Myaluzz's Blog

Just another WordPress.com weblog

burung hantu “serak jawa” Juni 30, 2010

Filed under: sains — mya @ 10:16 am

BAB II

KERANGKA TEORI

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Burung Hantu

Burung hantu dalam bahasa inggrisnya disebut owl adalah kelompok burung yang merupakan anggota ordo Strigiformes. Burung ini termasuk golongan burung buas (karnivora, pemakan daging) dan merupakan hewan malam (nokturnal) yang berkaki dua. Seluruhnya, terdapat sekitar 222 spesies yang telah diketahui, yang menyebar di seluruh dunia kecuali Antartika, sebagian besar Greenland, dan beberapa pulau-pulau terpencil.

Burung hantu dikenal karena matanya besar dan menghadap ke depan mukanya rata seperti manusia, tak seperti umumnya jenis burung lain yang matanya menghadap ke samping. Penglihatannya sangat tajam sehingga burung hantu bisa melihat mangsanya dari jarak yang sangat jauh. Ini membantunya mencari makanan dalam kegelapan. Bersama paruh yang bengkok tajam mirip kait berguna untuk mengoyak daging seperti paruh elang dan susunan bulu di kepala yang membentuk lingkaran wajah, tampilan “wajah” burung hantu ini demikian mengesankan dan terkadang menyeramkan. Apalagi leher burung ini demikian lentur sehingga wajahnya dapat berputar 180 derajat ke belakang. Burung hantu jantan dan betina sekilas terlihat serupa, hanya burung hantu betina biasanya 25 persen lebih besar dari si jantan.

Umumnya burung hantu berbulu burik, kecoklatan atau abu-abu dengan bercak-bercak hitam dan putih. Dipadukan dengan perilakunya yang kerap mematung dan tidak banyak bergerak, menjadikan burung ini tidak mudah kelihatan; begitu pun ketika tidur di siang hari di bawah lindungan daun-daun. Burung hantu juga mempunyai bulu-bulu jambul yang lembut serta memiliki bulu-bulu sayap yang halus untuk membantunya terbang hampir tanpa suara dan bisa mengejutkan mangsanya. Seringkali mangsanya tidak bisa menghindar dari sergapan burung hantu. Ekor burung hantu umumnya pendek, namun sayapnya besar dan lebar. Rentang sayapnya mencapai sekitar tiga kali panjang tubuhnya.

Kebiasaan

Kebanyakan jenis burung hantu berburu di malam hari, meski sebagiannya berburu ketika hari remang-remang di waktu subuh dan sore (krepuskular) dan ada pula beberapa yang berburu di siang hari. Burung hantu berburu aneka binatang seperti serangga, kodok, tikus, dan lain-lain.

Sarang terutama dibuat di lubang-lubang pohon, atau di antara pelepah daun bangsa palem. Beberapa memanfaatkan ruang-ruang pada bangunan, seperti di bawah atap atau lubang-lubang yang kosong. Bergantung pada jenisnya, bertelur antara satu hingga empat butir, kebanyakan berwarna putih atau putih berbercak. Telurnya mempunyai cangkang yang keras dan dierami di dalam sarang yang diasuh oleh induk betina. Burung hantu sangat membatasi daerah teritorinya. Jika ada penyusup masuk, apalagi sampai ke tempat penyimpanan makanan, maka burung hantu bisa langsung membunuhnya.

Burung hantu tidak pernah membuat sarangnya sendiri. Mereka lebih sering memakai sarang yang sudah jadi, karena mereka malas membuatnya sendiri. Meskipun begitu, burung hantu tetap bertanggung jawab memberi makan anak-anaknya, dengan membawa pulang hasil perburuannya.

Keistimewaan

Salah satu indra terbaik pada burung adalah matanya. Burung dapat melihat benda di kejauhan lebih baik daripada manusia dan juga mempunyai sudut pandangan lebih luas. Dengan mengetahui apa-apa yang membahayakan di depannya, mereka secara tepat menentukan kecepatan dan arah terbangnya. Mata burung terkunci pada rongga matanya sehingga mereka tidak bisa menggerakkan bola matanya seperti manusia. Mereka dapat memperluas cakupan pandangannya dengan memutar kepala serta lehernya dengan cepat. Burung hantu mempunyai mata yang sangat lebar menghadap ke depan, sehingga memungkinkan mengukur jarak dengan tepat. Beberapa sel khusus di matanya sangat peka terhadap cahaya yang redup.  Paruh yang kuat dan tajam; kaki yang cekatan dan mampu mencengkeram dengan kuat; dan kemampuan terbang tanpa berisik Berkat keistimewaan ini burung hantu dapat melihat dan berburu dengan baik di malam hari.

Telinga burung hantu sangat peka terhadap suara. Mereka mempunyai pendengaran yang lebih baik daripada manusia. Ada semacam bulu-bulu seperti sikat pada dua sisi muka burung hantu yang menangkap gelombang suara dan meneruskannya ke dalam telinga. Bulu-bulu tersebut juga memisahkan satu telinga dari yang lainnya sehingga suara yang datang dari arah kanan akan lebih jelas terdengar pada telinga kanan. Terlebih lagi, posisi telinga di kepalanya tidaklah sejajar. Telinga yang satu lebih tinggi letaknya dari satu lainnya. Dengan demikian, burung hantu mampu menentukan arah suara yang datang dari berbagai penjuru. Karenanya, walaupun ia tidak melihat makhluk yang bersuara itu, ia dapat mengetahui letaknya secara tepat. Ini sangat menguntungkan sekali pada musim salju ketika mencari mangsa menjadi sangat sulit.

Ragam Jenis

Ordo Strigiformes terdiri dari dua suku (familia), yakni suku burung serak atau burung-hantu gudang (Tytonidae) dan suku burung hantu sejati (Strigidae). Banyak dari jenis-jenis burung hantu ini yang merupakan jenis endemik (menyebar terbatas di satu pulau atau satu region saja) di Indonesia, terutama dari marga Tyto, Otus, dan Ninox.

Tytonidae

Strigidae

2.1.2 Burung Hantu Serak Jawa ( Tyto alba )

Serak jawa berukuran besar (34cm), mudah dikenali sebagai burung hantu putih. Wajah berbentuk jantung, warna putih dengan tepi coklat. Mata menghadap kedepan, merupakan ciri yang mudah dikenali. Bulu lembut, berwarna tersamar, bagian atas berwarna kelabu terang dengan sejumlah garis gelap dan bercak pucat tersebar pada bulu. Ada tanda mengkilat pada sayap dan punggung. Bagian bawah berwarna putih dengan sedikit bercak hitam, atau tidak ada. Bulu pada kaki jarang-jarang. Kepala besar, kekar dan membulat. Iris mata berwana hitam. Paruh tajam, menghadap kebawah, warna keputihan. Kaki warna putih kekuningan sampai kecoklatan. Jantan-betina hampir sama dalam ukuran dan warna meski betina seringkali lebih besar 25%. Betina dan hewan muda umumnya punya bercak lebih rapat.

2.1.3 Klasifikasi Burung Hantu Serak Jawa

Kerajaan          : Animalia

Filum               : Chordata

Sub Filum        : Vertebrata

Kelas               : Aves

Ordo                : Strigiformes

Famili              : Tytonidae

Sub Famili       : Tytoninae

Genus              : Tyto

Spesies            : Tyto alba

Burung hantu tersebar hampir di seluruh bagian dunia. Di Indonesia sendiri, selain T.alba yang berasal dari Famili Tytonidae, juga terdapat beberapa genus dari Famili Strigidae, seperti:Otus,Bubo, danNinox

Walaupun telah dikenal jauh sebelumnya, T. alba baru dideskripsikan secara resmi pada tahun 1769 oleh seorang naturalis berkebangsaan Italia bernama Giovanni Scopoli. Nama spesies alba dipilih berdasarkan warna bulu badannya yang putih. Nama lain dari T.alba antara lain adalah: burung hantu muka monyet, burung hantu kerdil, burung hantu emas, burung hantu perak, burung hantu malam, burung hantu tikus, burung hantu pemekik, burung hantu jerami dan burung hantu cantik.

2.1.4 Morfologi, Anatomi dan Fisiologi

2.1.4.1 Morfologi ( Ciri Umum )

Badan bagian atas berwarna abu-abu terang dengan garis-garis gelap dan bintik-bintik pucat yang tersebar pada bulu-bulunya. Pada sayap dan punggung terdapat bintik-bintik lusuh. Badan bagian bawah berwarna putih dengan beberapa bintik-bintik hitam (terkadang tidak ada). Bulu-bulu pada kaki bagian bawah biasanya jarang (tipis). Bentuk muka menyerupai jantung berwarna putih dengan tepi berwarna kecoklatan dan pada tepi lingkar mata terdapat bintik- bintik berwarna coklat. Iris mata berwarna hitam. Kaki berwarna putih kekuning-kuningan sampai kecoklatan Ukuran tubuh jantan dan betina biasanya hampir serupa. Betina dan anakan lebih banyak memiliki bintik-bintik gelap.

- Ukuran tubuh

Ukuran tubuh antara jantan dan betina hampir serupa, namun demikian biasanya betina memiliki ukuran tubuh sedikit lebih besar daripada jantan.

Ukuran tubuh betina:                                      Ukuran tubuh jantan:

- Panjang badan: 34 – 40 cm                           – Panjang badan: 32 – 38 cm

- Rentang sayap: ± 110 cm                             – Rentang sayap: ± 107 cm

- Berat badan: ± 570 gr                                   – Berat badan: ± 470 gr

2.1.4.2  Anatomi (Ciri khusus)

struktur bulu                            paruh burung                           kaki/cakar

a. Struktur Bulu

Burung Hantu memiliki sedikit bulu bawah, tapi punya kait pada bagian bulu kontur dekat dengan kulit. Kebanyakan bulu Burung Hantu memiliki desain khusus. Disekitar wajah terdapat bulu cakram wajah yang kaku (ruff), bulu mahkota, bulu penutup telinga, dan juga bulu sekitar paruh. Kaki memiliki tendril yang berbulu, yang berguna sebagai penutup, membantu burung bereaksi terhadap obyek yang ditangkap, misal mangsa.

Bristle pada burung hantu diyakini dapat membantu dalam mendeteksi posisi sarang tempat bertengger dan juga benda yang menghalangi. Fungsi bristle didukung oleh adanya getaran  dan tekanan reseptor dekat folikel bulu. (Sukiya, 2003). Bristle adalah bulu kecil dengan ceruk kaku dengan kait pada bagian
dasar atau tidak ada sama sekali. Bristle umumnya berada pada sekitar
dasar paruh, mata, dan kelopak.

Adaptasi paling unik dari bulu Burung Hantu adalah ujung bulu primer sayap, yang seperti sisir. Pada kondisi penerbangan normal, udara bergejolak dipermukaan sayap, menciptakan turbulensi, dan menimbulkan suara. Dengan model sayapnya, ujung bulu sayap bentuk sisir, mematahkan turbulensi menjadi mikroturbulen. Hal ini efektif untuk meredam suara gejolak udara dipermukaan sayap dan memungkinkan burung untuk terbang tanpa suara.

b. Karakter Warna dan Pola Bulu

Secara umum, pola dan warna kriptik Burung Hantu memungkinkan untuk menyatu dengan keadaaan sekitarnya, untuk bersembunyi dari potensi bahaya. Hal ini khususnya penting bagi burung nokturnal, karena mereka perlu tetap bersembunyi saat bertengger di siang hari.

Saat terancam, seekor burung seringkali menunjukkan pose melindungi, dengan mata tertutup, bulu telinga terangkat, dan bulu yang merapat. Bulu telinga tidak ada kaitannya dengan pendengaran, hanya berupa bulu tampilan saja, digunakan untuk menunjukkan suasan hati, seperti takut, marah dan terkejut. Ini juga membantu berkamuflase.

c. Paruh

T.alba memiliki paruh yang besar dan berbentuk melengkung dengan ujung yang runcing dan tajam. Paruh yang kokoh seperti ini berfungsi untuk membunuh mangsa, membawa mangsa pada saat terbang, dan merobek-robek tubuh mangsa sebelum ditelan atau disuapkan kepada anakannya. Paruh tertutupi bulu, sehingga terkadang terlihat kecil. Pada saat dibuka untuk menelan mangsa, paruh akan terlihat sangat besar, cukup untuk menelan seekor mamalia kecil secara langsung.

d. Alat Gerak (Kaki dan jari)

T. alba memiliki kaki-kaki yang panjang dan besar serta dilengkapi dengan empat jari dan kuku yang kokoh. Keadaan ini membuat T.alba memiliki kemampuan yang baik dalam mencengkeram mangsa. Kokohnya cengkeraman cukup untuk membuat mangsa tidak berdaya (bahkan mati) pada saat ditangkap. Susunan jari-jari saat terbang biasanya adalah tiga mengarah ke depan dan satu ke belakang. Susunan ini sewaktu- waktu dapat diubah di mana tiga jari diarahkan ke belakang dan satu ke depan, dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan dalam menangkap mangsa. Saat hinggap, atau mencengkeram mangsa, bagian ujung jari tiap kaki akan melengkung kearah samping. Saat menyerang mangsa, cakarnya direntangkan lebar untuk memperbesar peluang keberhasilan serangan. Bagian bawah kaki ditutupi oleh permukaan kasar yang membantu menahan mangsa atau bertengger. Tyto alba juga memiliki gurat-gurat dibagian bawah jari tengah untuk membantu menahan mangsa dan juga untuk grooming.
Pada beberapa jenis Burung Hantu, diketahui bahwa kaki ikut membantu menjaga suhu tubuh. Kelebihan suhu tubuh dipancarkan melalui dasar kaki, yang memiliki pembuluh darah ekstra.

2.1.4.3 Fisiologi (Ciri Khusus)

Terbang dan memangsa                           bulu telinga                              memutar 1800

a. Kemampuan terbang

Strategi perburuan dari T. alba sangat berbeda dengan jenis-jenis burung predator yang lain. Burung-burung predator lain, mengandalkan kecepatan dan kejutan untuk mendatangi dan menangkap mangsa. Dalam perburuan mangsa, T. alba sangat bergantung pada cara terbangnya yang tanpa suara dan pada pendengarannya yang sangat tajam. Suara yang timbul akibat pergerakan sayap, diredam oleh semacam lapisan yang tampak seperti beludru pada permukaan bulu-bulu sayapnya. Selain itu, tepi sayap T. alba memiliki jumbai-jumbai yang sangat halus yang juga berfungsi untuk meredam bunyi kepakan sayap. Cara terbang yang tanpa suara ini menyebabkan mangsa tidak mampu mendengar pergerakan T. alba dan juga membantu pendengaran T. alba sendiri.

b. Indera penglihatan

Mata T. alba sangat peka sehingga dapat melihat pada kegelapan. Untuk mendeteksi lokasi mangsa, mata dan pendengaran T. alba bekerja bersama-sama dalam suatu harmoni yang serasi. Bola mata T. alba diketahui memiliki kedudukan tetap pada tempatnya, menghadap ke depan dan memberikan penglihatan yang bersifat binokuler dan stereoskopik. Kedudukan mata yang tetap memiliki kelemahan, terutama dalam hal mendeteksi lingkungan sekitar. Untuk menanggulangi hal ini, T. alba memiliki leher yang sangat fleksibel sehingga kepalanya dapat diputar 270 derajat dalam empat arah: ke arah kiri, kanan, atas dan bawah.

Mata T. alba memiliki adaptasi yang baik untuk melihat pada intensitas cahaya yang sangat rendah. Hal ini ditandai dengan ukuran pupil yang sangat besar dan retina yang tersusun dari sel-sel yang sangat sensitif, yang memberikan efek penglihatan monokromatik. Kemampuan melihat dalam gelap ini dikatakan sekitar 3 – 4 kali kemampuan manusia. Bola mata T. alba dilengkapi dengan lapisan membran penutup yang dapat dibuka dan ditutup. Gerakan buka-tutup dari membran tersebut berfungsi untuk membersihkan bola mata dari debu dan kotoran yang menempel pada permukaan mata.

c. Indera pendengaran

T. alba memiliki susunan letak lubang telinga yang cukup unik, karena tidak simetris dimana letak pada kepala antara satu dengan yang lainnya tidak sama tinggi dan dengan sudut yang berbeda pula. Lubang-lubang telinga tersebut diselubungi oleh suatu lapisan fleksibel yang tersusun dari bulu-bulu pendek seperti bulu-bulu yang menyelimuti lingkar mukanya. Lapisan tersebut berfungsi sebagai keping pemantul (reflektor) suara. Kelengkapan pendengaran seperti itu membuat T. alba memiliki pendengaran yang peka dan bersifat mengarah (direksional) terhadap sumber bunyi, sehingga T. alba mampu mendeteksi lokasi mangsa (dalam arah dan jarak) secara tepat walau dalam keadaan gelap gulita sekalipun.

Pada T.alba columella di bagian tengah telinga, berfungsi mengirimkan getaran dari membrane tympani ke bagian telinga dalam, koklea ada meskipun tidak berbentuk spiral sempurna (Sukiya, 2003).

d. Perilaku makan

T. alba memiliki kebiasaan makan yang unik. Tergantung ukuran mangsa yang tertangkap, T. alba dapat menelan utuh mangsanya atau membaginya dalam ukuran yang lebih kecil sebelum ditelan. Daging dan bagian yang lunak dari tubuh mangsa akan dicerna, sementara bulu-bulu dan tulang belulang tidak dicerna dan kemudian secara berkala dimuntahkan kembali dalam bentuk pellet.

2.1.5 Reproduksi

Beberapa peneliti menyatakan bahwa Tyto alba dapat bersifat poligami. Dijumpai seekor jantan dapat memiliki lebih dari satu pasangan, dengan jarak antar sarang kurang dari 100 meter. Selama percumbuan, jantan berputar sekitar pohon dekat sarang, sambil menyuarakan deritan dan koaran. Kebanyakan Tyto alba bersarang di lubang pohon sampai ketinggian 20 meter. Mereka juga dapat bersarang pada bangunan tua, gua, dan ceruk sumur.

Burung hantu dapat berkembang biak sepanjang tahun, tergantung kecukupan suplai makanan. Jika kondisi lingkungan memungkinkan, sepasang T.alba dapat berbiak dua kali dalam setahun. Pada daerah temperata dan sub Artik, perkembangbiakan (perkawinan dan peletakan telur) terjadi pada musim semi. Populasi tikus yang tinggi di suatu daerah dapat memacu perkembangbiakan populasi T. alba secara dramatis.

Dalam satu musim kawin individu betina T. alba dapat menghasilkan telur sebanyak 3– 6 butir (terkadang dapat mencapai 12 butir) dalam interval 2 hari. Telur berwarna putih dan

berbentuk bulat oval. Panjang telur 38 – 46 mm dengan lebar 30 – 35 mm. Telur dierami segera setelah telur pertama diletakkan dengan lama pengeraman 30 – 34 hari. Karena peletakan telur berlangsung dalam interval beberapa hari, maka penetasannya pun tidak bersamaan. Hal ini menyebabkan terjadinya gradasi ukuran tubuh anakan yang baru menetas. Anakan dengan ukuran tubuh terbesar biasanya memperoleh suplai makanan yang lebih banyak dari induknya. Akibatnya, jarang sekali ditemukan seluruh anakan yang menetas dalam satu sarang pada periode yang sama akan bertahan hidup, kecuali sumber makanan di sekitar sarang sangat banyak. Umumnya, anakan yang paling kecil (yang menetas terakhir) akan mati atau bahkan dibunuh oleh anakan yang lebih besar (lebih tua). Kelihatannya, hal ini merupakan strategi bertahan hidup yang ganjil, namun justru menjamin kelangsungan hidup suatu keluarga T. alba secara keseluruhan. Apapun kondisi ketersediaan makan yang ada di sekitar sarang, beberapa anakan akan bertahan hidup dan menghasilkan keturunan di masa yang akan datang. Jika semua anakan diberi jumlah makanan yang sama, resiko kematian anakan akan semakin besar terutama pada masa paceklik makanan.

Anakan T. alba berbulu putih dan diasuh oleh induknya selama sekitar 2 minggu dan disapih setelah 50 – 55 hari. Setelah itu, anakan tetap berada di sarang induknya selama lebih kurang satu minggu untuk belajar berburu, kemudian menyebar di areal sekitar sarang induknya itu. T. alba muda dapat berbiak setelah berumur sekitar 10 bulan.

2.1.6 Sarang dan Teritorial

Pada sudut pandang yang sempit, Burung Hantu tidak membangun sarang seperti burung penyanyi. Mereka merupakan pemakai sarang oportunis, menggunakan sarang yang sudah ada atau mengambil alih sarang yang ditinggalkan burung lain. Burung Hantu umumnya bersifat teritorial, suatu kenyataan yang nampak pada saat musim berbiak. Mereka dengan sekuat tenaga mempertahankan sarang dan teritori makan yang sangat jelas, dari individu lain atau jenis burung lain, yang menjadi pesaing untuk sumberdaya yang sama. Jika burung bersifat menyebar, sifat teritorial berakhir sampai musim berbiak. Pada Tyto alba, sifat teritorialnya kurang begitu kuat. Apabila jumlah makanan berlimpah, maka dapat dijumpai adanya koloni sarang pada area yang sama.

2.1.7 Mekanisme Berburu dan Mangsa

Tyto alba merupakan spesialis dalam berburu mamalia tanah kecil, dan kebanyakan mangsanya berupa hewan pengerat kecil. T. alba mengkhususkan diri untuk memangsa mamalia kecil yang hidup di permukaan tanah. Makanan utama adalah hewan pengerat (rodentia) kecil. Di Australia, makanan pokok T. alba adalah mencit (Mus musculus), sedangkan di Amerika dan Eropa adalah tikus ladang, cecurut, mencit dan tikus rumah. Mangsa lain adalah kelinci, kelelawar, katak, kadal, beberapa jenis burung lain dan serangga. Jenis-jenis mangsa tersebut biasanya didapatkan pada areal terbuka, terutama pada padang rumput. Tyto alba berbiak secara cepat sebagai respon terhadap ledakan populasi tikus. T. alba seringkali terlihat bertengger pada tempat-tempat yang agak tinggi untuk mengintai mangsanya.

Pada dasarnya kebutuhan konsumsi sekitar 1/3 dari berat tubuh. Namun saat burung memelihara anak, konsumsinya akan berkurang karena harus berbagi dengan anak. Untuk burung berumur 2-4 minggu, rata-rata konsumsinya sekitar 2-4 ekor tikus per malam. Untuk umur 3-5 minggu, mengkonsumsi sekitar 5-10 ekor per malam. Di Amerika, sepasang induk dengan lima anak, dapat mengkonsumsi sekitar 3000 ekor hewan pengerat dalam satu musim berbiak.
Tyto alba dewasa berburu sesaat setelah senja, dan perburuan berikutnya sekitar 2 jam menjelang fajar. Namun jika mereka sedang membesarkan anak, mereka akan aktif berburu sepanjang malam. Sangat jarang sekali dijumpai Tyto alba berburu pada siang hari. Jika ada kejadian perburuan di siang hari, bisa diduga burung tersebut sedang mengalami kelaparan.

Burung Hantu dapat mengadaptasi kemampuan berburu bergantung pada tipe mangsa. Serangga dan burung kecil dapat disergap di udara, kadang setelah diusir dari tajuk pohon atau semak oleh Burung Hantu. Sekali tertangkap, mangsa kecil dibawa dengan paruh, atau segera dimakan. Mangsa besar dibawa dengan cakar.

Burung Hantu dapat menyimpan kelebihan makanan di suatu tempat saat kondisi mangsa melimpah. Tempat menyimpan dapat berupa sarang, lubang pohon, atau cabang batang.

Mangsa biasanya ditemukan dengan cara membagi pandangan atas dan bawah, terutama pada padang rumput terbuka. Tyto alba sangat mengandalkan terbang tanpa suara dan pendengaran yang sangat kuat untuk menemukan mangsa. Suara sayap Tyto alba teredam oleh tumpukan beludru pada permukaan bulunya. Sebagai tambahan, ujung bulu sayap memiliki sisir halus yang meredam suara kepakan sayap.

2.2 Perilaku Umum

  1. a. Suara


Suara yang sering dikeluarkan oleh T. alba adalah cicitan serak (parau). Panggilan kawin (cumbuan) dari individu jantan berupa cicitan yang melengking dan berulang-ulang. Pada saat kembali ke sarang, individu dewasa terkadang mengeluarkan suara parau seperti suara katak. Jika dikejutkan, T. alba mengeluarkan desisan, cicitan dan suara gemeretak keras yang dilakukan dengan cara menggerak-gerakkan lidahnya.

b. Membersihkan Tubuh

Semua burung secara rutin membersihkan bulunya (preening – grooming) untuk membersihkan dari debu, kotoran dan parasit. Burung Hantu menggunakan paruh dan cakarnya untuk melakukan hal ini. Kait bulu terbang memiliki kait-kait kecil yang saling mengunci, membuat bulu menjadi satu permukaan kontinyu. Kait kecil ini seringkali terlepas saat kondisi terbang. Burung menggunakan paruhnya untuk menyusun ulang kait yang terlepas dan mengembalikan bulu pada kondisi terbaik. Ada kelenjar kecil yang disebut uropygial, terletak didekat ekor, yang menghasilkan cairan berminyak. Kelenjar ini dirangsang oleh paruh, yang juga digunakan untuk mentansfer cairan ke bulu untuk dijadikan lapisan pelindung.

  1. c. Bahasa Tubuh

Burung Hantu mempunyai bahasa tubuh yang sangat ekspresif. Kebanyakan jenis akan memutar-mutar kepalanya jika penasaran dengan sesuatu. Hal ini merupakan bukti tentang kemampuan mereka dalam kemampuan memandang 3 dimensi. Saat kondisinya santai, bulu-bulunya menjadi kendur dan mengembang. Jika seekor burung menjadi gelisah, maka akan nampak lebih langsing, bulu-bulunya ditarik merapat ketubuh, dan yang mempunyai bulu telinga akan ditegakkan. Saat melindungi anak atau dirinya sendiri, burung ini akan menunjukkan pose menyerang atau bertahan, dengan bulu dikembangkan untuk memperbesar penampakan ukuran. Kepala direndahkan, dan sayap dibentangkan kearah bawah. Beberapa jenis menjadi agresif saat bersarang dan dapat menyerang manusia.

2. 3 Habitat dan Penyebaran

-  Habitat

Serak jawa (Tyto Alba) yang umum didapati di wilayah berpohon, sampai dengan ketinggian 1.600 m dpl. Di tepi hutan, perkebunan, pekarangan, hingga taman-taman di kota besar. Sering bertengger rendah di tajuk pohon atau perdu, berbunyi-bunyi dengan memilukan, atau bersahutan dengan pasangannya. Sewaktu-waktu terjun menyambar mangsanya di permukaan tanah atau vegetasi yang lebih rendah. Sering pula berburu bersama dengan anak-anaknya. Aktif pada malam hari. Namun demikian, terkadang aktif pada senja hari dan dini hari, bahkan sesekali bisa dijumpai sedang terbang pada siang hari. Pada siang hari, T.alba biasanya berdiam diri pada lubang-lubang pohon, gua, sumur, bangunan-bangunan tua atau pada tajuk pepohonan yang berdaun lebat.

Beberapa jenis, khususnya Tyto, mampu menempati tempat buatan manusia yang mirip dengan lubang pohon. Sarang Gagak dan burung pemangsa lain yang sudah ditinggalkan, juga merupakan tempat pilihan. Hanya sedikit atau tidak ada usaha sama sekali untuk memperbagus konstruksi pembuat sarang sebelumnya. Celah batuan juga digunakan oleh beberapa jenis burung.

- Distribusi populasi

T.alba merupakan jenis burung yang tersebar hampir di seluruh bagian dunia (kosmopolitan). Populasi burung ini dapat ditemukan di seluruh benua (kecuali Antartika), termasuk di seluruh wilayah Australia dan Tasmania. T. alba juga dapat ditemukan di sebagian besar wilayah Inggris Raya dan sebagian besar Eropa daratan, sebagian besar wilayah Asia Selatan, Tenggara dan Barat, sebagian besar benua Afrika dan sebagian besar wilayah Amerika Utara. Di Amerika Selatan, T. alba dapat ditemukan di daerah padang rumput dan di kepulauan Oceania, seperti kepulauan Galapagos.

2.4. Manfaat

burung hantu sangat membantu untuk membasmi tikus serta menjadi indikator kesehatan hutan.

pemangsa dan sangat membantu manusia dalam membasmi hama pengerat seperti tikus.

BAB III

KESIMPULAN

Burung hantu termasuk kelas aves yang dapat terbang dan mempunyai keunikan. Serak jawa (Tyto alba) adalah salah satu dari jenis burung hantu yang mudah dikenali sebagai burung hantu putih. Mata menghadap kedepan, Kepala besar, kekar dan membulat. Iris mata berwana hitam. Paruh tajam, menghadap kebawah, warna keputihan.

Tyto alba mempunyai ciri khusus berupa;

-          Kemampuan terbang, cara terbang tanpa suara menyebabkan mangsa tidak mampu mendengar pergerakan T. Alba.

-          Indera penglihatan, memiliki adaptasi yang baik untuk melihat pada intensitas cahaya yang sangat rendah.

-          Indera pendengaran, memiliki susunan letak lubang telinga yang tidak simetris diselubungi lapisan fleksibel yang tersusun dari bulu-bulu pendek yang berfungsi sebagai keping pemantul suara yang peka dan bersifat mengarah terhadap sumber bunyi, sehingga mampu mendeteksi lokasi mangsa (dalam arah dan jarak) secara tepat walau dalam keadaan gelap gulita sekalipun.

-          Paruh, memiliki paruh yang besar dan berbentuk melengkung dengan ujung yang runcing dan tajam berfungsi untuk membunuh mangsa, membawa mangsa pada saat terbang, dan merobek-robek tubuh mangsa.

-          Kaki dan jari, memiliki kaki-kaki yang panjang dan besar serta dilengkapi dengan empat jari dan kuku yang kokoh, memiliki kemampuan yang baik dalam mencengkeram mangsa.

Adapun manfaat dari burung hantu dapat dijadikan sebagai pembasmi hama tikus yang dapat membantu para petani.

DAFTAR PUSTAKA

Sukiya. 2003. Biologi Vertebrata.Universitas Negeri Yogyakarta : JICA

http://id.wikipedia.org/wiki/Burung_hantu

http://akarrumput21.blogspot.com/2010_03_14_archive.html

http://sainsilmualam.blogspot.com/2010/04/makalah-biologi.html

http://serakjawa.blogspot.com/

http://www.scribd.com/doc/19562139/BURUNG-HANTU

About these ads
 

9 Responses to “burung hantu “serak jawa””

  1. maria Says:

    nice..
    tambah pengetahuan. mumpung q lagi tertarik ma burung hantu..
    tapi bosen ma yang genus tyto, otus, ato strix. da saran gag? rasanya jarang ada ya genus yang laennya si indonesia.. T_T

    • mya Says:

      waahh itu menurut selera..
      tinggal plih mau yg mana..
      klo sya suka tyto alba..ya wlpun byk di indo,,
      dgn byk na itu qt bsa tau bgmn cara merawat n mnanganinya jka ada sswtu..
      soalnya byk yg memelihara,, jd bsa tanya-tanya…

  2. CandRa Says:

    Bagus ni pengetahuannya bg saya yg miara burung hantu, thank ya

  3. Herudono Says:

    saya perlu bantuan baru nemuin anak burung hantu yang jatuh dari sarang, bingung bagaimana menolongnya untuk memberi makan agar tetap hidup. Kelihatannya anak burungnya baru umur 3 harian

    • mya Says:

      coba anda cari di web,,,apa makanan yang baik untuk anak burung yang baru lahir, apagi itu brung hantu,,,beda makanan dengan brung berkicau…cari tau juga tentang makanan yang biasa dimakan oleh brung hantu saat masiih bayi,,,

  4. Nur kamilah Says:

    Thx iia..
    Nambah Ilmu Pengetahuan Alam jadinya..

  5. ..INTRUKSI.. :D
    hheheee
    saya nangkep burung hantu di kampus, kurang lebih saya cari tau secara browsing, saya kira tu celepuk merah, tetapi celepuk gunung jga memiliki bentuk fisik yang hampir sama (celepuk jawa),
    nah yg saya tnyakan, apa saat masih kecil bntuk sturktur fisik dri kedua burung itu bsa berubah saat telah dewasa?
    soalnya fisik burung ini seperti jalak yng memanjang gt, bermata hitam pekat, dan mulutnya sangat lebar.

    awalnya saya kira tu elang saat ternbang2 di dlm gedung, ternyata ghost bird alias owl hahhaa
    -mohon saran dan masukannya…

    • mya Says:

      wahh dapat peliharaan baru yaa… :)
      bentuk fisik dr awal kemungkinan bisa saja berubah ketika nanti beranjak dewasa,, namun bisa juga ttp seperti awal.. tergantung dari hewan itu sndri,,
      menurut saya jika ingin pasti itu burung hantu jenis apa,,coba datang ke penjual burung hantu,,barang kali si penjual bisa langsung memberi tau brung hantu jenis apakah itu.. sekaligus bisa tanya2 ttg pakan burung dan bgmna cara merawatnya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.