti bakteri dan ragi.

2. Medium berdasarkan komposisi (susunan)

  • Medium sintesis yaitu media yang komposisi zat kimianya diketahui jenis dan takarannya secara pasti, misalnya Glucose Agar, Mac Conkey Agar.
  • Medium semi sintesis yaitu media yang sebagian komposisinya diketahui secara pasti, misanya PDA (Potato Dextrose Agar) yang mengandung agar, dekstrosa dan ekstrak kentang. Untuk bahan ekstrak kentang, kita tidak dapat mengetahui secara detail tentang komposisi senyawa penyusunnya.
  • Medium non sintesis/alami yaitu media yang dibuat dengan komposisi yang tidak dapat diketahui secara pasti dan biasanya langsung diekstrak dari bahan dasarnya, misalnya Tomato Juice Agar, Brain Heart Infusion Agar, Pancreatic Extract.

3. Medium berdasarkan tujuan penggunaan

  • Media untuk isolasi

Media ini mengandung semua senyawa esensial untuk pertumbuhan mikroba, misalnya Nutrient Broth, Blood Agar.

  • Media selektif/penghambat

Media selektif yaitu media yang dibuat untuk menekan pertumbuhan bakteri yang tidak diinginkan dan meningkatkan pertumbuhan bakteri yang diinginkan. Media yang hanya cocok untuk species-species tertentu dan tidak cocok untuk species yang lain. Contohnya adalah Luria Bertani medium yang ditambah Amphisilin untuk merangsang E.coli resisten antibotik dan menghambat kontaminan yang peka, Ampiciline. Salt broth yang ditambah NaCl 4% untuk membunuh Streptococcus agalactiae yang toleran terhadap garam.

  • Media diperkaya (enrichment)

Media diperkaya adalah media yang mengandung komponen dasar untuk pertumbuhan mikroba dan ditambah komponen kompleks seperti darah, serum, kuning telur. Media diperkaya juga bersifat selektif untuk mikroba tertentu. Bakteri yang ditumbuhkan dalam media ini tidak hanya membutuhkan nutrisi sederhana untuk berkembang biak, tetapi membutuhkan komponen kompleks, misalnya Blood Tellurite Agar, Bile Agar, Serum Agar, dll.

  • Media untuk peremajaan kultur

Media umum atau spesifik yang digunakan untuk peremajaan kultur

  • Media untuk menentukan kebutuhan nutrisi spesifik.

Media ini digunakan unutk mendiagnosis atau menganalisis metabolisme suatu mikroba. Contohnya adalah Koser’s Citrate medium, yang digunakan untuk menguji kemampuan menggunakan asam sitrat sebagai sumber karbon.

  • Media untuk karakterisasi bakteri

Media yang digunakan untuk mengetahui kemampuan spesifik suatu mikroba. Kadang-kadang indikator ditambahkan untuk menunjukkan adanya perubahan kimia. Contohnya adalah Nitrate Broth, Lactose Broth, Arginine Agar.

  • Media diferensial

Media diferensial yaitu media yang dibuat untuk memudahkan mengenali koloni organisme yang diinginkan. Media ini bertujuan untuk mengidentifikasi mikroba dari campurannya berdasar karakter spesifik yang ditunjukkan pada media diferensial, misalnya TSIA (Triple Sugar Iron Agar) yang mampu memilih Enterobacteria berdasarkan bentuk, warna, ukuran koloni dan perubahan warna media di sekeliling koloni.

Komponen anorganik maupun organic merupakan substrat ataupun medium yang baik bagi kehidupan mikroorganisme. Mikroorganisme penghuni tanah merupakan campuran populasi dari protozoa (amoeba, flagllata, cilliata), bakteri (clostridium, rhizobium), alga (ganggang) seperti alga biru, hijau dan jamur terutama jamur bertingkat rendah seperti jamur lender, berbagai ragi, dan berbagai phyromycetes dan ascomycetes (Dwijoseputro, 1998)

IV. Penanaman Mikroba (inokulasi)

Pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru minta banyak ketelitian. Terlebih dahulu harus diusahakan agar semua alat-alat yang ada sangkut-paut dengan medium dan pekerjaan inokulasi itu benar-benar steril; ini untuk menghindari kontaminasi, yaitu masuknya mikroorganisme yang tidak kita inginkan.

A. Menyiapkan ruangan

Ruang tempat inokulasi itu kecil, bersih, dan bebas angin. Dinding ruang yang basah menyebabkan butir-butir debu menempel kepadanya. Pada waktu mengadakan inokulasi, baik sekali jika meja tempat inokulasi itu didasari dengan kain basah. Pekerjaan inokulasi dapat dilakukan juga di dalam suatu kotak berkaca (ent-kas). Dalam laboratorium untuk membuat vaksin, serum dan sebagainya, udara yang masuk ke dalam ruangan itu dilewatkan saringan yang disinari dengan sinar ultra-ungu.

B. Pemindahan dengan kata inokulasi

Ujung kawan inokulasi sebaiknya dari platina atau dari nikrom; ujung itu boleh lurus, boleh juga berupa kolongan yang berdiameter 1 – 3 mm. Lebih dahulu ujung kawat ini dipijarkan, sedang sisanya sampai tangkai cukup dilewatkan nyala api saja. Setelah dingin kembali, ujung kawat itu disentuhkan suatu koloni. Mulut tabung tempat pemiaraan itu dipanasi juga setelah sumbatnya diambil. Setelah pengambilan inokulum (yaitu sampel bakteri) selesai, mulut tabung dipanasi lagi kemudian disumbat seperti semula. Ujung kawat yang membawakan inokulum tersebut digesekkan pada medium baru atau pada suatu kaca benda, kalau tujuannya memang akan membuat suatu sediaan.

C. Pemindahan dengan pipet

Cara ini dilakukan misalnya pada penyelidikan air minum atau pada penyelidikan susu. Untuk itu diambillah 1 ml contoh untuk diencerkan dengan 99 ml air murni yang steril. Kemudian diambil 1 ml dari enceran ini untuk dicampur-adukkan dengan medium agar-agar yang masih dalam keadaan cair (suhu antara 42 – 45oC). Lalu agar-agar yang masih encer ini dituangkan di cawan Petri. Setelah agar-agar membeku, maka cawan Petri yang berisi piaraan baru itu disimpan dalam tempat yang aman, misalnya di dalam almari atau di dalam laci.

D. Teknik Penanaman

a. Teknik penanaman dari suspensi

Teknik penanaman ini merupakan lajutan dari pengenceran bertingkat. Pengambilan suspensi dapat diambil dari pengenceran mana saja tapi biasanya untuk tujuan isolasi (mendapatkan koloni tunggal) diambil beberapa tabung pengenceran terakhir.

a.1. Spread Plate (agar tabur ulas)

Spread plate adalah teknik menanam dengan menyebarkan suspensi bakteri di permukaan agar diperoleh kultur murni.

a.2. Pour Plate (agar tuang)

Teknik ini memerlukan agar yang belum padat (>45oC) untuk dituang bersama suspensi bakteri ke dalam cawan petri lalu kemudian dihomogenkan dan dibiarkan memadat. Hal ini akan menyebarkan sel-sel bakteri tidak hanya pada permukaan agar saja melainkan sel terendam agar (di dalam agar) sehingga terdapat sel yang tumbuh dipermukaan agar yang kaya O2 dan ada yang tumbuh di dalam agar yang tidak banyak begitu banyak mengandung oksigen.

b. Teknik Penanaman dengan Goresan (Streak)

Bertujuan untuk mengisolasi mikroorganisme dari campurannya atau meremajakan kultur ke dalam medium baru.

b.1 Goresan Sinambung

Goresan sinambung umumnya digunakan bukan untuk mendapatkan koloni tunggal, melainkan untuk peremajaan ke cawan atau medium baru.

b.2 Goresan T

B.3 Goresan Kuadran (Streak quadrant)

  1. V. Identifikasi Mikroba

Untuk mengetahui sifat-sifat morfologi bakteri, maka bakteri dapat diperiksa dalam keadaan hidup atau mati. Pemeriksaan morfologi bakteri ini perlu, untuk mengenal nama bakteri. Disamping itu juga perlu pengenalan sifat-sifat fisiologisnya bahkan sifat-sifat fisiologis ini kebanyakan merupakan faktor terentu dalam mengenal nama spesies suatu bakteri. Pemeriksaan bakteri hidup harus dikerjakan dengan hati-hati, lebih-lebih jika yang akan diperiksa itu merupakan bakteri patogen.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba yaitu :

  1. Suplai zat gizi.

Mikroorganisme membutuhkan makanan sama seperti mahkluk lainnya. Jadi dengan adanya zat gizi yang cukup maka pertumbuhan mikroba akan sangat cepat.

  1. Waktu.

Tentu saja seriap makhluk hidup termasuk mikroba membutuhkan waktu untuk berkembang biak. Pertumbuhan bakteri membentuk suatu kurva atau fase logritmik.

  1. Suhu.

Suhu sangat penting bagi pertumbuhan mikroba, apabila suhu naik maka metabolisme naik dan pertumbuhan dipercepat atau apabila suhu naik atau turun sel berhenti melakukan kegiatan metabolisme.

  1. Nilai pH.

Nilai pH untuk pertumbuhan bakteri adalah sekitar atau berkisar antara pH 6,0-8,0.

  1. Aktifitas air.

Semua organisme membutuhkan air pada proses metabolisme. Aktifitas air adalah jumlah air yang terdapat dalam bahan pangan. Jenis mikroba yang berbeda membutuhkan air yang berbeda.

  1. Ketersediaan Oksigen.

Mikroba terbagi atas beberapa kelompok :

-Aerobik : membutuhkan udar unutk kegiatan metabolismenya.

-Anaerobik : tidak dapat tumbuh dengan adanya oksigen, bahkan oksigen merupakan racun baginya.

-Anaerobik fakultatif : dimana oksigen digunakan akan dipergunakan apabila tersedia, jika tidak tersedia maka akan terus anaerobik.

-Mikroerofilik : mikroba yang lebih dapat tumbuh dengan kadar oksigen lebih rendah daripada yang di atmosfer.

7. Faktor-faktor kimia

8. Radiasi
Fase pertumbuhan bakteri adalah :

-  Fase lambat : fase adaptasi mikroba dengan media.

- Fase log : setelah beradaptasi, sel-sel akan tumbuh dan membelah diri secara eksponensial.

- Fase tetap : dimana mikroba tidak lagi tumbuh. Hal ini terjadi karena zat gizi yang ada telah habis atau penimbunan zat racun sebagai hasil akhir.

- Fase menurun : sel-sel yang berada pada fase tetap akhirnya mati bila tiodak dipindahkan ke media lainnya.

Mikroba terdiri dari :

1. Bakteri : mikroorganisme bersel satu, prokariotik yang paling sederhana. Hidup bebas dan terdapat di mana-mana.

2. Jamur : organisme eukariotik yang merupakan organisme pengurai. Ia tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat dikatakan sebagai tumbuhan. Jamur ada yang uniseluler dan ada yang multiseluler.

3. Khamir : bagian dari fungi (Jamur) yang tersusun dari satu sel atau uni seluler.

4. Kapang : bagian dari fungi yang tersusun atas banyak sel (multiseluler), miseliumnya berwarna-warni sehingga mudah dikenali.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Praktikum 1 (Kamis, 14 Januari 2010)

  • Pembiakkan Mikroba Tanah pada Media Apel dan Kentang

3.1.1 Tujuan

Mengetahui dan mengamati pertumbuhan mikroorganisme pada media apel dan kentang.

3.1.2 Alat  dan Bahan

Alat: 1. Pisau dapur                                    Bahan: 1. Kentang

2. Spatula besi                                               2. Apel

3. Bunsen                                                      3. Tanah sawah

4. Nampan                                                    4. Tanah lapangan

5. Kertas label dan alat tulis                           5. Tanah sampah

6. mamaLime

7. kapas steril

8. aluminium foil

3.1.3 Cara kerja

  1. Mencuci apel dan kentang sampai bersih kemudian merendam apel dan kentang dengan mamaLime selama ± 3 menit, lalu dicuci kembali setelah itu dikeringkan (angin-angin).
  2. Mencuci pisau dan spatula sampai bersih lalu mengeringkannya.
  3. Memanaskan pisau dengan bunsen dan membiarkannya hingga dingin, kemudian melubangi apel dan kentang. Meletakkan 2 spatula tanah di dalamnya kemudian menutupnya dengan kapas steril pada permukaan tanah tersebut.
  4. Membungkus apel dan kentang dengan aluminium foil pada seluruh permukaannya dengan rapi.
  5. Setiap selesai melubangi satu buah apel/kentang, pisau dicuci bersih dan dipanaskan (seperti cara kerja di atas).
  6. Memberi label keterangan pada apel dan kentang lalu meletakkannya di atas nampan dan membiarkannya selama ± 1 minggu.
  7. Melakukan pengamatan setelah 1 minggu. Mengamati dan mencatat perubahan yang terjadi pada buah.

3.1.4 Hasil Pengamatan

Tabel Pembiakkan mikroba Tanah

Media Sumber Mikroba Keterangan
Tanah 1). Warna kentang tidak berubah, tidak berbau, kering, tidak ada mikroba
Lapangan 2). Tidak ada perubahan warna, tidak bau, kering tidak ada mikroba
Kentang Tanah 1). Warna kentang kehitaman, berair, bau, kentang menjadi lembek
Sampah 2). Warna kentang kehitaman, berair, berbau busuk,lembek, warna tanah menjadi hitam.
Tanah 1). Tidak ada perubahan warna, tidak berair (kering), keras, tidak bau.
Sawah 2). Tidak ada perubahan warna, tidak berair (kering), keras, tidak bau.
Tanah 1).Warna apel berubah coklat, busuk, lembek, lembab, tidak bau, tanah kering.
Lapangan 2).Warna apel berubah (hijau-coklat), busuk, lembek, lembab, tidak bau, tanah kering.
Apel Tanah 1).Warna apel coklat muda dan kehitaman dibagian dekat tanah, basah (berair), bau sampah, busuk, lembek.
Sampah 2).Warna apel coklat kehitaman, basah (berair), bau sampah, busuk, lembek.
Tanah 1).Warna apel coklat muda, busuk, berair, lembek, bau busuk buah, warna tanah keabu-abuan.
sawah 2).Warna apel coklat muda, sangat berair, bau busuk buah, lembek, warna tanah keabuan.

3.2 Praktikum 2 (Kamis, 14 Januari 2010)

  • Sterilisasi Alat

3.2.1 Tujuan

Mempelajari teknik/cara dari sterilisasi alat dan bahan.

3.2.2 Alat dan Bahan

Alat: 1. Cawan petri                                       Bahan: 1. mamaLime

2. Tabung reaksi                                               2. Tissue steril

3. Jarum ose dan spatula kaca                           3. Kertas sampul

4. Erlenmeyer                                                   4. Karet gelang

5. Autoclave                                                     5. Nampan/baki

3.2.3 Cara Kerja

  1. Mencuci bersih cawan petri, tabung reaksi, jarum ose dan kaca, serta Erlenmeyer dengan mamaLime kemudian mengeringkan alat dengan tissue steril.
  2. Menutup alat-alat dengan kapas (untuk tabung reaksi dan erlenmeyer menutup bagian atas saja, cawan petri full, jarum ose full) kemudian membungkus alat dengan sampul coklat lalu diikat dengan karet dan memberi label. Menaruh di baki untuk sterilisasi.
  3. Melakukan sterilisasi dengan autoclave pada T=121 ºC, p= 1.5 atm, selama 15 menit (dihitung setelah autoclave pertama berbunyi).
  4. Mengambil dan menyimpan alat setelah jarum pada autoclave menunjukkan angka 0.

3.2.4 Hasil

Sterilisasi alat tidak terdapat hasil.

3.3 Praktikum 3 (Kamis, 21 Januari 2010)

  • Pembuatan Media Tanam

3.3.1 Tujuan

Mempelajari dan mengetahui cara pembuatan media padat Potato Sucrose Agar (PSA).

3.3.2 Alat dan Bahan

Alat: 1. Pisau dapur                                          7. Erlenmeyer

2. Timbangan                                           8. Cawan petri

3. Panci                                                   9. Tabung reaksi

4. Kompor                                              10. Spatula besi

5. Kain saring                                          11. Gelas ukur

6. Autoclave                                            12. Bunsen

Bahan: 1. Kentang

2. Aquades

3. Agar-agar

4. Sukrosa/gula

5. Aluminium foil

6. Kapas

3.3.3 Cara Kerja

  1. Merebus kentang (yang telah dikupas kulitnya, dicuci, dipotong dadu, dan ditimbang ± 200 gr) ke dalam ± 50 mL aquades dan diaduk-aduk selama 30 menit atau sampai airnya habis dan jangan sampai gosong lalu menghaluskan kentang.
  2. Menyaring ekstrak kentang menggunakan kain saring.
  3. Memasak 20 gr agar-agar dengan 500 mL aquades dan mengaduknya agar tidak menggumpal kemudian menyaring agar-agar dengan kain saring sebelum dingin.
  4. Menyampurkan agar-agar dengan ekstrak kentang lalu dididihkan kembali.
  5. Menambahkan sukrosa/gula setelah mendidih lalu mengaduk sampai rata dan menyaring kembali kemudian menuangkan bahan ke dalam Erlenmeyer.
  6. Membungkus mulut Erlenmeyer dengan aluminium foil dan ikat dengan karet dan membungkus seluruhnya dengan kertas sampul.
  7. Melakukan sterilisasi dengan autoclave (T= 121 ºC, p= 1.5 atm, selama 15 menit).
  8. Menuang media yang telah disterilisasi ke dalam cawan petri steril dan tabung reaksi steril (tegak dan miring) dengan cara mendekatkan pemanas Bunsen dengan alat (petri dan tabung) kemudian langsung menutup penutupnya  (untuk cawan petri) dan kapas (untuk tabung reaksi). Melakukan dengan cepat agar tidak terkontaminasi oleh mikroba lain dan membiarkan hingga dingin/beku.
  9. Untuk tabung reaksi media miring, meletakkan tabung reaksi secara miring setelah menuang media.

3.3.4 Hasil

Dari pembuatan media tanam tidak terdapat hasil.

3.4 Praktikum 4 (Kamis, 21 Januari 2010)

  • Penanaman Mikroba dari Media Kentang dan Apel

3.4.1 Tujuan

Mempelajari teknik / cara penanaman mikroba

3.4.2 Alat dan Bahan

Alat: 1. Jarum ose                                       Bahan: 1. Media PSA

2. Cawan petri                                               2. Kapas

3. Tabung reaksi                                            3. Kertas label dan alat tulis

4. Bunsen

3.4.3 Cara Kerja:

  1. Mengambil ose lalu memanaskannya pada bunsen hingga pijar, dan dingin. Kemudian menginokukasikan media PSA (hasil percobaan 3) dengan mikroba tanah yang terdapat pada media apel dan kentang (percobaan 1).
  2. Mengambil 1 ose (lurus) dan menggoreskannya (secara halus) dengan bentuk zig-zag pada media tanam (cawan petri dan agar miring), untuk media agar-agar tegak dengan cara menusuk media hingga mendekati dasar, lalu menariknya dengan perlahan, kemudian menutup alat dan memberi label.
  3. Menginkubasikan mikroba selama ± 4 hari pada suhu kamar (25 ºC).
  4. Mengamati setiap penampakan koloni yang tampak dan mencatatnya.

3.4.4 Hasil

Untuk hasil praktikum 4 sama dengan praktikum 5 (hasil  bisa dilihat pada praktikum 5).

3.5 Praktikum 5 (Senin, 25 Januari 2010)

  • Identifikasi Mikroba

3.5.1 Tujuan

Mengamati sifat pertumbuhan dan bentuk koloni mikroba pada berbagai macam media.

3.5.2 Alat  dan Bahan

Alat dan bahan: 1. Cawan petri

2. Tabung reaksi

3. Alat tulis

3.5.3 Cara Kerja

  1. Melakukan pengamatan setelah ± 4 hari setelah diinokulasikan.
  2. Mencatat dan mengamati tekstur (lender, serabut atau titik) dan warna.
  3. Membuat catatan dalam bentuk tabel identifikasi berdasarkan asal biakan mikroba.

3.5.4 Hasil

Tabel Identifikasi Mikroba Tanah

Media Sumber Mikroba Tekstur Warna Keterangan Jenis
C

A

W

A

N

Kentang

Sawah

-Berserabut

-Berlendir

-Berbintik

Putih -Berserabut tebal

-Lendir tidak banyak

-Bintik sedikit

-Beruap sedikit

-Sifat koloni: sirkuler, tepi rata

-tipe koloni: rata/efuse

Kapang

dan

Bakteri

P

E

T

R

I

Kentang Sampah -berserabut

-berlendir

-berbintik

Putih -berserabut sedikit

-lendir banyak, menyebar

-beruap sedikit

-sifat koloni: ireguler, tepi undulate

-tipe koloni: rata/efuse

Kapang

Dan

Bakteri

Kentang

Lapang

-berserabut

-berlendir

-tidak berbintik

Putih, hijau kehitaman -berserabut banyak, teratur

-lendir banyak

-beruap sedikit

-sifat koloni: -

-tipe koloni: -

Kapang
C

A

W

A

N

Apel

Sawah

-berserabut

-berlendir

-tidak berbintik

Putih

Dan

Hijau

-berserabut sangat banyak

-berlendir tebal

-beruap sedikit

Kapang

P

E

T

R

I

Apel

Sampah

-berserabut

-berlendir

-berbintik

Putih -berserabut sedikit, sangat tipis

-berlendir tebal

-beruap sedikit

-sifat koloni: sirkuler, tepi rata

-tipe koloni: rata/efuse

Kapang

Dan

Bakteri

Apel

Lapang

-berserabut

-berlendir

-tidak  berbintik

Putih

Hitam

-berserabut banyak, menyebar

-berlendir tipis, sedikit

-tidak beruap

Kapang
A

G

A

R

Kentang

Sampah

-berserabut

-berlendir

-berbintik

Putih -berserabut sedikit

-lendir banyak, tebal

-bintik sedikit

-tidak beruap

-piaraan: efus (tipis menyebar)

Kapang

Dan

Bakteri

Kentang

Sawah

-tidak berserabut

-berlendir

-berbintik

Putih -tidak berserabut

-berlendir sedikit

-berbintik banyak

-tidak beruap

-piaraan: menyebar (dari goresan smpai bbrp millimeter)

Bakteri
M

I

R

I

N

G

Kentang

Lapang

-berserabut

-berlendir

-berbintik

Putih -berserabut sedikit, tipis

-berlendir sedikit

-berbintik sedikit

-tidak beruap

-piaraan: beaded (seperti untaian permata)

Kapang

Dan

Bakteri

A

G

A

R

Apel

Lapang

-berserabut

-tidak  berlendir

-tidak berbintik

Putih -berserabut sangat sedikit

-tidak berlendir

-tidak beruap

Kapang
T

E

G

Apel

Sawah

-berserabut

-berlendir

-tidak berbintik

Putih -berserabut sangat sedikit

-berlendir tebal

-beruap sedikit

Kapang
A

K

Apel

Sampah

-berserabut

-tidak berlendir

-tidak berbintik

Putih -berserabut sedikit

-tak berlendir

-tak beruap

Kapang

BAB IV

KESIMPULAN

  • Pengamatan dalam mikrobiologi dapat dilakukan dengan teknik/cara tertentu yang mempunyai susunan/langkah-langkah:

-         Pembiakkan mikroba

-         Sterilisasi alat

-         Pembuatan media tanam

-         Penanaman mikroba

-         Identifikasi mikroba

  • Dalam pengidentifikasian bakteri terdapat berbagai macam sifat pertumbuhan koloni bakteri, baik itu koloni yang terdapat dalam cawan petri, agar miring maupun agar tegak.
  • Pada cawan petri, terdapat tipe dan sifat pertumbuhan bakteri yang dapat di identifikasi, yaitu:

-          Tipe koloni bakteri (elevasi, sifat tepi, permukaan dan bentuk)

-          Sifat koloni bakteri (struktur permukaan, bentuk dan tepi)

  • Pada piaraan agar miring, terdapat pertumbuhan bakteri dengan beberapa tipe: bentuk fili, ekhinulata, beaded, menyebar, plumose, arboresen, dan rizoid.

Dari hasil pengamatan didapat beberapa bentuk piaraan seperti: efus, menyebar dan beaded.

  • Pada piaraan agar tegak, terdapat pertumbuhan bakteri dengan beberapa tipe; bentuk fili, ekhinulata, rizoid, arboresen.

DAFTAR PUSTAKA

Suriawiria, Unus. 1986. Buku Materi Pokok Mikrobiologi modul 1-9. Jakarta: Karunika.

http://candyman21.blogspot.com/2009/01/media-agar-dan-penanaman-mikroba.html

http://egamarjuki.wordpress.com/2007/06/08/visualisasi-bakteri/

http://n4zer.wordpress.com/mikrobiologi

http://www.e-dukasi.net

http://ekmon-saurus.blogspot.com

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.